Skip to main content

Sabar dan Ihlas 2

Kadangkala kita terbawa oleh pola pikir dan keyakinan orang-orang turots yang selalu mengkaitkan sebuah kejadian dengan sesuatu, kadangpula kita skiptis dan bertolak belakang dengan teori-teori itu, lalu  berpikir secara realistis dan kekinian dengan segudang wawasan tehnologinya.



Aku dan ke tiga anakku berssma dengan habib umar

Namun kita lupa dibalik itu semua masih ada “teori” takdir yang barangkali memiliki sifat absolut gak bisa diganggu gugat. Siapapun orangnya dan se hebat apapun  kalau sudah digariskan dari sananya maka kun fayakun.

Memang di zaman tehnologi yang kian berkembang pesat sekarang ini, berat rasanya untuk mengikuti  keyakinan orang turots/dahulu. Bukan karena kita tidak menghargai sebuah maha karya mereka yang saya anggap didapatkan setelah melakukan riset/penelitian bertahun tahun terhadap satu kejadian dengan kejadian yang sama, lalu diyakininya. Tapi karena mereka dan kita hidup di zaman berbeda.

Salahsatu yang melatarbelakanginya adalah karena mindset kita sudah teradopsi oleh modernitas tanpa batas. Dimana realitas menjadi ujung tombak kebenaran, sementara keyakinan orang dulu dianggapnya sebagai teori yang gak relevan dengan saat ini.

Tapi entahlah, bagaimanapun juga saya orang yang hidup di zaman modern, tapi pada akhirnya saya tidak akan melupakan jasa-jasa orang terdahulu dan mengikuti apa kata orang dulu/turos, karena tanpa mereka kita tidak ada apa-apa. Masukan yang berharga adakah modal utama untuk melangkah ke fase selanjutnya.

Yah begitulah kehidupan yang saya rasakan saat ini, satu sama lain memiliki idiologi keyakinan beragam terhadapa apa yang terjadi pada keluarga saya. Tapi saya bersyukur andai saja bukan karena beragam asal usul cerita itu maka saya tidak akan mengetahuinya. Sehingga tidak bisa mengambil hikmah yang berharga terhadap kejadian sekarang.

Saya harus bersabar dan ikhtiyar terhadap kejadian ini, tentu saja intropeksi diri dengan mengambil penafsiran yang beragam itu. Bisa jadi penafisran tersebut benar adanya. Walau hanya Allah yang maha tahu, tapi akan saya jadikan sebagai sikap kehati-hatian dalam melangkah.

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.