Skip to main content

Selamat Menikah

Kalau tak salah hari ini kawan saya dari Gresik Jih Imam Wahyuddin begitu saya menyapanya melangsungkan pernikahan yang pertama kali dan mudah-mudahan juga terakhir hingga akhir hayat. Sedih rasanya tidak bisa ikut serta acara akbar itu. Karena minggu lalu saya sempat menyanggupi bisa hadir disana ketika dia mengabari saya soal ini dan berusaha ikut andil atas kebahagian mereka berdua. Tapi takdir mencatat lain bahwa hari ini saya belum bisa bersilaturrahmi.

Mengenal jih Imam maka tak bisa saya lepaskan dari intelektualitasnya. Sejak dulu ketika sama-sama masih di pesantren bakat menulis serta kemampuan membaca yang tekun telah menginspirasi saya untuk membaca dan berdiskusi.  Idiologi ini terus terbawa hingga akhirnya sama-sama melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Walaupun pada akhirnya di sana beda jalan. Tapi semangat itu sebenarnya masih menyatu yaitu soal keakraban, kebersamaan dan saling memberi masukan. Bahkan  ihram pun juga bersama-sama.


Ada satu hal pesan dia yang belum saya lupakan sampai sekarang “Jih kamu harus selesai, dan pulang kampung tahun ini”. Testimoni ini disampaikan ketika berada di Madinah sebelum berpisah meninggalkan tanah haramain.

Dari kebersamaan itu hanya satu yang terlewatkan dan tidak kompak, soal nikah. Jih Imam menurut saya sedikit terlambat dari kawan-kawan lain yang sudah mendahului bertahun-tahun termasuk saya hingga memiliki karya momongan masing-masing. Walaupun sebenarnya kata terlambat bukan inti dari label nikah daripada tidak sama sekali. Intinya sebenarnya kenikmatan. Bedanya Jih Imam baru dan akan menikmati “rasanya”, sementara kawan lain termasuk saya sudah menikmati “rasanya” berkali-kali. Mungkin saja Jih Imam nanti malam atau lusa dalam lubuk hantinya akan merasa menyesal “kenapa kok tidak sejak dulu..!”.

Selamat menikah jih..semoga barakah dan manfaat. Amien





Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.