Skip to main content

Petani dan Penyakit

Musim hujan seperti sekarang ini banyak penyakit. Tak pandang usia musibah itu menimpa dan siapapun orangnya. Dan bicara masalah penyakit mestinya juga tidak harus menunggu datangnya musim hujan, musim kemaraupun penyakit juga bergentayangan.

Cuman antara penyakit sungguhan dengan penyakiten bukan lagi persoalan apakah sakit hati atau sakitnya tuh disini. Kebanyakan pada musim itu didominasi oleh sakit Kanker ganas alias kantong kering. Inilah mengapa penyakit itu kerap terjadi secara berjamaah yang mengakibatkan sebagian orang harus pergi ke dokter bank untuk mengobati supaya kanker cepat teratasi.

Nah musim hujan berbada, kalangan petani sedikit merasakan adanya nikmat. Pada musim ini mereka sudah mempersiapkan diri memetik hasil panen. Meskipun masih dihantui oleh iklim yang kadang kurang bersahabat. Di musim hujan juga banyak penyakit datang tanpa diundang. Demam berdarah, cikungan, flu dan pilek pada musim hujan seperti sekarang ini menjadi menu penyakit yang sudah merakyat. Istri saya minggu lalu juga tidak terlepas dari beberapa penyakit itu bahkan saya kategorikan sebagai pemborong penyakit.

Dimulai dari flu yang menimpa anak saya yang kecil kemudian merambat ke kakaknya lalu istri saya dan belum sembuh total istri saya tertimpa musibah cikungan. Lengkap sudah penderitaan sakit keluarga saya kemarin. Saya sendiri yang semula memposisikan diri sebagai keluarga yang tak bermasalah alias bebas indikasi sakit, ternyata ketularan flu dan demam.

Dan itu juga terjadi pada tetangga saya. Sederetan rumah di samping saya juga tersapu oleh gelombang nyamuk mematikan. Dari demam berdarah, cikungan semuanya rata-rata sudah merasakan pada musim hujan kali ini yang kemudian menjadikan daerah saya penderita demam berdarah terbesar dari kecamatan lain di Banyuwangi.

Padahal hasil panen tinggal menghitung hari, ada banyak harapan dari para petani menghasilkan nilai yang banyak dari sebelumnya atau paling tidak petani menghindari rugi. Namun dengan kondisi cuaca yang seperti ini yang serba fluktuatif mampukah petani bisa menghasilkan hasil garapannya yang sudah menunggu selama tiga bulan tercapai? Rasanya petani sudah mulai pesimis, melihat kondisi pertanian di desa saya banyak sawah yang belakangan kondisi padinya lunglai alias ambruk. Sehinga mengakibatkan para pemborong enggan untuk membeli padi dengan nominal besar. Belum lagi  biaya untuk berobat yang kebanyakan penduduk disini terserang demam berdara. Tentu nilainya akan kontras dengan hasil panen yang juga kurang memuaskan

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Petani

Setiap kali terjadi obrolan relatif ringan dengan masyarakat bulan lalu, pasti yang ditanya; mengapa musim hujan tak kunjung tiba. padahal ini bulan hujan. Pertanyaan ini menjadi harapan dari masyarakat sini yang mayoritas petani sawah yang butuh segera padinya digenangi air. Maklum hingga kemarin daerah saya memang jarang hujan. Itu berbeda dengan daerah tetangga yang saya lihat kerap hujan walau juga tidak sering dan relatif biasa-biasa saja.
Seretnya air ke depan pasti akan mempengaruhi tingkat kesuburan padi dan  juga hasilnya. Apalagi saya melihat banyak padi di sawah yang sudah mulai ambruk karena kekeringan, termasuk banyak padi yang mulai kopong karena kurang serapan air. Persoalan ini ke depan banyak petani yang gagal panen. Lantas penghasilanpun akan mempengaruhinya.

Saya juga mendengar ada diantaranya sedikit stress,  dan mengeluh. Mungkin ada banyak harapan tapi tak sesuai dengan kenyataan. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Saya kira masyarakat perlu merenungkan mengapa h…