Tuesday, March 24, 2015

Petani dan Penyakit

Musim hujan seperti sekarang ini banyak penyakit. Tak pandang usia musibah itu menimpa dan siapapun orangnya. Dan bicara masalah penyakit mestinya juga tidak harus menunggu datangnya musim hujan, musim kemaraupun penyakit juga bergentayangan.

Cuman antara penyakit sungguhan dengan penyakiten bukan lagi persoalan apakah sakit hati atau sakitnya tuh disini. Kebanyakan pada musim itu didominasi oleh sakit Kanker ganas alias kantong kering. Inilah mengapa penyakit itu kerap terjadi secara berjamaah yang mengakibatkan sebagian orang harus pergi ke dokter bank untuk mengobati supaya kanker cepat teratasi.

Nah musim hujan berbada, kalangan petani sedikit merasakan adanya nikmat. Pada musim ini mereka sudah mempersiapkan diri memetik hasil panen. Meskipun masih dihantui oleh iklim yang kadang kurang bersahabat. Di musim hujan juga banyak penyakit datang tanpa diundang. Demam berdarah, cikungan, flu dan pilek pada musim hujan seperti sekarang ini menjadi menu penyakit yang sudah merakyat. Istri saya minggu lalu juga tidak terlepas dari beberapa penyakit itu bahkan saya kategorikan sebagai pemborong penyakit.

Dimulai dari flu yang menimpa anak saya yang kecil kemudian merambat ke kakaknya lalu istri saya dan belum sembuh total istri saya tertimpa musibah cikungan. Lengkap sudah penderitaan sakit keluarga saya kemarin. Saya sendiri yang semula memposisikan diri sebagai keluarga yang tak bermasalah alias bebas indikasi sakit, ternyata ketularan flu dan demam.

Dan itu juga terjadi pada tetangga saya. Sederetan rumah di samping saya juga tersapu oleh gelombang nyamuk mematikan. Dari demam berdarah, cikungan semuanya rata-rata sudah merasakan pada musim hujan kali ini yang kemudian menjadikan daerah saya penderita demam berdarah terbesar dari kecamatan lain di Banyuwangi.

Padahal hasil panen tinggal menghitung hari, ada banyak harapan dari para petani menghasilkan nilai yang banyak dari sebelumnya atau paling tidak petani menghindari rugi. Namun dengan kondisi cuaca yang seperti ini yang serba fluktuatif mampukah petani bisa menghasilkan hasil garapannya yang sudah menunggu selama tiga bulan tercapai? Rasanya petani sudah mulai pesimis, melihat kondisi pertanian di desa saya banyak sawah yang belakangan kondisi padinya lunglai alias ambruk. Sehinga mengakibatkan para pemborong enggan untuk membeli padi dengan nominal besar. Belum lagi  biaya untuk berobat yang kebanyakan penduduk disini terserang demam berdara. Tentu nilainya akan kontras dengan hasil panen yang juga kurang memuaskan

Share:

0 comments:

Post a Comment