Wednesday, March 25, 2015

Semakin Rumit

Tahun lalu tetangga saya mungkin orang yang beruntung diantara yang belum. Dari sekian ribu orang yang sedang ngantre nunggu berangkat haji, tetangga saya itu baru daftar langsung sudah dapat panggilan berangkat. Beliau sendiri sedikit putus asa awalnya untuk mendaftar mendengar bahwa antrian haji sudah ngantri puluhan tahun. Sementara usianya hampir mendekati 70, mana mungkin bisa berangkat jika harus menunggu 17 tahun.

Tapi nasib berkata lain. Beliau harus berangkat tahun itu juga, padahal waktu pendaftaran deng an informasi berangkat hanya berjarak bulanan. Pembayaran haji mau tidak mau harus segera dilunasi sebelum kesempatan itu kabur begitu saja. Waktu tinggal beberapa bulan lagi sementara beliau sendiri mendaftar lewat jalur dana talangan bank. Berbagai usaha dilakukan untuk bisa melunasi dana haji yang waktu itu sekiat 40 an juta.

Dari upaya menjual sawahnya hingga menjual sapi yang kebetulan harga sapi waktu itu turun drastis. Mengandalkan sapi saja tidak cukup untuk biaya haji, sementara sawahnya juga belum laku-laku. Tapi Tuhan punya cara tersendiri kepada siapa saja yang dikendaki. Pak kakek itu tetap bisa haji walaupun biayanya dipinjami.

Dari persoalan ini kita bisa bayangkan bahwa sebenarnya orang tidak perlu risau untuk daftar haji karena faktor biaya maupun usia. Kalau Tuhan menghendaki dan meridhoi pasti siapa saja si miskin si tua renta bisa berangkat. Sebab kadangkala kita terlalu melampaui kehendak Tuhan. Sebenarnya simpel, yang terpenting sudah ada niat lalu usaha. Perkara kapan berangkat, biaya dari mana, Tuhan sudah punya cerita.

Saya sendiri juga sering berhadapan dengan orang yang putus asa. Tetangga sebelah saya juga demikian, sudah putus asa dan tak mau berusaha. Dia mengkalkulasikan haji dengan hitungan "porogapit" tidak menggunakan prediksi Tuhan yang penuh kejutan. Dia mengira mana mungkin bisa haji kalau sekarang daftar harus menunggu 20 tahun? "Usia saya sudah kepala lima, jika suruh nunggu 20 tahun lagi sudah tua renta atau malah sudah almarhum" Katanya dengan nada nelongso. "Saya mau umroh saja" menambahi percakapannya yang terkesan pasrah.

Padahal tahun lalu kita masih diberi kemudahan untuk menggunakan dana talangan yang dipinjemin sementara oleh bank. Bahkan jika tidak mampu melunasi satu tahun bisa diperpanjang lagi pada tahun berikutnya.

Dan waktu minggu lalu saya beserta pengurus haji ke salahsatu bank syariah penyedia jasa talangan haji bahwa tahun sekarang sudah tidak ada lagi dana talangan apalagi perpanjangan. Departemen agama sudah mengintruksikan untuk ditutup dana talangan. Hal ini melihat jumlah antrian calon haji sangat banyak hingga menunggu puluhan tahun. Informasi ini juga diperkuat oleh statemen kasi haji kabupaten bahwa dana talangan maupun perpanjangan di tiadakan.

Senior saya di kepengurusan haji waktu itu tercengang mendengar informasi dari kasi haji. Saya yang duduk di sebelahnya lalu bertanya "bagaimana dengan yang sudah haji? Apa juga semakin dikebiri?" Sambil berdiskusi nyantai di ruang kantornya beliau menjawab bahwa bagi yang sudah haji tidak bisa lagi atau ada kesempatan tapi derajat kesempatan ya di bawah calon cadanga haji. Jadi misal yang diprioritaskan yang belum haji, lalu ada beberapa cadangan dan di bawah cadangan inilah posisi kesempatan dari orang yang sudah haji.

Kebijakan ini tentu ada yang diuntungkan dan ada pula dirugikan. Bagi mereka yang sudah punya cukup bekal dan biaya berarti dengan adanya penghapusan dana talangan membuka kran dan kesempatan untuk tidak menunggu lama. Pada satu sisi juga menutup nyali orang yang hanya punya dana pas-pasan untuk daftar haji karena tidak ada lagi talangan. Dan yang terakhir bank-bank yang di bawah komando syariah akan sepi pasien talangan haji karena banyak kehilangan nasabah dari calon haji.

Tuesday, March 24, 2015

Petani dan Penyakit

Musim hujan seperti sekarang ini banyak penyakit. Tak pandang usia musibah itu menimpa dan siapapun orangnya. Dan bicara masalah penyakit mestinya juga tidak harus menunggu datangnya musim hujan, musim kemaraupun penyakit juga bergentayangan.

Cuman antara penyakit sungguhan dengan penyakiten bukan lagi persoalan apakah sakit hati atau sakitnya tuh disini. Kebanyakan pada musim itu didominasi oleh sakit Kanker ganas alias kantong kering. Inilah mengapa penyakit itu kerap terjadi secara berjamaah yang mengakibatkan sebagian orang harus pergi ke dokter bank untuk mengobati supaya kanker cepat teratasi.

Nah musim hujan berbada, kalangan petani sedikit merasakan adanya nikmat. Pada musim ini mereka sudah mempersiapkan diri memetik hasil panen. Meskipun masih dihantui oleh iklim yang kadang kurang bersahabat. Di musim hujan juga banyak penyakit datang tanpa diundang. Demam berdarah, cikungan, flu dan pilek pada musim hujan seperti sekarang ini menjadi menu penyakit yang sudah merakyat. Istri saya minggu lalu juga tidak terlepas dari beberapa penyakit itu bahkan saya kategorikan sebagai pemborong penyakit.

Dimulai dari flu yang menimpa anak saya yang kecil kemudian merambat ke kakaknya lalu istri saya dan belum sembuh total istri saya tertimpa musibah cikungan. Lengkap sudah penderitaan sakit keluarga saya kemarin. Saya sendiri yang semula memposisikan diri sebagai keluarga yang tak bermasalah alias bebas indikasi sakit, ternyata ketularan flu dan demam.

Dan itu juga terjadi pada tetangga saya. Sederetan rumah di samping saya juga tersapu oleh gelombang nyamuk mematikan. Dari demam berdarah, cikungan semuanya rata-rata sudah merasakan pada musim hujan kali ini yang kemudian menjadikan daerah saya penderita demam berdarah terbesar dari kecamatan lain di Banyuwangi.

Padahal hasil panen tinggal menghitung hari, ada banyak harapan dari para petani menghasilkan nilai yang banyak dari sebelumnya atau paling tidak petani menghindari rugi. Namun dengan kondisi cuaca yang seperti ini yang serba fluktuatif mampukah petani bisa menghasilkan hasil garapannya yang sudah menunggu selama tiga bulan tercapai? Rasanya petani sudah mulai pesimis, melihat kondisi pertanian di desa saya banyak sawah yang belakangan kondisi padinya lunglai alias ambruk. Sehinga mengakibatkan para pemborong enggan untuk membeli padi dengan nominal besar. Belum lagi  biaya untuk berobat yang kebanyakan penduduk disini terserang demam berdara. Tentu nilainya akan kontras dengan hasil panen yang juga kurang memuaskan

Tuesday, March 17, 2015

Duren Songgon 2

Kawasan pegunungan berapi memang menciptkan kondisi sekitarnya subur. Walaupun jika dibandingkan dengan keselamatan jiwa tidak ada artinya. Toh tetap saja orang kerasan tinggal di daerah sekitar pegunungan yang memungkinkan nyawa taruhannya. Situasi ini sekarang terjadi di sana. Gunung Raung belakangan mulai menunjukkan aktivitas membahayakan.

Beberapa suara dentuman yang bersumber dari gunung berapi itu setiap malam terdengar keras di kawasan Songgon. Walau belum merupakan kondisi membahayakan keselamatan, namun warga sudah siap apapun resikonya termasuk mengungsi jikalau nanti situasi yang tidak diingkan terjadi.

Situasi seperti inilah yang mengispirasi saya beranjak kesana. Ada duren, dan juga ada kesempatan untuk melihat gunung Raung "batuk". Tapi ternyata sesampainya di Songgon tidak terdengar suara-suara "batuk" atau keanehan yang selama ini warga rasakan. Justru saya disuguhkan pemandangan indah di sekitar desa itu, ada banyak pohon duren dan manggis yang sedang berbuah serta orang-orang sekitar yang sibuk berjualan di pinggir jalan.

inilah situasi penampakan buah durian korban daripada makanan manusia
Dan melihat seperti itu ingin rasanya segera sampai lokasi, siapa tahu saya bisa makan buah kesayangan saya itu hasil daripada petikan tangan saya sendiri. Ternyata apa yang saya bayangkan tak jadi kenyataan. Saudara saya tidak memiliki pohon buah duren di area rumahnya, tapi di tegalan yang jaraknya lumayan jauh. Tak apalah yang terpenting saat itu juga sudah bisa makan banyak duren hingga perut kram dan kepala ini pusing tujuh keliling.

Memang buah durian ini menurut orang "turost" momok yang ditakuti bagi mereka yang memiliki penyakit darah tinggi. Konon katanya gara-gara makan sedikit buah durian ada seorang yang meninggal karena penyakit darah tingginya kumat.

Bagi saya masih setia pada falsafahnya bapak Tedjo -mentrinya pak jokowi- yang katanya orang-orang gak jelas "pumpung masih muda". Ntar kalau sudah tua dan banyak penyakit tidak bisa lagi makan semaunya. Seketika itu pula dan tanpa tempo yang lama satu lusin buah durian bisa saya selesaikan dalam waktu singkat.
 
dua anak saya sangat menikmati mandi di sungai belakang rumah saudara yang airnya sangat bersih dan bening
Benar-benar terpuaskan, seperti makanya orang baru sembuh dari penyakit yang tidak hanya antusias makan, tapi sangat semangat, sampai mau lupa kalau kulitnya buah durian tidak bisa dimakan. Dan atraksi "lomba" banyak-banyakan makan durian ini tidak berhenti di rumah saudara saya saja. Di sebuah tempat yang berbeda, tepatnya rumah alumni santri, "lomba" makan durian terus tak bisa dibendung hanya dengan omelan dan peringatan istri maupun ibu. Bisa jadi perlu bukti akurat dan karena selesksi alam yang bisa mengenentikan laju saya makan buah durian.
selain buah durian saat ini songgon juga panen buah manggis
Akhirnya saya terseleksi oleh alam dan merasa sudah tidak sanggup untuk melahab suguhan buah ini. Perut saya sudah terasa sesuatu. Andaikata perut saya bisa bicara mungkin sambat dan minta tolong. Rekor makan buah durian saya terhenti di rumah alumni tersebut. Pun dengan anak-anak maupun istri sudah angkat tangan sejak lama.

Dan suatu saat nanti ketika perut dan perasaan pingin ngebet lagi makan buah durian, rasanya ingin ke Songgon lagi, menikmati banyak durian serta dukungan alam yang indah, sejuk dan dingin.



Monday, March 16, 2015

Duren Songgon

Tidak bisa dipungkiri saya mungkin sebagian orang yang terlalu over dosis dalam mengganyang buah duren. Entah dari mana asal muasalnya sejarah yang menyatakan saya terlalu kelewatan menyantap buah duren. Begitu mengidolakan, kadang istri saya mengingatkan sudah berapa buah yang saya makan? Walaupun jujur saja kalau masalah ini saya kurang begitu perhitungan berapa banyak atau sedikit yang saya makan. Yang penting kenyang, nikmat dan terpuaskan atau mengambil istilah bahasa orang gak jelas "pumpung masih muda" jadi arus kosentrasi untuk terus menyantap tak terbendung, gejolak penafsiran dokter akan timbul penyakit masih aman. Toh endingnya juga banyak.

"Pumpung masih muda" mungkin saja tidak hanya saya yang menggunakan falsafah ini terutama bagi mereka sebagai penikmat duren. Alasanya masih muda, pikiranya mungkin -termasuk saya- penyakit itu milik orang yang sudah uzur, sepuh yang barangkali sudah mau mendekati pensiun hidup. Padahal sekarang tidak perlu menunggu masa tua untuk berpenyakitan.

Ada banyak orang sekarang masih muda-muda sudah menggondol predikat penyakit tua. Kawan saya sudah tiga bulan lalu terserang penyakit stroke. Anak didik saya yang masih berumur sekitar tiga belas tahun kena darah tinggi. miris rasanya merlihat realita yang terjadi. Ini berarti penyakit sudah tidak bisa diajak kompromi. Penyakit bukan lagi milik orang tua tapi milik kita bersama.

jalan di songgon yang dipenuhi air hujan
"Pumpung masih muda" kalau kita lihat dengan mata hati, falsafah gak jelas itu tidak bisa dijadikan sumber refernsi terpercaya. Malah orang yang banyak penyakitnya di masa tua disebabkan tak mampu mengontrol saat muda. Tabungan pundi-pundi penyakit itu baru meledak ketika sudah tua.

Tapi mari kita tinggalkan sementara perdebatan masalah tua muda serta hubungannya dengan penyakit. Saya ingin mengabarkan bahwa kemarin hari Ahad saya dan keluarga ke Songgon, kawasan desa yang terkenal dengan buah duren. Sudah lama saya merindukan dan berkeinginan jalan-jalan ke sana sambil makan duren, dan alhamdulillah baru kesampaian kemarin.

Sepanjang perjalanan memasuki kawasan Songgon, mata saya tidak bisa diajak istirahat. Aura duren sudah begitu kuat. Banyak pedagan penjual duren yang merupakan penduduk sekitar berjejer di tepi jalan atau depan rumah. Seolah mereka sepakat hanya duren yang layak untuk diperjual belikan untuk saat ini
buah duren yang diikat
Pohon duren juga tidak kalah menariknya. Baru pertama kali ini saya bisa melihat pohon-pohon duren menjulang tinggi yang sedang berbuah diikat talii ravia. Mengapa buah duren harus diikat? Tentu saja supaya tidak jatuh ketika sudah matang, sehingga aman dari para pencari maupun pencuri.


Kawasan Songgon merupakan tanah yang subur untuk bertani, dimana terdapat banyak buah-buahan tumbuh berkembang dengan sehat disini. Ada duren, manggis dsb yang bisa menjadi penghasilan mereka. Dan semuanya ini saya kira memang tidak terlepas dari Gunung berapi Raung yang saat ini sedang "batuk" dan kurang bersahabat. 

Bersambung