Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Selamat Menikah

Kalau tak salah hari ini kawan saya dari Gresik Jih Imam Wahyuddin begitu saya menyapanya melangsungkan pernikahan yang pertama kali dan mudah-mudahan juga terakhir hingga akhir hayat. Sedih rasanya tidak bisa ikut serta acara akbar itu. Karena minggu lalu saya sempat menyanggupi bisa hadir disana ketika dia mengabari saya soal ini dan berusaha ikut andil atas kebahagian mereka berdua. Tapi takdir mencatat lain bahwa hari ini saya belum bisa bersilaturrahmi.
Mengenal jih Imam maka tak bisa saya lepaskan dari intelektualitasnya. Sejak dulu ketika sama-sama masih di pesantren bakat menulis serta kemampuan membaca yang tekun telah menginspirasi saya untuk membaca dan berdiskusi. Idiologi ini terus terbawa hingga akhirnya sama-sama melanjutkan pendidikan ke Mesir.
Walaupun pada akhirnya di sana beda jalan. Tapi semangat itu sebenarnya masih menyatu yaitu soal keakraban, kebersamaan dan saling memberi masukan. Bahkan ihram pun juga bersama-sama.

Ada satu hal pesan dia yang belum saya lupakan …

Dangdut dan Danang

Saya tidak begitu suka lagu dangdut. Bukan berarti nihil. Hanya penikmat musik apapun jenisnya. Yang terpenting sesuai dengan kondisi dan enak didengar. Itu saja. Selebihnya tergantung pasar, apa saat itu yang sedang lagi on, dan enak di telinga plus sesuai hati.
Berbicara masalah musik dangdut sekarang ini menurut saya  tidak bisa dilepaskan dengan hal-hal ngremix, goyang "ngebor" atau dangdut koplo. Jarang atau bahkan saya belum mendengar pelantun atau kreasi baru yang tercipta musik dangdut dengan irama melayu. Rata-rata pemusik dangdut sekarang mengkelaborasikan dari musik tempo dulu yang kemudian diarasemen ulang dengan aliran-aliran remix, ngebor atau dangdut koplo.
Toh kalaupun ada, dangdut sekarang lebih cenderung berirama koplo yang mengadung unsur dewasa yang tidak patut dikonsumsi oleh anak-anak. Ada banyak lagu dangdut sekarang menjual molekan tubuh, ketimbang kualitas lagu. Lirik lagu yang miris dan sensualitas. Dan masih banyak yang patut diawasi dari anak-an…

Semakin Rumit

Tahun lalu tetangga saya mungkin orang yang beruntung diantara yang belum. Dari sekian ribu orang yang sedang ngantre nunggu berangkat haji, tetangga saya itu baru daftar langsung sudah dapat panggilan berangkat. Beliau sendiri sedikit putus asa awalnya untuk mendaftar mendengar bahwa antrian haji sudah ngantri puluhan tahun. Sementara usianya hampir mendekati 70, mana mungkin bisa berangkat jika harus menunggu 17 tahun.Tapi nasib berkata lain. Beliau harus berangkat tahun itu juga, padahal waktu pendaftaran deng an informasi berangkat hanya berjarak bulanan. Pembayaran haji mau tidak mau harus segera dilunasi sebelum kesempatan itu kabur begitu saja. Waktu tinggal beberapa bulan lagi sementara beliau sendiri mendaftar lewat jalur dana talangan bank. Berbagai usaha dilakukan untuk bisa melunasi dana haji yang waktu itu sekiat 40 an juta.Dari upaya menjual sawahnya hingga menjual sapi yang kebetulan harga sapi waktu itu turun drastis. Mengandalkan sapi saja tidak cukup untuk biaya haji…

Petani dan Penyakit

Musim hujan seperti sekarang ini banyak penyakit. Tak pandang usia musibah itu menimpa dan siapapun orangnya. Dan bicara masalah penyakit mestinya juga tidak harus menunggu datangnya musim hujan, musim kemaraupun penyakit juga bergentayangan.Cuman antara penyakit sungguhan dengan penyakiten bukan lagi persoalan apakah sakit hati atau sakitnya tuh disini. Kebanyakan pada musim itu didominasi oleh sakit Kanker ganas alias kantong kering. Inilah mengapa penyakit itu kerap terjadi secara berjamaah yang mengakibatkan sebagian orang harus pergi ke dokter bank untuk mengobati supaya kanker cepat teratasi.Nah musim hujan berbada, kalangan petani sedikit merasakan adanya nikmat. Pada musim ini mereka sudah mempersiapkan diri memetik hasil panen. Meskipun masih dihantui oleh iklim yang kadang kurang bersahabat. Di musim hujan juga banyak penyakit datang tanpa diundang. Demam berdarah, cikungan, flu dan pilek pada musim hujan seperti sekarang ini menjadi menu penyakit yang sudah merakyat. Istri …

Duren Songgon 2

Kawasan pegunungan berapi memang menciptkan kondisi sekitarnya subur. Walaupun jika dibandingkan dengan keselamatan jiwa tidak ada artinya. Toh tetap saja orang kerasan tinggal di daerah sekitar pegunungan yang memungkinkan nyawa taruhannya. Situasi ini sekarang terjadi di sana. Gunung Raung belakangan mulai menunjukkan aktivitas membahayakan.
Beberapa suara dentuman yang bersumber dari gunung berapi itu setiap malam terdengar keras di kawasan Songgon. Walau belum merupakan kondisi membahayakan keselamatan, namun warga sudah siap apapun resikonya termasuk mengungsi jikalau nanti situasi yang tidak diingkan terjadi.
Situasi seperti inilah yang mengispirasi saya beranjak kesana. Ada duren, dan juga ada kesempatan untuk melihat gunung Raung "batuk". Tapi ternyata sesampainya di Songgon tidak terdengar suara-suara "batuk" atau keanehan yang selama ini warga rasakan. Justru saya disuguhkan pemandangan indah di sekitar desa itu, ada banyak pohon duren dan manggis yang sed…

Duren Songgon

Tidak bisa dipungkiri saya mungkin sebagian orang yang terlalu over dosis dalam mengganyang buah duren. Entah dari mana asal muasalnya sejarah yang menyatakan saya terlalu kelewatan menyantap buah duren. Begitu mengidolakan, kadang istri saya mengingatkan sudah berapa buah yang saya makan? Walaupun jujur saja kalau masalah ini saya kurang begitu perhitungan berapa banyak atau sedikit yang saya makan. Yang penting kenyang, nikmat dan terpuaskan atau mengambil istilah bahasa orang gak jelas "pumpung masih muda" jadi arus kosentrasi untuk terus menyantap tak terbendung, gejolak penafsiran dokter akan timbul penyakit masih aman. Toh endingnya juga banyak.
"Pumpung masih muda" mungkin saja tidak hanya saya yang menggunakan falsafah ini terutama bagi mereka sebagai penikmat duren. Alasanya masih muda, pikiranya mungkin -termasuk saya- penyakit itu milik orang yang sudah uzur, sepuh yang barangkali sudah mau mendekati pensiun hidup. Padahal sekarang tidak perlu menunggu ma…