Skip to main content

Sowan Yai Nawawi

Alhamdulilah bisa bersilaturrahmi di kediaman Kh Nawawi di Bantul Jawa Tengah. Kiyai sepuh tapi masih memiliki semangat juang luar biasa.

Di tengah usianya yang sudah memasuki 90-an, namun masih mampu menemui para tamu setiap hari. Masih mampu berkomunikasi dengan baik, walau tak se intensif pada umumnya. Konon di usianya yang sudah sepuh beliau masih tetap minta untuk di semak bacakan qur'an bersama istri beliau. Ini tentu saja komitmen beliau dalam menjaga hafalan. Termasuk masih menyempatkan waktunya bersama santri yang akan setoran.


Totalitas dalam mendidik dan berkarakter qur'ani yang beliau terapkan layak untuk kita teladani. Sebab di zaman abal-abalan seperti sekarang ini keistiqomahan para pemangku agama seolah bukan lagi menjadi prioritas. Dunia tarik ulur politik yang kerap melanda kiyai dan menjadi bahan komiditi utama sejatinya secara tidak langsung telah menodai kesucian dalam dunia pesantren.

Artinya kiyai yang sejatinya dituntut bersikap netral justru malah membingungkan umat. Sehingga yang terjadi sekarang di tengah pemangku agama berkamuflase soal politik yang menggelitik itu, timbul semacam ferifikasi kaitannya dengan fatwa dan ketaatan.

Dalam hal hukum agama, umat masih berusaha menjaga dan samikna wa'atokna dengan apa yang menjadi landasan kiyai. Namun soal kaitannya dengan politik seiring dengan munculnya demokasi yang keblabasan sekarang, umat tak lagi mengacu terhadap apa yang menjadi fatwa sang kiyai dalam arah politiknya.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.