Skip to main content

Benar dan Tidak

Kadang kita sendiri merasa benar. Padahal menurut orang lain tidak. Bagiku kebenaran hakiki milik Tuhan. Manusia hanya bisa meraba dan menduga. Kebenaran dan ketidak benaran adalah ikhtimal manusia yang belum sempurna.

Tuhan cukup bijak; "berusahalah" begitu petikan ayat Tuhan, setidaknya untuk mendekati kebenaran manusia diarahkan menggali kebenaran itu dengan cara berusaha. Namun kenyataanya tidak. Usaha itu hanya simbol dari manusia yang merasa merdeka. Sehingga sekarang ini marak di masyarakat rumus yang terbalik; benar jadi salah dan salah menjadi benar.
Aku kira masyarakat sekarang sudah mulai menghilangkan jejak akan kebenaran dari yang benar. Potensi otak/akal manusia mulai kurang difungsikan dengan baik. Sementara informasi instan menjadi primadona yang melejit tinggi. Ini mungkin juga karena perkembangan tekhnologi canggih macam handphone dll, yang tinggal mencet seketika informasi itu masuk, tanpa mencermati dan menggali pesan apa yang disampaikan.

Hidup di pedesan seperti saya ini butuh kesabaran yang tulus dan ikhlas menghadapi persoalan yang kadang membahagiakan dan kadang pula pelik. Tidak semua orang bisa menerima ide yang saya anggap benar. Demikian pun sebaliknya. Saya masih ingat pesan ayah saya satu jam sebelum wafat; "Le....dadi pemimpin ojo seneng mutungan".

Pesan itu telah memberi isyarat dan mengajari saya akan rasa sabar yang tulus dan ikhlas bagaimana meramu masyarakat tanpa rasa egosentris berlebihan. Apapun informasi akan kebenaran maupun ketidak kebenaran bukanlah posisi prioritas. Ada hal lain menanti di depan jauh lebih dibutuhkan. Yang terpenting kita bisa menampung aspirasi itu tanpa menghilangkan esensi dari kebenaran maupun ketidak benaran

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.