Skip to main content

Mespan

Apa yang saya saluti dari seorang bernama Mespan? Tampankah? Rapih, atau kecerdasannya? Semua orang barangkali tak ada yang memberikan nilai lebih dari mespan kecuali "awet enom". Begitu kira-kira pandangan orang-orang desa termasuk saya.

Tanpa mengurangi rasa takdir pada Tuhan yang maha esa, Mespan memang tak memiliki nilai lebih apapun kecuali ditakdirkan Tuhan menjadi manusia "awet enom". Meski dia termasuk golongan abnormal alias kategori "arek gendeng" sejak kecil, kecerian dan keinginannya sekolah terlihat jelas; kemana-mana membawa buku, pakaian sekolah yang gak ganti-ganti. Dan salutnya lagi dia saben hari ke sekolah walau hanya sekedar "mlaku-mlaku di depan kelas.


Pagi tadi Mespan masuk ke ruang saya, ini pertemuan pertama kali saya ngobrol sama dia. Bisa dibilang pertemuan orang waras dengan orang gak waras. Tak banyak yang dia bicarakan kecuali minta bantuan supaya menyobekan bungkus obat mumet.

Sejak dulu pula memang dia selalu sambat sakit kepala, pusing dan panas. Apakah ini benar atau hanya omongan orang yang tak waras, bisa jadi penyebab kegendengan dia barangkali bermula dari penyakit itu. Sebab bicaranya, gerakan tangannya yang seperti orang pelo dan getar mengindikasikan dia punya riwayat penyakit panas hebat waktu kecil.

Saya salut dengan ketahanan tubuhnya yang bisa bertahan hidup hingga sekarang. Berapa banyak macam-macam obat yang ia telan, tanpa resep doktor karena keluhan dia yang kalau ditanya sakit kepala pasti jawabnya ia dan mumet, padahal belum tentu ucapan Mespan itu benar-benar sakit kepala.

Bagi orang yang gak paham siapa Mespan pasti akan memberika obat sakit kepala dan suruh meminumnya, kalau begitu tentu saja akan mengancam organ tubuh yang lain. Bagi warga desa yang sudah mafhum siapa Mespan malah akan "mengguroinya".

Mungkin umurnya sudah 36 keatas, ia mestinya sudah beristri, punya anak dll, tapi meski dia gendeng wajahnya seperti masih berumur 20-an. Masya Allah Tuhan maha adil terhadap hambaNya.

Posted with XL for BlackBerry.

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.