Skip to main content

Musibah

Belum usai kisah pilu yang menimpa tetangga sebelah, kemarin gempa dengan kuatan 8,9 SR yang diikuti tsunami menggunjang wilayah Jepang. Nampaknya ini zaman semakin tak menentu dengan segudang amunisi yang tersembunyi. Musim tak bisa diterka semena-mena. Mana musim panas, mana musim hujan semuanya berubah menjadi satu titik kesimpulan “musim penghujan”.

Akhirnya rakyat jelata,  kaum buruh, masyarakat tani menjerit kesakitan karena “teramputasi” oleh kondisi alam yang serba nisbi. Adakah yang salah dengan kaum tani? Lalu dimanakah letak kebenaran kaum berdasi? Wakil rakyat yang duduk di sana-sini yang selalu dihomarti dan kadang suka belanja di tempat protisusi? Entahlah.



[caption id="attachment_853" align="aligncenter" width="432" caption="saudara melangsungkan tukar cincin"][/caption]

“Dunia ini barangkali sudang terbalik mas” Ceplos Mbah Man, warga Madiun yang mengembara lama disini. “Kok bisa mbah”? Sambil ngopi sebagai minuman kegemarannya, Mbah Man lalu menarik nafas, seolah ingin menjelaskan panjang lebar tentang situasi terkini yang terjadi di desa Persen. Matanya lalu menerawang tajam ke depan, laki-laki tua yang masih jomblo ini lalu membuka suara.

“Gak usah jauh-jauh, orang hamil di luar nikah saja di desa umbrukan/banyak. Dan itu sudah dianggap” bukanlah hal tabu lagi. Percerain juga gitu, seperti kawin lari. Mungkin ini mas penyebab banyak orang sekarang di adzab”.

Pudarnya tradisi lama juga mempengarui pada tatacara orang yang akan melangsungkan pernikahan. Dalam aspek ini orang juga menganggap meninggalkan sesuatu yang sudah diikat (ditali) dalam jelang pernikahan dengan mudahnya juga untuk dilepaskan kembali. Metode tradisi yang jauh dari zaman dulu.

Seperti yang terjadi di desa saya kemarin, ada tetangga yang melepaskan tunangannya gara-gara masalah teknis. Permasalahan ini dipicu oleh ketidaksiapan calon istri yang mengalami depresi karena uang yang sudah ditabung habis dimakan keluarganya dan baru kedeteksi uang tersebut menjelang satu bulan resepsi pernikahan. Padahal pihak si calon istri menurut sumber-sumber telah mengkonfirmasi awal ke tukang dekor, salon dll.

Melihat situasi yang demikian akut, plus depresi yang hebat dari pihak calon istri tentu saja membuat calon suami melepaskan ikatan pernikahan itu. Ini barangkali bagi calon suami adalah solusi tepat karena jika tidak, demi masa depan keluarga, kawin sama orang stress/depresi sama saja bunuh diri. Tapi pada sisi lain ini juga keteralaluan. Karena di saat calon istri butuh perhatian, motivasi dari calon suami atas musibah raibnya uang calon istri mestinya sang calon suami tidak serta merta melepaskan ikatan pertunangan yang sudah berlangsung tiga bulan tersebut. Kudu dipertimbangkan masak-masak dulu.

Ibaratnya bagi calon istri, sudah jatuh ketiban tangga. Sudah kehilangan uang, stress,  dilepaskan lagi ikatan pernikahan itu.

Yah memang repot zaman sekarang. Repot segalanya. Mengambil istilahnya Mbah Man, jadi orang tani itu serepot-repotnya manusia, hidup gak pernah untung. Kalau rugi sudah keseringan. Lho lantas enaknya jadi apa yah Mbah Man? Jadi Ogo-ogo aja

Inilah musibah zaman sekarang, tidak tsunami, gempa, akad pernikahan, orang tani, perceraian, semuanya berpotensi sama

Comments

  1. jadi kapan anda nulis pertunangan anda :D sekalian saya request fotonya juga :)) ...

    ReplyDelete
  2. tunggu tanggal waktunya :))

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.