Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2011

Nostalgia (Jember)

Orangnya kalem, jalannya tegak dan sedikit miring 45 derajat. Kalau bicara matanya menjadi sipit. Pakaiannya gak begitu rapi-rapi amat, kecuali memang dalam keadaan darurat, seperti acara resmi atau acara ketemu sang do’i. Tertawanya pun seperti pada umumnya manusia tertawa, lebar 90 cm.  Barangkali begitu gaya khas Ali Ibnu Anwar, seorang sahabat saya yang “sejak lahir” mengkalim dirinya berjiwa seni.

Ali Ibnu Anwar saat ini barangkali namanya mulai diperhitungkan dipentas sastrawan muda Indonesia, terlebih sejak bergabung dengan para sastrawan tersohor macam Jamal D Rahman, Taufiq Ismail dkk. Keterlibatannya dalam dunia sastra memang sudah nampak ketika dia mengenyam pendidikan di pesantren dulu. Bersama saya dalam membangun kajian, ketrengginasan Ali dalam menyusun kata-kata berbau sastra begitu menggeliat.

Nostalgia

Selang tiga bulan ke datangan saya ke tanah kelahiran, situasi politik di Kairo semakin memanas. Rumor bakal terjadi caos di ranah Kairo jelang pemilu 2011 sebetulnya sudah lama terdengar. Terlebih ketika ada isu Hosni Mubarak berencana ingin menyerahkan tonggak istafeta kepemimpinan Mesir ke putraya Gamal Mubarak.

Sejak tahun 2010, demokrasi di Kairo mulai nampak beringas dan berani. Aktivis demokrasi sudah blak-blakan mengkritik kebijakan presiden Mubarak yang terkenal otoriter itu melalui media blog dan dalam bentuk beberapa karangan buku. Bahkan tahun 2010 aktivis blogger yang juga pegiat demokrasi telah berhasil membuat surat kabar/tabloid anti pemerintahan yang terbit sekali dalam sepekan.

Musibah

Belum usai kisah pilu yang menimpa tetangga sebelah, kemarin gempa dengan kuatan 8,9 SR yang diikuti tsunami menggunjang wilayah Jepang. Nampaknya ini zaman semakin tak menentu dengan segudang amunisi yang tersembunyi. Musim tak bisa diterka semena-mena. Mana musim panas, mana musim hujan semuanya berubah menjadi satu titik kesimpulan “musim penghujan”.

Akhirnya rakyat jelata,  kaum buruh, masyarakat tani menjerit kesakitan karena “teramputasi” oleh kondisi alam yang serba nisbi. Adakah yang salah dengan kaum tani? Lalu dimanakah letak kebenaran kaum berdasi? Wakil rakyat yang duduk di sana-sini yang selalu dihomarti dan kadang suka belanja di tempat protisusi? Entahlah.