Skip to main content

Anak Kecil Bicara Cinta

Dalam perjalanan pulang ke Kairo Kamis lalu, seorang anak kecil berumur 10 tahun sedang asyik ngobrol sama Oyik. Saya tak begitu mengikuti obyek pembicaraan kedua orang beda umur itu kecuali saat dia meminta untuk di foto bersama Oyik. Sejak itu saya mencoba mengikuti alur pembicaraan keduanya.

Lalu saya sedikit terkejut ketika anak bawang ini berbicara soal cinta dan cinta. Membincangkan sebuah percintaan saya rasa bagi seumuran saya bukanlah soal. Justru sebuah pertanyaan besar ya kalau gak bicara soal cinta atau pun apa namanya. Kalau yang bicara seorang anak kecil seukuran dia? Ini hal luar biasa. Walau dalam lubuk hati, saya sedikit kuatir pembicaraan panjang anak kecil soal cinta itu termotifasi oleh romantika cerita-cerita percintaan dalam sebuah film atau drama, yang mana dia sendiri kurang begitu memahami definisinya.



[caption id="attachment_827" align="aligncenter" width="314" caption="sangat khusuk sekali"][/caption]

Tapi tak apalah, paham tidaknya dia yang jelas ada satu poin penting yang saya rasa perlu diapresiasikan yaitu kecerdasan dalam berkomunikasi sama orang asing. Saya sendiri kalau diadu sama anak ini belum tentu menang. Ini juga barangkali kelemahan saya, tak komunikatif kalau belum mengenal secara dekat atau butuh waktu yang lama.

Oyik sendiri juga kaget, anak kecil sudah berani minta ke dia untuk mengawininya. Inikah awal dari sebuah pubertas seorang anak perempuan? Barangkali demikian. Tidak perempuan maupun laki-laki saya kira punya hasrat sama ketika puberitas itu sudah bersemi. Anda tentu sudah merasakan bagaimana cinta bersemi meletup-letup saat masih smp dulu.

Tapi jawaban anak kecil itu soal umur yang menginjakkan usia ke-10, saya kurang yakin. Postur tubuhnya saja masih mungil, kemudian lekukan tubuhnya masih ramping semua. Pakaiannya pun seperti kanak-kanak. Tak ada yang tertutupi rapat dari badannya. Malah kakaknya yang terlihat lebih besar dan saya amini kalau sudah pubertas hanya diam duduk di belakangannya.

Sepanjangan perjalanan lewat kapal kemarin, anak kecil itu semakin mesra. Nampak seperti punya wawasan luas soal cinta. Tak henti-hentinya ngobrol sama Oyik. Dan Oyik merasa disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. "Gimana nih, anak ini suka sama saya dan minta dikawini" Kelakarnya. "Yah namanya anak kecil. Ladeni saja" Kata saya.

Saya yang berada disamping mereka berdua, hanya melototi anak kecil itu. Bukan karena saya juga merasa ikutan cinta, tapi merasa takjub, diplomasi yang dipakai anak keci itu begitu bagus. Bicaranya seolah-olah seperti anak dewasa.

Entahlah, mungkin era sekarang memang beda. Gak orang dewasa, anak kecil pun sudah tahu cinta dan perkawinan. Saya sendiri sebagai orang dulu merasa tertinggal sama anak kecil.

Comments

  1. saya sempat nggak percaya, anak umur 10 tahun bicara cinta dan minta dikawinin, beneran kaget saya. Banyak hal yang memacu pubertas dini. Selain faktor makanan, faktor media juga berpengaruh. Seperti yayangan televisi. Wah.... wah....wah..
    Sepertinya hal ini jadi PR bagi para ortu untuk menyeleksi tontonan untuk buah hatinya,,

    ReplyDelete
  2. trs kamu diminta kawin sama siapa gus ? :D :))

    ReplyDelete
  3. hmm...mungkin peran orangtua juga kurang ya.seharusnya orang tua lebih bisa mndampingi dan memahamkan segala sesuatu kpda anak,baik itu yg didengar atau dilihat anak agar tidak kecolongan.mungkin tidak selalu bisa 24 jam penuh,tapi setidaknya dioptimalkan agar mindset anak tidak menyimpang.Duh bahaya juga ya kalo kayak gini.umur baru 10 tahun udah kayak gitu.

    ReplyDelete
  4. Anonymous10:44 AM

    bagus nih postingannya.. :)

    ReplyDelete
  5. luPA nulis nama.. hihihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.