Skip to main content

Safaga

Di sinilah skenario awal cobaan itu bermula; saya tertahan dan terpaksa harus balik kandang gara-gara visa saya salah ketik. Kekeliruan  dari kedutaan Arab Saudi itu membuat rencana saya bersama kawan-kawan satu groups bisa dikatakan menjadi sedikit berantakan, dan saya harus memulai dari nol lagi untuk mempersiapkan segala sesuatu pada pemberangkatan gelombang ke dua nanti, seperti membekalan urusan perut dan tetek bengeknya di safinah yang memakan waktu dua hari perjalanan


Untung  masih ada gelombang kedua jika tidak ada atau katakanlah pemberangkatan saya pada gelombang kedua terjadi masalah, apa jadinya?. Konsekuensinya barangkali saya bisa berangkat tapi melalui pesawat, atau malah saya tidak bisa berangkat sama sekali karena terjadi perbedaan status antara saya dengan muhrim yang berketerangan safinah dan yang tak bisa dipungkiri lagi waktu itu jadwal pemberangkatan pesawat sudah amat padat sekali, jadi kemungkinan kecil saya dapat berangkat lewat pesawat.  Bagaimanapun tuhan telah membuat skenario buat saya untuk melatih kesabaran





[caption id="" align="aligncenter" width="320" caption="safaga"][/caption]

Sebelum pemberangkatan maut di gelombang pertama ini, persiapan saya sangat luar biasa terutama berkaitan dengan urusan perut. Saya dan Encien sudah sejak dini melakukan gerakan penanggulangan krisis perut dengan membuat lontong beserta lauk pauknya di Qatamiyah. Kita berharap waktu itu semoga bekal ini bisa menghidupi kawan-kawan satu groups yang jumlahnya kira-kira enam-tujuh orang, syukur jika yang lain juga mempersiapkan bekal sendiri atau hanya membawa makanan ringan jadi biar saling melengkapi


Tenyata Alhamdulillah rata-rata kawan kami dibekali pula makanan berat, jadi bukan hanya melengkapi seperti persepsi Encien sebelumnya tapi kelebihan stok makanan berat dan ringan. Tentu kita bahagia mendapat makanan yang begitu melimpah




[caption id="" align="alignright" width="320" caption="makan ringan"][/caption]

Di kawasan Safaga kita sampai jam delapan pagi dan beristirahat enam jam di asrama haji sana, hingga menunggu shalat jum'at selesai. Dinginnya kota Safaga tak membuat perut kami mengalami krisis kelaparan. Dengan hanya makan cemilan dan ditemani Shay Arusa dalam kurun waktu pagi hingga siang, perut rasanya sudah kenyang, jadi tak butuh makanan berat


Dengan begitu kita berencana makan (makanan berat) di Safinah saja. Sehabis sholat Jum'at bus membawa kami menuju darmaga Safaga yang jaraknya tak terlalu jauh. Waktu itu suasana masih sunyi, warga asing sepertinya masih mendominasi di kantor imigrasian yang terletak di kawasan darmaga Safaga. Di kantor imigrasian setiap orang yang hendak ke luar negeri diperiksa satu persatu. Petugas dengan teliti memeriksa passport, dan alhamdulilah passport saya baik-baik saja, tak ada masalah. Karena tak ada persoalan akhirnya passport saya dapat stempel dan saya kira urusan sudah selesai tingggal naik Safinah


Namun persoalan menjadi rancu saat saya hendak menuju/naik Safinah, ternyata di depan pintu kapal keamanan berlapis-lapis, memerika satu persatu calon penumpang. Anehnya keamanan berlapis yang jumlahnya sekitar tiga hingga empat orang hingga menuju pintu masuk Safinah itu teliti memeriksa passport calon penumpang


Pada pemeriksaan terdepan, belakangnya hingga sebelum paling ujung , passport saya tidak ada masalah, ini berarti saya sudah selamat. Tapi di akhir pemeriksaan seorang yang nampaknya kepala kesatuan pemeriksaan dengan mimik berbeda dari lainnya menanyakan muhrim saya. Karena muhrim saya masih berada di belakang akhirnya saya disuruh minggir sebentar. Di sini saya sudah mulai curiga ada apa dengan saya. Masak yang lain dengan santainya masuk ke kapal sementara saya masih disuruh minggir dipersimpangan kawan-kawan lain menaiki tangga kapal




[caption id="" align="alignleft" width="320" caption="nebeng makan"][/caption]

Setelah muhrim datang, saya dengan muhrim dapat penjelasan bahwa saya suruh pulang lagi ke ibu kota. Saya kaget minta ampun, mana mungkin saya bisa pulang lagi ke ibu kota yang jaraknya begitu jauh delapan jam perjalanan sementara bus yang mengangkut saya sudah tak kelihatan batang hidungnya di kawasan darmaga


Petugas sepertinya tak mau tahu, pokonya saya dan muhrim harus balik lagi ke kandang. Akhirnya saya kontak Kak Erwin untuk mengetahui duduk perkara sebenarnya apa yang terjadi pada diri saya. Kak Erwin memberikan support supaya saya suruh bersabar, tidak hanya itu beliau juga telah mengontak perwakilannya yang saat itu juga ikut mengawal jamaah di Safaga


Saya akhirnya diusahain sama perwakilan Kak Erwin, setelah melaui lobi dsb, termasuk menjelaskan bahwa tak masuk akal kalau muhrimnya saja Safinah mengapa saya Jawwan? Ini berarti kesalah bukan pada diri kami tapi pihak kedutaan. Penjelasan perwakilan itu


Sekali lagi petugas tak mau mengambil resiko. Menurut mereka bahwa kami bisa lolos tapi resikonya di Arab Saudi nanti, dikuatirkan saya kena denda kira-kira 1500 real. Dari pada kena denda mendingan balik lagi ke ibu kota dan naik pesawat. Namun perwakilan itu menyanggah bahwa gak mungkin apabila satu muhrim berbeda keterangan ; satu jawwan dan satu safinah, pasti di bandara akan dipersoalkan lagi. Pertimbangan kedua pintu ijtihat naik pesawat sudah menipis lantaran kepadatan jam terbang ke Arab Saudi sudah penuh


Solusi terakhir, kami balik lagi ke ibu kota, lagian masih ada satu gelombang lagi yang berangkat tanggal 18 November 2009.


Gelombang Ke-2




[caption id="" align="alignleft" width="320" caption="gelombang ke-2"][/caption]

Setelah urusan semuanya rampung termasuk mengubah keterangan dari jawwan ke safinah yang cuman memakan waktu satu hari, akhirnya tanggal 17 Nov, saya berangkat lagi lewat gelombang ke-2


Saya kira warga serumpun tinggal sedikit, ternyata masih banyak, termasuk kawan satu rumah saya si Syukur yang berangkat gelombang ke-2. Pada pemberangkatan ini saya juga ketemu keh Taufiq bersama muhrimnya Laily yang juga orang Fosgama. Jadi saya waktu itu merasa tidak sendirian, ternyata masih banyak kawan-kawan yang tak asing lagi bagi saya


Tak ada perbedaan mencolok, kecuali masalah persiapan. Terus terang gelombang ke-2 ini persiapan saya apa adanya. Di rumah saya hanya buat nasi dan koki dalam jumlah yang terbatas karena saya kira tak banyak warga saya atau orang-orang yang saya kenal berangkat pada gelombang ke-2


Karena persiapan gelombang-2 apa adanya, saya makan juga apa adanya, untung Alhamdulillah masih ada kawan-kawan dari Fosgama seperti Keh Taufiq dan layli yang saya lihat persiapannya sangat matang, ya mirip persiapan awal pemberangkatan saya. Di situlah saya bisa dibilang nebeng dan ikut makan selama dua hari dalam perjalanan di kapal. Tanks untuk mereka berdua

Comments

  1. untung anda bisa haji ... tampaknya anda harus selametan lagi :D

    ReplyDelete
  2. admin8:57 AM

    kayaknya slametanya kebanyakan, hingga yg nylameti gak kebagian jatah ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.