Monday, December 21, 2009

Muslim Masturoh

Di Zaheer saya bertemu Muslim Masturoh, anak saudagar bos beras Pak Masturoh dari Bekasi. Muslim yang juga satu periode di pesantren dulu itu masih seperti empat tahun lalu. Wajahnya Sembilan puluh persen tak berubah, bibirnya tetap lebar mirip pelawah terkenal Dono dan nampaknya memang tak ada perubahan signifikan darinya kecuali tertawanya saja semakin menakutkan


Pertemuan ini diawali dari kabar kawan di Abu Dabi saudara Ibnu Kusuma bahwa Muslim tahun ini haji, lalu saya meminta untuk mengasihkan nomer hp saya ke Muslim. Selang beberapa jam Muslim sms saya memakai nomer Indonesia dangan menanyakan posisi saya saat itu. Saya kira dia masih di Indonesia ternyata sudah berada di Zaheer, empat kilo dari asrama saya di Hujun




dari kiri: imam, muslim dan saya

Besoknya dia sms lagi meminta saya untuk bertemu dengannya di Zaheer. Bersama Imam Wahyuddin saya menyambangi asrama Muslim. Waktu itu tanggal 7 Dzulhijjah, arus lalu lintas di kawasan kota Makkah dan sekitarnya mengalami kemacetan luar biasa karena persiapan hari tarwiyyah, dengan begitu harga ongkos naik taxi juga mangalami kenaikan  tinggi


Butuh setengah jam sampai Di Zaheer, di sana kemudian saya bertemu dengan kakak Muslim, pemandu haji yang juga seorang habib dan beberapa jamaah berjumlah enam orang. Menurut Muslim haji tahun ini sebenarnya cuman menemani kakaknya yang beberapa bulan lalu mengalami sakit ginjal, sehingga butuh pendamping. Karena mendadak, visa yang ia dapatkan bukanlah visa haji melainkan visa kerja


Status inilah yang membuat rombongan muslim berjumlah enam orang sempat mengalami masalah saat transit di Dubai. Menurutnya butuh waktu sehari untuk menyelesaikan persoalan rumit saat transit itu. Untung masih ada habib yang tak lain adalah penyelenggara dan imam dari rombongan berjumlah enam orang itu. Berbekal pengalaman habib, akhirnya mereka bisa menuju Makkah dengan selamat


Obrolan di ruang penginapan Muslim Nampak kaku, bukan hanya kami berdua, Muslim dan sejumlah rombongan enam orang sehari-hari harus duduk menemani habib di ruang tamu. Walaupun bukan persoalan bersama (rombongan) habib seperti layaknya raja yang harus ditemani sepanjang waktu. Wajar anggota rombongan semuanya adalah jamaah pengajiannya habib, jadi adab sopan santun berlebihan masih mereka jaga dengan baik


Gerak terbatas ini juga mempengaruhi obrolan bebas kami bertiga, dan tentu saja merokok, meski habibnya seorang perokok berat, kami tidak bisa merokok bersama mereka, entah alasan apa Muslim tak mengizinkan kami merokok di ruang tamu itu


Kebebasan kami terasa saat Muslim mengajak kami/neraktir makan di luar, di situ pula kami mengobrol sambil tertawa terbahak-bahak ditemani dua bungkus rokok yang dalam rentang waktu singkat dua bungkus rokok itu hampir habis


Dan pertemuan dengan Muslim ini yang pertama dan setelah itu kami tak bisa bertemu kembali karena jadwal masing-masing yang berbeda, dan juga faktor habib yang membatasi gerak-gerik rombongannya

Share:

2 comments: