Skip to main content

Muslim Masturoh

Di Zaheer saya bertemu Muslim Masturoh, anak saudagar bos beras Pak Masturoh dari Bekasi. Muslim yang juga satu periode di pesantren dulu itu masih seperti empat tahun lalu. Wajahnya Sembilan puluh persen tak berubah, bibirnya tetap lebar mirip pelawah terkenal Dono dan nampaknya memang tak ada perubahan signifikan darinya kecuali tertawanya saja semakin menakutkan


Pertemuan ini diawali dari kabar kawan di Abu Dabi saudara Ibnu Kusuma bahwa Muslim tahun ini haji, lalu saya meminta untuk mengasihkan nomer hp saya ke Muslim. Selang beberapa jam Muslim sms saya memakai nomer Indonesia dangan menanyakan posisi saya saat itu. Saya kira dia masih di Indonesia ternyata sudah berada di Zaheer, empat kilo dari asrama saya di Hujun




dari kiri: imam, muslim dan saya

Besoknya dia sms lagi meminta saya untuk bertemu dengannya di Zaheer. Bersama Imam Wahyuddin saya menyambangi asrama Muslim. Waktu itu tanggal 7 Dzulhijjah, arus lalu lintas di kawasan kota Makkah dan sekitarnya mengalami kemacetan luar biasa karena persiapan hari tarwiyyah, dengan begitu harga ongkos naik taxi juga mangalami kenaikan  tinggi


Butuh setengah jam sampai Di Zaheer, di sana kemudian saya bertemu dengan kakak Muslim, pemandu haji yang juga seorang habib dan beberapa jamaah berjumlah enam orang. Menurut Muslim haji tahun ini sebenarnya cuman menemani kakaknya yang beberapa bulan lalu mengalami sakit ginjal, sehingga butuh pendamping. Karena mendadak, visa yang ia dapatkan bukanlah visa haji melainkan visa kerja


Status inilah yang membuat rombongan muslim berjumlah enam orang sempat mengalami masalah saat transit di Dubai. Menurutnya butuh waktu sehari untuk menyelesaikan persoalan rumit saat transit itu. Untung masih ada habib yang tak lain adalah penyelenggara dan imam dari rombongan berjumlah enam orang itu. Berbekal pengalaman habib, akhirnya mereka bisa menuju Makkah dengan selamat


Obrolan di ruang penginapan Muslim Nampak kaku, bukan hanya kami berdua, Muslim dan sejumlah rombongan enam orang sehari-hari harus duduk menemani habib di ruang tamu. Walaupun bukan persoalan bersama (rombongan) habib seperti layaknya raja yang harus ditemani sepanjang waktu. Wajar anggota rombongan semuanya adalah jamaah pengajiannya habib, jadi adab sopan santun berlebihan masih mereka jaga dengan baik


Gerak terbatas ini juga mempengaruhi obrolan bebas kami bertiga, dan tentu saja merokok, meski habibnya seorang perokok berat, kami tidak bisa merokok bersama mereka, entah alasan apa Muslim tak mengizinkan kami merokok di ruang tamu itu


Kebebasan kami terasa saat Muslim mengajak kami/neraktir makan di luar, di situ pula kami mengobrol sambil tertawa terbahak-bahak ditemani dua bungkus rokok yang dalam rentang waktu singkat dua bungkus rokok itu hampir habis


Dan pertemuan dengan Muslim ini yang pertama dan setelah itu kami tak bisa bertemu kembali karena jadwal masing-masing yang berbeda, dan juga faktor habib yang membatasi gerak-gerik rombongannya

Comments

  1. waw ... update too .. :D

    ReplyDelete
  2. admin4:25 PM

    anda harus pantau terus :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.