Friday, December 25, 2009

Batuk

Nyaris satu bulan ini saya terserang batuk+flu. Sepertinya puncaknya ya belakangan ini badan saya lemas, suhu tubuh panas dingin. Takut didakwah terserang flu babi saya baru mau memeriksakan diri dua hari lalu ke dokter samping rumah. Mengapa kok langsung ke dokter? Bukannya periksa saja sudah kena tarif/pajak. bukankah lebih nyaman langsug beli obat ke apotik, sudah irit efisien lagi


<!-- ckey="08B7DA86" -->


Kebiasaan yang terakhir ini saya ubah; lebih baik periksa ke dokter sejak dini sebelum beli obat. Saya sudah kapok kejadian tahun silam saat beli obat  flu tanpa resep dokter. Waktu itu bukannya flu saya sembuh, ginjal saya diserang oleh obat flu yang dosisnya mengerikan, sangat gede. Malam gak bisa tidur karena pinggang saya kesakitan. Tapi waktu itu saya belum tahu persis kalau sakit pinggang saya itu karena ginjal, walau hati nurani saya tiba-tiba menyuruh minum air menaral sebanyak-banyaknya. Baru ketahuan empat bulan berikutnya, ketika perut saya sakit, lalu dibelikan kawan obat perut dengan dosis tinggi pula


Wednesday, December 23, 2009

Al-Munief

Seandainya saja saya tidak punya utang terharap universitas saya, barangkali saya juga ikutan nimbrung bersama kawan-kawan lain; belajar bagaimana mencari penghasilan lewat keringat sendiri. Secara garis besar bekerja bukanlah profesi seorang kuli, buruh rendahan dan budak yang tak terhormat, namun bekerja secara umum sebenarnya juga merupakan rangkaian dari belajar; belajar  hidup mandiri, belajar terhadap realita


Realitas belajar ini dimanfaatkan kawan-kawan sebagai momentum awal menapaki kehidupan lewat Al-Munief Kargo, sebuah perusahaan resmi jasa pengiriman barang ke Indonesia berpusat di Madinah, katanya juga merupakan satu-satunya perusahaan yang mendapat tender dari penyelenggara Haji (depag). Sedikitnya ada 20 orang mahasiswa ikut nebeng di perusahaan itu


Tuesday, December 22, 2009

Safaga

Di sinilah skenario awal cobaan itu bermula; saya tertahan dan terpaksa harus balik kandang gara-gara visa saya salah ketik. Kekeliruan  dari kedutaan Arab Saudi itu membuat rencana saya bersama kawan-kawan satu groups bisa dikatakan menjadi sedikit berantakan, dan saya harus memulai dari nol lagi untuk mempersiapkan segala sesuatu pada pemberangkatan gelombang ke dua nanti, seperti membekalan urusan perut dan tetek bengeknya di safinah yang memakan waktu dua hari perjalanan


Untung  masih ada gelombang kedua jika tidak ada atau katakanlah pemberangkatan saya pada gelombang kedua terjadi masalah, apa jadinya?. Konsekuensinya barangkali saya bisa berangkat tapi melalui pesawat, atau malah saya tidak bisa berangkat sama sekali karena terjadi perbedaan status antara saya dengan muhrim yang berketerangan safinah dan yang tak bisa dipungkiri lagi waktu itu jadwal pemberangkatan pesawat sudah amat padat sekali, jadi kemungkinan kecil saya dapat berangkat lewat pesawat.  Bagaimanapun tuhan telah membuat skenario buat saya untuk melatih kesabaran


Monday, December 21, 2009

Muslim Masturoh

Di Zaheer saya bertemu Muslim Masturoh, anak saudagar bos beras Pak Masturoh dari Bekasi. Muslim yang juga satu periode di pesantren dulu itu masih seperti empat tahun lalu. Wajahnya Sembilan puluh persen tak berubah, bibirnya tetap lebar mirip pelawah terkenal Dono dan nampaknya memang tak ada perubahan signifikan darinya kecuali tertawanya saja semakin menakutkan


Pertemuan ini diawali dari kabar kawan di Abu Dabi saudara Ibnu Kusuma bahwa Muslim tahun ini haji, lalu saya meminta untuk mengasihkan nomer hp saya ke Muslim. Selang beberapa jam Muslim sms saya memakai nomer Indonesia dangan menanyakan posisi saya saat itu. Saya kira dia masih di Indonesia ternyata sudah berada di Zaheer, empat kilo dari asrama saya di Hujun