Skip to main content

Mengenang Dukun Santet (ninja)

Entahlah hari dan tanggal berapa puncak kegentingan pembantaian "berkedok" dukun santet di Banyuwangi. Yang pasti saya masih kelas dua SMP dan juga masih prematur tahu soal politik pasca tumbangnya orde baru. Siapakah dibalik isu mengatasnamakan dukun santet di Banyuwangi, hingga sekarang masih misteri. Sejumlah orang mengaitkan orba punya kans besar sebagai pihak eksekusi di balik pembantaian ratusan dukun santet yang berujung pada peneroran terhadap sejumlah pesantren di Jawa


Pendapat ini diletupkan sebagian kawan-kawan Banyuwangi saat nunggu makan bersama hari Selasa kemarin (mutsallas, 13/10/2009) yang mereka kutip dari isu-isu berkembang di seputar Banyuwangi. Salah satu kawan yang hadir, Mahmudi punya alasan mendasar, Orba yang sudah tumbang di tangan reformasi ingin mengacaukan suhu perpolitikan yang kala itu sedang bergejolak. Sedangkan menurut Hamid,  merebaknya pembantaian isu dukun santet yang pada akhirnya justru para kiyai menjadi sasaran merupakan aksi politik kelas tinggi. Hamid menambahkan aksi itu dipicu atas sikap peran sentral Kiyai terhadap masyarakat di mana sedang bersatu padu dalam wadah perpolitikan



Bagaimana pandangan saya?. Secara pribadi, saya belum bisa memastikan apakah Orba kala itu terlibat atau tidak. Dan saya juga "merasa" aneh jika pembantaian isu dukun santet dengan skala besar di Banyuwangi dan sekitarnya itu tanpa adanya ikut campur organisasi tertentu. Dengan kreativitas pelaku dalam menjalankan aksi, pasti ada aktor intelektual di balik semuanya. Siapa dan mengapa, ini yang menjadi kendala, sebab hingga kini belum terungkap dengan jelas dibalik kasus berkedok dukun santet


Namun semuanya memang bermula dari pembantaian tukang santet di Banyuwangi selatan. Diawali kecurigaan Parmin dan Suprinah (bukan sebenarnya), keluarga mereka setiap bulan ada yang meninggal tanpa masuk akal. Masyarakat lain juga punya pandangan sama, adanya korban tewas secara mendadak. Mereka sepakat –dan sudah mencurigai/melakukan investigasi- salah satu warga di daerah itu yang diduga punya ilmu hitam (santet)


Tanpa kompromi dan kerja sama dengan aparat, masyarakat secara anarkhis bersama-sama menyambangi rumah seseorang (suami-istri) yang mereka duga pelaku dukun santet. Di tengah kepungan warga, tukang santet itu kepergok sedang menjalankan aktivitasnya –nyantet-. Tanpa kata-kata, akhirnya warga mengarak ke sebuah tempat (kuburan) lalu membantainya hingga tewas


Pembantaian dukun santet ternyata tidak berhenti sampai di situ, di sejumlah tempat Banyuwangi warga secara kompak mencari tukang santet untuk dibantai, seolah pembantaian di Banyuwangi selatan itu menjadi ilmu baru bagi warga Gandrung lain. Dalam perkembangannya, kekerasaan brutal ini telah memicu adanya politisasi, di saat bersamaan dengan kondisi perekonomian dan perpolitikan yang sedang bergejolak. Akhirnya pembantaian yang bermula benar-benar dukun santet merambah pada pembantaian, peneroran terhadap pesantren


Mermpercayai Mistik


Cak As'ad menceritakan bagaimana kondisi Banyuwangi waktu itu, dengan kasat mata sendiri dia menyaksikan seorang tak dikenal warga dibantai membabi buta seperti memburu tikus. Tubuh hancur, kepala terpisah lalu diarah warga ke jalan.  Cak As'ad merupakan satu dari sekian banyak warga Banyuwangi ikutan menjadi relawan keamanan. Sebagai keamanan ia harus siap tempur melawan musuh. Dengan hanya mengandalkan pisau, apalagi tangan hampa belumlah cukup, mengingat musuh konon punya keahlian sangat hebat, diantaranya menurut cerita; bisa terbang, berjalan cepat, menghilang, wallahu a'lam


Maka untuk menandingi, Cak As'ad harus punya keahlian tertentu, salah satunya barangkali yang sudah banyak digunakan warga saat itu mengisi kekebalan tubuh. Dia menceritakan bagaimana rasanya saat pengisian kekebalan tubuh itu berlangsung. Dari penuturannya tubuhnya seperti distrum, lalu saat penjajalan parang ke tubuh rasanya sakit walau tak luka. Modal utama menurutnya ada dua; keyakinan dan kosentrasi


Beliau juga bercerita tentang salah satu tetangganya diguna-guna orang. Dia menyaksikan bagaimana bentuk guna-guna itu nampak yang konon adalah santet. Kejadian ini jauh hari sebeluh isu santet bergulir. Alkisah di desanya ada satu keluarga punya riwayat sejarah hidup sama. Kakak-beradik hingga tua belum menikah. Tak ada firasat dibalik itu atau karena pernah menolak orang untuk dinikahi, keluarga itu lupa apa yang sebelumnya terjadi. Menurut orang pintar penyakit ini bisa dilihat oleh satu orang santri. Keluarga dan masyarakat tak mempercayai bagaimana santri tersebut bisa menyembuhkan sementara di mata orang bentuknya bukan dukun, malah dikenal dilingkungan pesantren sebagai anak banci


Tak nyana ternyata santri itu bisa mengobati dan melihat lebih dalam apa yang terjadi pada keluarga itu, kendati untuk menjadi dukun dadakan, si santri harus dipaksa. Kemudian terkuaklah penyakit mereka, ternyata keluarga mereka diguna-guna


Dari sini Cak As'ad mengakui terhadap ilmu gaib bahwa hal-hal semacam itu memang ada dan perlu diwaspadai tanpa rasa takut.  Mengakui menurutnya bukan berarti mempercayai lalu mengamalkan, tapi lebih pada sikap mental –sebagaimana perilaku kebanyakan warga di desa yang masih identik dengan hal-hal mistik-


Akan tetapi jika kanohragan seperti kekebalan tubuh digunakan hanya untuk menjaga diri dari musuh sah-sah saja, sebab ini bukanlah mistik yang identik dengan khurafat, musyrik dll, melainkan semacam syafaaat Tuhan kepada hambaNya dengan perantara doa


Dalam agama Islam, ada beberapa hal yang berkaitan dengan itu. Pertama, Mu'jizat, ini diberikan kepada hambaNya yang paling dekat seperti para nabi. Kedua, Karomah, kelebihan yang diberikan Tuhan kepada hambaNya yang dicintai seperti Wali. Ketiga, syafaat untuk para ulama. Nah ilmu kekebalan merupakan syafaat dari ulama untuk manusia bukanlah ilmu gaib seperti nyantet, sulap dan hal-hal yang berbau mistik lainnya karena ini sudah jelas menyekutukan Tuhan


Pandangan Cak As'ad soal mengakui adanya ilmu gaib/mistik harus dibarengi dengan bukti nyata, bukan cerita orang lain. Karena ilmu ini sebenarnya bukanlah prioritas utama manusia untuk dipelajari/diperhatikan. Ada jauh lebih manfaat yang harus kita gali yaitu ilmu Allah, bukan ilmu kekebalan apalagi ilmunya Syetan


Jum,at (16/10/2009)

Comments

  1. Mas Agus...Santet akan selalu dan identik dengan Banyuwangi, orang menyebut hal itu sebagai bagian dari budaya.
    Membaca tulisan njenengan menarik juga, kalo boleh kasih saran, coba mas ikutan di kompasiana.com (blog milik Kompas), disana mas bisa lebih banyak berbagi dengan kawan2 penulis lain.

    Santet jika dikaji dengan keilmuan islam itu kongkritnya gimana sebenarnya..
    Matur tengkyu...

    ReplyDelete
  2. cak, sebagai orang banyuwangi terkadang aku malu juga daerahku disebut sebagai gudang santet, padahal di daerah lain praktik santet begitu menggejala,maka saya setuju sangat setuju film misteri banyuwangi di hapus dari peredaran .................................................hidup banyuwangi..................

    ReplyDelete
  3. Pengamat_Gerakan_Sejarah11:22 AM

    Mungkin maksudnya bisa terbang pake pesawat terbang ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.