Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2009

A Burhan

Hari ini hati saya masih tersayat-sayat melihat kepedihan yang dirasakan warga Bosnia tahun 1995 lewat sebuah novel karya Isnam Taljic berjudul The Story Of Srebrenica "a novel about the war in Bosnia", yang saya dapat dari Maktabah Darr As-Salam. Novel ini menceritakan tentang kejadian maha dahsyat atas pembantaian warga muslim di daerah Srebrenica tahun 1995 yang berawal dari peperangan Serbia lawan Bosnia dalam membersihkan etnis muslim di Bosnia. Sedikitnya  ada 8000 muslim Bosnia tewas
Belum usai membaca novel yang pernah dikategorikan sebagai novel terbaik, kepedihan itu bertambah saat mendengar kabar tak sedap menghinggapi kawan satu rumah saya, saudara Agus Burhan. Kabar yang saya dengar ayahnya hari ini telang pulang selama-lamanya, Ayahnya dipanggil Tuhan yang mahas esa. Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun
Kematian memang misteri, kita harus siap dengan kematian itu, kapanmu dan dimanapun kita berada. Kita tak tahu kapan giliran kita. Besokkah? Tahun depan, atau malah h…

Membangun Nasionalisme Lewat Sepak Bola

Seandainnya tuan rumah tadi malam (jum'at, 16/10/09) maju hingga final, pasti seluruh kursi stadion terisi penuh. Apalagi finalnya tadi malam bertepatan dengan hari libur nasional. Saya bisa pastikan seluruh jagat warga sini akan ikutan partisipasi, baik melihat secara langsung di stadion maupun lewat televisi. Seorang kawan pernah berdoa; semoga tuan rumah melaju hingga akhir final. Seorang kawan lain juga berapologi sambil berharap; kalau nanti tuan rumah hingga ke final saja, pasti lebih dahsyat, aura batin, suasana, emosi jagat warga sini akan tercurahkan pada pertandingan.
Belum sampai pada titik penghabisan pertandingan (final), harapan warga, keinginan simpatisan dan pendukung berat itu kemudian menjadi ilusi saat tuan rumah ditekuk tim non unggulan Costa Rica. Sudah bisa dibaca bagaimana aura warga ketika tuan rumah harus berakhir di awal fase grup, semula televisi (art) menyiarkan secara eksklusive pertandingan, lalu menjualnya (berbagi) ke televisi lain termasuk free air,…

Paimen, Facebook dan Michael Jackson

Seorang kawan pegiat blog curhat tentang animo warga dunia maya saat ini. Di tengah  panasnya udara kota dan dan kemacetan angkutan yang tak tertata,  ia datang dan bercerita dengan logat jawa. "Blog sekarang sepi ya Aa..!" Keluhnya

"Sepi gimana Men saya kok gak paham maksudmu itu" Sanggah saya. Sembari minum air Aqua ia kembali mengobral kata. "Mereka sudah ganti haluan ke Facebook Aa, kalau Friendster dulu sih gak terlalu, tapi Facebook kok bisa berpengaruh sekali ya, ampe dijadiin istri ke dua. Ini sangat mengkuatirkan Aa" Cerocos Paimen yang mengaku mengenal Facebook sebelum warga Indonesia digemparkan oleh jejaring pertemanan itu

"Mungkin teman–teman Paimen males belajar saja. Atau mereka sedang belajar nulis dan kebingungan bagamana menulis" Kata saya

Paimen hanya tersenyum kecut. Seolah tak terima teman-teman di blognya dianggap anak-anak baru belajar nulis. Di blognya memang tak semuanya yang ia link penulis amatiran. Ada beberapa penulis h…

Mengenang Dukun Santet (ninja)

Entahlah hari dan tanggal berapa puncak kegentingan pembantaian "berkedok" dukun santet di Banyuwangi. Yang pasti saya masih kelas dua SMP dan juga masih prematur tahu soal politik pasca tumbangnya orde baru. Siapakah dibalik isu mengatasnamakan dukun santet di Banyuwangi, hingga sekarang masih misteri. Sejumlah orang mengaitkan orba punya kans besar sebagai pihak eksekusi di balik pembantaian ratusan dukun santet yang berujung pada peneroran terhadap sejumlah pesantren di Jawa
Pendapat ini diletupkan sebagian kawan-kawan Banyuwangi saat nunggu makan bersama hari Selasa kemarin (mutsallas, 13/10/2009) yang mereka kutip dari isu-isu berkembang di seputar Banyuwangi. Salah satu kawan yang hadir, Mahmudi punya alasan mendasar, Orba yang sudah tumbang di tangan reformasi ingin mengacaukan suhu perpolitikan yang kala itu sedang bergejolak. Sedangkan menurut Hamid,  merebaknya pembantaian isu dukun santet yang pada akhirnya justru para kiyai menjadi sasaran merupakan aksi politik k…

Menyikapi Tantawi Lewat Media

Surat kabar Jumhuriah hari Kami lalu (8/10/09) memuat tulisan cukup menohok dengan judul "imamuna akbar; ittaqillah fiena". Sebuah tulisan opini seorang warga (makmum) atas kegelisahan testimoni imam besar, saat sang imam melakukan sidak di madrasah lingkungan Al-Azhar. Dalam testimoni itu, sang imam menyatakan (kepada salah satu murid madrasah) bahwa memakai niqob/cadar bukan tradisi Islam dalam arti, jika niqob menyusahkan pemakai maka niqob hukumnya haram
Petuah itu membuat sebagian media sini menaruhnya dalam laporan utama mereka. Dalam teori media, pernyataan kontrafersional seorang panutan umat merupakan lumbung padi media dalam meraih rating tinggi. Ada udang dibalik full, tentunya ada tujuan lain media bersangkutan melaporkan "fatwa" Syekh Tantawi itu, walau faktanya kita belum mengetahui maksud testimoni dari sang imam. Kita hanya meyimak laporan cerita media yang terpotong-potong, lalu memakainya dalam sebuah domain haram, lebih suci dari… dsb

Laju Pharaoh Dihentikan Costa Rica

Semuanya ikutan cawe-cawe. Pedagang sayur, tukang tambal ban, tukang jagal, tadi malam (6/10/09) tempat itu mendadak menjadi sebuah kafe mini yang terbatas/khusus untuk pekerja mereka. Sebuah tempat yang hampa, sempit dan penuh dengan bau bensin tiba-tiba terdapat televisi ukuran 14 inc di depan halaman dengan segelintir penonton. Begitulah yang saya lihat tadi malam sepanjang perjalan menuju kafe Damerdasy dalam nonton pertandingan piala dunia U-20 antara tuan rumah (mesir) lawan Costa Rica di babak 16 besar
Sesampainya di kafe, rasanya seperti di sebuah stadion, ratusan warga pribumi berjubelan nonton. Ada yang memakai baju kebesaran kesebelasan, membawa bendera dan memakai sesuatu yang seolah-olah mereka berada dalam lapangan untuk memberikan dukungan. Seperti ketika kesebelasan Mesir mendapatkan peluang mencetak gol, penonton ikutan teriak, dan begitu sebaliknya saat lawan membahayakan tuan rumah, ratusan penonton bersiulan

Noordin M Top Punya Hobi Lain?

Noordin M Top ternyata punya kebiasaan baru. Namanya saja sudah Top. Pasti kebiasaannya juga ngetop. Profesinya jadi tukang ngebom bisa dibilang sukses ketimbang belum sama sekali. Buktinya ratusan orang tewas akibat idiologi dia. Karena ingin ngetop akhirnya cerita kehidupan pribadinya mulai terkuak. Cerita ini malah muncul setelah dia tewas di tangan polisi bulan lalu
Iya berdasarkan informasi media, Noordin punya kebiasaan buruk. Dia disinyalir suka homo. Terlepas benar tidaknya berita itu, yang pasti cerita ini diperoleh setelah tim ahli forensik RSCM Dr Mun'im Idris dan pakar kriminologi UI Dr Adrianus Meilala melakukan pemeriksaan terhadap tubuh dia. Meski tidak mengangkat soal homo, lecet di pantat yang menurut tim ahli, bukan karena peristiwa heroik antara Polisi dan Noordin. Dengan begitu ada indikasi kebiasaan aneh dalam kehidupan dia termasuk dugaan Noordin melakukan sodomi dll. Benarkah?