Skip to main content

Son Haji

Malam ketiga hari raya, saya kedatangan Son Haji. Tak seperti biasanya dia datang sambil senyam-senyum seperti orang ketiban rezeki. Setelah saya tanya ternyata memang benar, dia  ngaku sebelum Idul Fitri dapat seratus lebih uang dari hasil Musa'adah. Tapi malam itu senyumnya bukan karena dapat uang banyak, melainkan ingin "menggugat" atas penulisan nama dia tanpa sepengetahuannya


Sambil dia mengobral kata (jawa) sana-sini dan membawa bulletin, akhirnya saya baru sadar oh masalah tulisan tentang Musa'adah itu. Haha memang nama Son Haji saya cantumkan sebagai salah satu pelaku pemburu Musa'adah. Lha gimana lagi memang benar kok dia pemburu sejati.  itulah Kelemah saya barangkali, kadang terlalu jujur dan sulit keluar dari rasa bohong. Bukannya nulis mesti jujur? Kata penulis. Meski kadang penyebutan nama pelaku saya plintir sedikit. Dalam tulisan di bulletin edisi Idul Fitri itu, nama Maulana saya tulis menjadi Mulen, Falahuddin saya plintir jadi Udin termasuk Son Haji menjadi Son Haj. Dengan plintiran tersebur barangkali pembaca tak tahu nama sebenarnya





[caption id="" align="aligncenter" width="246" caption="son haji"][/caption]

Maulana El-Aini dalam undangan Open The Door ke rumahnya Mutsallas hari ke satu Idul Fitri sempat curhat. Dengan nada lesoh dia mempertanyakan penisbatan nama yang saya tulis itu "Mulen". Mulen sendiri adalah nama panggilan dia untuk kalangan terbatas. Lewat senyum khasnya dia juga menyanggah "Lhaa yang nulis khan ikutan juga nyerbu musa'adah waktu itu di gami' Qies. Hayoo..!" hahaha


Tapi bagi Maulana, tidak terlalu risau namanya tercatut. Beda dengan Son Haji, dia sedikit putus asa (mencari musa'adah lagi) setelah namanya tertulis tanpa seizing empunya. Kalau saya sendiri, sebenarnya yang saya kuatirkan bukan Son Haji kawan dari Banyuwangi itu tapi orang lain yang selama ini menjadi teman akrab saya yang juga kebetulan ayahnya bernama Son Haji. Tapi syukurlah persaan itu tak terjadi. Lagian dia kayaknya sudah tahu kalau saya punya kawan bernama Son Haji


Walau mengeluh, Son Haji alhamdulilah tidak nuntut ke pengadilan :D apalagi minta tebusan uang milyaran rupiah seperti kasusnya Mbak Tutut di TPI itu. Kasus Son Haji hanya kasus sepele, remeh-remeh tapi nyanta :D. permainan kosa kata yang tak berujung.


<!-- ckey="08B7DA86" -->




Comments

  1. ha ha ha ha ... khortir jiddan ....

    ReplyDelete
  2. Hahah, untung sy gak nlis nama anda :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.