Skip to main content

Maidatul Ar-Rahmah (1)

Makan bersama adalah satu hal paling nikmat. Apapun bentuk makanannya jika dilakukan secara bersama akan terasa indah. Slank menggambarkan "makan gak makan yang penting kumpul". Saking pentingnya kebersamaan, makan bagi Slank bukan hal paling serius. Demikian sebaliknya se canggih apapun bentuk makanannya jika dilakukan secara nafsi akan jadi basi dan kurang dinikmati


Maidatul Ar-Rahmah barangkali mewakili itu. di setiap bulan ramadhan buka bersama di Maidatul Ar-Rahmah menggambarkan bagaimana menu makanan yang dihidangkan. Terlepas daging, ikan dan ayama, Maidatul Ar-Rahmah sebenarnya bukanlah kosumsian lidah orang Indonesia. Bumbu-bumbu racikan penduduk pribumi yang ala kadarnya terasa makanan seperti itu biasa saja bahkan tak nyaman. Karena dilakukan secara bersama rasa gak enak menjadi enak





[caption id="" align="aligncenter" width="314" caption="acara ini dalam rangka slametan istri Lukman yang sedang mengandung"]
buka bersama di rumah Lukman hari ke tiga bulan ramadhan (24/08/2009)

Di tempat saya misalnya Maidatul Ar-Rahmah setiap hari menghidangkan menu berat. Hari ini ikan, besok daging dan lusa ayam, dan itu terus menerus selama ramadhan. Meski itu tergolong makan berat racikan bumbu-bumbunya biasa saja. Biasalah warga pribumi yang memasak. Tapi mengapa setiap hari kami bisa menikmati hidangan itu? Persoalannya bulan lapar dan dahaga karena puasa. Ada rasa keterpanggilan untuk datang dan makan :D maksudnya kumpul dan membaur bersama penduduk pribumi dari berbagai profesi. Kapan lagi kalau gak sekarang kita makan bersama mereka



[/caption]

Saya gak habis pikir bagaimana sebagian kawan kita (warga Indonesia) merasa kurang nyaman makan bersama penduduk sini. Padahal makan di Maidatul Ar-Rahmah adalah pengalaman berharga selain tentunya penambahan gizi. Penolakan makan di tempat seperti itu sepertinya ada isu yang menghebuskan bahwa biaya Maidatul Ar-Rahmah berasal dari uang gak jelas. Apakah uang korupsi, uang luqotoh (temuan) atau uang lainnya akhirnya diserahkan ke pihak yang membutuhkan seperti Maidatul Ar-Rahmah


Saya tahunya tahun lalu saat teman akrab saya dari Mesir Abu Bakar datang ke rumah. Sore itu dia menolak ajakan saya ifthor (makan) di tempat Maidatul Ar-Rahmah. Sambil menolak halus ajakan saya, dia bercerita "Sebagian penduduk sini terutama orang terpelajar, kurang menyukai berbuka di Maidatul Ar-Rahmah, mereka lebih memilih berbuka di rumah bersama keluarga. Salah satu faktornya –ada isu- bahwa uang itu belum jelas alias subhat. Coba anda lihat siapa saja yang datang di situ? Rata-rata adalah pedagang, kaum buruh dan anak-anak..!"


Kemudian dia melanjutkan ceritanya "Tapi kalau kamu merasa percaya bahwa biaya itu halal silahkan saja. Ini cuman kepercayaan saya"


Begitulah pandangan sebagian orang pribumi soal Maidatul Ar-Ahmah. Saya bukan tidak mempercayai dan tidak mengiyakan. Tapi dilihat dari silsilah, tempatnya Maidatul Ar-Rahmah gak mungkin berasal dari biaya subhat. Kedua, barangkali yang dimaksud oleh Abu Bakar adalah biayanya berasal dari orang yang pernah melakukan kesalahan. Anggap seperti denda bagi jamaah haji


Bersambung..!

Comments

  1. gegek ... kapan kami bisa ke rumah anda ?

    Admin@ seegera anda kesini ama kakak dan adik anda maskur itu :D

    ReplyDelete
  2. masykur3:44 PM

    segera adakan maidah jilid ke 3..di Dermalak Areal..hehehehe

    @Admin: mari2 jangan lupa bawa2 ya *daging dan ayam :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.