Skip to main content

Sinai (5) Habis

Apa yang bikin nyali kamu, kita, mereka inginkan dari keberadaan di puncak? Menapak tilas peninggalan nabi Musa? Atau ingin melihat pemandangan indah dari Sunrise? Sulit diterka. Seorang kawan bercerita sambil terbata-bata. "Gunung Tursina merupakan tempat dimana nabi Musa bertatap muka dengan Tuhannya, namun kebanyakan orang –seolah- memiliki tujuan lain, berekreasi serta menikmati indahnya Sunrise"


"Kok bisa keh?" Sahut saya. "Tuh lihat reaksi dari turis-turis dan turost tuh, mereka –kebanyakan- kebelet mengejar terbitnya Sunrise, jadi nampak bukan karena sejarahnya". Timpalnya


Dari jawaban Keh itu, menimbulkan sebuah ilustrasi bagi diri saya. "Benarkan puncak ini, tempat yang kita duduki, di sini nabi Musa menerima wahyu?" Pertanyaan sangat ironi bagi saya. Tapi setidaknya ini sebagai bahan uji nyali atas sikap kepercayaan orang selama ini bahwa di situlah nabi Musa benar-benar menerima wahyu. Sedangkan sejarah hanya melukiskan bertempat di bukit Tursina, sebagaimana dijelaskan oleh Alqur'an. Sementara di Sinai sendiri punya banyak gunung berdampingan satu sama lain. Lantas?





[caption id="" align="aligncenter" width="290" caption="menungu datangnya sunrise"][/caption]

Imam Zarkasy hanya mengumbar senyum. Di saat sedang asyiknya mengambil gambar dari tubuh dempal Yasin, Azhar dan Ulfa. Sejurus kemudian dia sedikit serius. Sembari membenarkan duduknya di atas bebatuan, dia melanjutkan apa yang sudah saya tanyakan. " Iya-ya ujung-ujungnya nanti sebagai Iktibar saja" Katanya singkat


Begitulah Islam, mengimbangi kebingungan umatnya dengan bahan Iktibar. Sebuah solusi tepat untuk menghindari kerancuan keyakinan. Karena kita yakin bahwa sejarah tidak semuanya salah, dan sebaliknya kebenaran sejarah tidak terlepas dari rekaan manusia. Jadi ada titik balik dari kebenaran itu. Bukankah Alqur'an sendiri sudah menjelaskan kasus ini (iktibar)?




[caption id="" align="alignleft" width="266" caption="foto ria"][/caption]

Dari puncak ketinggian ribuan kaki itu, saya, Encien, Imam Z, Azhar A, Ulfa, di pagi yang dingin. Mempersiapkan diri lokasi pas untuk memotret matahari terbit. Tentunya dengan mengawali sholat Shubuh berjamaah dulu sebelum beraktifitas yang lain


Setengah jam berikutnya tibalah saatnya yang dinanti-nanti. Sebuah matahari muncul dari ujung. Ratusan orang berteriak-teriak antara gupuh dan senang. Dari turis hingga turost tak luput dari reaksi seperti itu. "Ke puncak ya hanya ingin lihat itu, habis itu  turun, pulang" Timpal Keh Anu




[caption id="" align="alignright" width="242" caption="suasana ritual samping gereja di puncak Sinai"][/caption]

Tak semuanya begitu. Kelompok agama Kristen taat misalnya, habis nonton Sunrise, mereka berdoa di tempat gereja, yang konon mereka akui sebagai tempat bermula Kristen berpijak disini. Gereja yang berdampingan dengan masjid itu konon kadang digunakan orang-orang Kristen untuk mengadakan ritual keagamaan

Comments

  1. masih setia bolak balik dan baca2 halaman berikutnya. Salam kenal kembali...

    ReplyDelete
  2. oke terima kasih yah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.