Skip to main content

Sinai (4)

Setengah satu malam kami sampai di Sinai. sebelum berjuang menaiki pegunungan yang menjulang tinggi. Perut harus terisi. Tapi jangan kebanyakan. Gara-gara masakan sedap buatan Arie (panitia rombongan) saya kekeyangan . Perut jadi gak enak, rasanya mau buang air besar . Sementara kawan-kawan akan berangkat pukul satu tepat. Jadi antara mau dibeolkan atau tidak. Saya pilih terakhir itu, mengempat (menahan) hingga sugesti ingin beol lenyap dipikiran saya. Ide saya manjur, alhmadulillah. Walau berganti rasa menjadi ingin buang air kecil. Tak apalah, apa artinya air kecil dari (buang) air besar, kata saya. Ini juga saya tahan. Sayang hanya berhasil bertahan satu jam setengah. Di pertengahan puncak, di mana saat saudara Yasin Sadiqin, Azhar Amrullah Hafidz dan Imam Zarkasy berburu musa'adah –pahala- Tuhan dengan menunaikan shalat jama' Magrib dan Isya' di posko jualan. Saya mengumbar (membuang) air seni ditemani botol air mineral suci





[caption id="" align="aligncenter" width="266" caption="suasana makan sebelum mendaki"][/caption]

Di lokasi posko tersebut yang menurut saya merupakan tempat peristiharatan terlama dari tempat-tempat sebelumnya, menciptakan kenangan tersendiri bagi saya. Ceritanya; Yasin Sadiqin memanggil saya, di tempat posko penjualan yang hanya diterangi lampu buatan, bikin penglihatan saya kurang tajam. Saya kira dia manggil minta air mineral yang saya bawa. Ternyata tidak, tapi menyuruh saya mengamankan barang berhaga yang ia bawa melulu di tangan (kamera digital). Sementara saya tahunya waktu mau berangkat dari trmpat peristirahatan itu, untung barang itu aman. Orang-orang bule waktu itu sedang baik-baik atau memang orang bule itu baik-baik?




[caption id="" align="alignright" width="242" caption="encien (dua dari kiri) sedang pedekate ama bule"][/caption]

Menurut saya orang bule itu dewasa-dewasa, mereka lebih bertoleransi dari orang turost. Semisal mereka ngantri dari pintu menuju gunung Sinai. sebelum berjuang menuju puncak, satu persatu setiap orang dapat pemeriksaan ketat dari petugas. Pastinya ngatri panjang. Namun rombongan kami tidak. Sudah datang terlambat nyrocos saja nerobos barisan orang ngantri yang banyak diisi orang bule-bule. Mereka tidak marah. Atau malu untuk marah? "Masak mereka punya rasa malu?" Kata kawan satu rombongan saya. "Lawong telanjang di pantai mereka sudah biasa kok" Timpalnya sembari ngingatin saya untuk ngantri bersama turis asing


Cerita lain. Rombongan kami bernama Alif sedang kena musibah. Anak berjenggot itu kehilangan kamera digital. Entah bagaimana asal muasalnya, tiba-tiba ada seorang bule dari sebuah negara mengembalikan. Peristiwa yang jarang dilakukan seseorang. Dia sendiri sudah pasrah. Apa boleh buat, di tengah malam gelap gulita dan banyak manusia tak dikenal, harapan ketemu hanya secuil upil. Tapi dewi fortuna berbuat lain. Kamera Digital yang hilang selama hampir enam jam itu kembali di saat dia murung bersama lelahnya naik turun gunung




[caption id="" align="alignleft" width="228" caption="mendaki gunung"][/caption]

"Sudahlah gak usah membanding-bandingkan orang asing dengan kita. Sebaik apapun mereka, kita tetap terbaik". Kata Keh Gundalgandul. "Kok bisa keh" Kata saya. "La ya iya mereka suka main, sementara kita khan gak suka main, tanpa ikatan sesuatu" Timpalnya


Kadang kita memang berpikiran negatif tentang mereka. Dari kulit yang bersisik seperti babi, hingga bau amis. Saya sendiri menilai lain. Bau-bau mereka terasa wangi. Setiap saya berpas-pasan dengan turis bule-bule. Rasa minyak wangi, bukan bau ketek yang biasa suka diumbar oleh orang asia dan orang hitam itu

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.