Skip to main content

Sinai (2)

Menuju Sinai diperlukan perjalanan berjam-jam dari ibu kota. Ditemani hamparan padang sahara yang luas di sepanjangan jalan, kadang membuat kita terpesona atau sebaliknya menciptakan iklim yang membosankan. Rihlah (wisata) di sini memang tak terlepas dari hamparan sahara. Dari Iskandaria hingga yang terdekat pun semisal Ismailiyya padang sahara pasti akan kita jumpai


Salah satu solusi untuk menghilangkan kepenatan perjalanan adalah berhenti di kedai Kafe atau semacam restouran yang biasanya mangkal di pinggir jalan. Disini sebenarnya seorang sopir dituntut jeli dan berfikit jernih, mana Kafe yang sesuai dengan dompet mahasiswa dan mana Kafe tongkrongannya para turis asing. Agar nantinya tidak salah kaprah di saat melakukan transaksi jual beli. Apalagi seorang mahasiswa sudah terbiasa dengan harga murah, atau membiasakan diri melakukan penawaran ketat





[caption id="" align="aligncenter" width="239" caption="padang sahara yang tandus"][/caption]

Jadi sangat riskan jika harga minuman mineral misalnya yang biasa dijual dengan harga 2 pound menjadi 5 pound. Atau harga makanan ringan Sipsi dipatok harga 10 pound. Kita tak berhak menuntut banyak pada seorang pedagang, justru semestinya kita memahami bahwa lokasi itu memang bukan tempat bagi –kebanyakan- mahasiswa, tapi tongkrongannya para turis asing. Toh kadang sifat negatif kita muncul, seolah-olah kita ditipu atau diapalah


Yang patut kita salahkan adalah sang pengemudi. Mengapa diberhentikan di tempat Kafenya orang asing(turis)? Bukan lokasi Kafe tempat umum? Hal-hal semacam ini sepele, tapi perlu mendapatkan perhatian serius, supaya kita tidak memalukan dan dimalukan. Atau agar kita tidak meninggalkan sebuah pertanyaan yang akhirnya menjadi polemik publik (rombongan)


Seperti kemarin itu, kami diberhentikan di Kafe miliknya turis asing (yang rata-rata kayaknya juga ingin menuju Sinai) Terlihat bus-bus rombongan berisi orang bule-bule. Saya tak berani beli makanan berat seperti Sawermagh atau sanwidj dll, pasti harganya mahal. Saya mencoba beli makanan ringan saja. Ternyata benar Sipsi yang dijual di ibu kota seharga 3 pound dipatok 10 pound. Ini harga gila, atau orang ini nipu saya? Lambat laun saya sadar bahwa tempat itu memang bukan kelas saya, tetapi kelasnya para turis asing




[caption id="" align="alignright" width="242" caption="dari pada beli2 mendingan poto2 ajah"][/caption]

Saya lihat kawan-kawan lain hanya beraktifitas sekedar kencing, sholat magrib dan isya' sisanya ada yang nongkrong disamping bus sambil ngrokok dan berfoto ria, atau berdiam diri dalam bus mini itu.Mungkin sudah tahu kalau harga disitu mahal. Sementara saya amati banyak kawan-kawan yang duduk di kursi belakang bus berteriak-teriak sambil gurau minta berhenti karena kelaparan. Saya pun demikian, sebelum sampai ke Kafe saya sudah menikmati mie goreng bekal jajan yang saya bawa dari rumah. Banyak juga yang tertarik dengan mie goreng bawaan saya. Sayang gara-gara mie itu perut saya sedikit mules minta berak. Untung bisa saya atasi secara dini


Berhenti di sebuah Kafe bukan hanya menghilangkan penat, tapi sebagai upaya untuk mengefreskan pikiran dari rasa kelaparan. Disamping itu Kafe juga merupakan tempat berlaburhnya para wisatawan untuk berwisata kecil pada sebuah tempat yang kebanyakan berisi makanan, minuman dan Syisya . Jika Kafe itu bagus tentu akan menambah daya historis berwisata


Bersambung

Comments

  1. masykur2:31 PM

    wah, perjalanan yg luar biasa...apalagi dipandu oleh wartawan senior..semoga dilain hari bisa ikut serta menikmati;)

    ReplyDelete
  2. agusr4:07 PM

    anda layak dapat bintang boss :D

    ReplyDelete
  3. waw ... cafe memang enak buat ngelirik dedek2 :))

    ReplyDelete
  4. agusr9:02 PM

    dedenya anda encienn yah heheheh

    ReplyDelete
  5. Penrong3:16 AM

    Gus, kok anda lebih tinggi dari saya..? :))

    ReplyDelete
  6. agusr8:03 AM

    penrong ternyata benar saya lebih tinggi darimu :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.