Skip to main content

Ke Dimyat (3)

Sebenarnya acara malam hari di tepi pantai Ra'su Barr waktu itu sangat indah. bukan hanya pada corak tepi pantai yang adu hai atau bergentayangan cewek-cewek cakep sedang mencari mangsa di malam minggunya Mesir. Tapi lebih pada suasana batin antara satu kekeluargaan yang kumpul dalam satu wadah di tempat terbuka. Namun sayangnya atraksi yang berjalan belum ada setengahnya ini ternodai oleh segerombolan penduduk kampung ---pribumi- yang hendak melihat beberapa penampilan dari kita


Penampilan yang semula dirancang oleh panitia rihlan berupa menyanyi, atau apapun yang hendak di set up menjadi kurang baik lantaran semakin berjubelnya penonton dari orang asing. Tidak hanya itu mereka –karena saking senangnya melihat kita- ikutan bernyanyi atau sekedar jalan-jalan ditengah berkumpulnya kami yang sedang membuat lingkaran bundar. Tidak tua atau muda larut dalam euphoria rombongan yang kian menghawatirkan





[caption id="" align="aligncenter" width="235" caption="penampilan acara yang dikerubuni pihak luar"][/caption]

Membrutalnya penonton dari kaum pribumi membikin Abdurrahman atau Gus Pur gusar. Puncak amarahnya menjulang saat ia didorong oleh orang Mesir. "inta muslim wala ehh..!" komentar Gus Pur kepada mereka. Aksi ini hampir saja menimbulkan bentrokan kedua belah pihak. Namun yang kami kuatirkan ketika itu bukan Gus Pur selaku sang eksekusi penduduk pribumi melainkan Ribudin atau akrab di sapa Ribut. Di mata keluarga besar Madura maupun Al-Amien Ribut memilki nasionalisme tinggi terhadap mereka. Pun sebaliknya Ribut akan menjadi sosok malaikat penyabut nyawa dan berada di garda depan saat ada salah satu diantara keluarganya (Madura/al-amien) mendapat perlakukan tak enak




[caption id="" align="alignright" width="237" caption="nampak pemudi sedang berjoget ria ditengah acara"][/caption]

Begitu ada keganduhan kecil waktu acara beberapa orang bukan malah mengawasi gerak-gerik Gus Pur selaku eksekutor. Tapi sibuk mengamati RIbut, dikuatirkan amarah Ribut tak terkendali saat kawannya mendapatkan perlawanan dari pihak asing. Alhamdulillah kekuatiran itu akhirnya sirna karena baik Gus Pur maupun Ribut tak meruncingkan permasalah ini menjadi lebih akut


Babe sebagai pihak penanggung jawab rihlah bersama Falah akhirnya menyudahi acara yang semula akan dihelat hingga dua jam ke depan. Ini bukan karena kita mengalah, tapi lebih pada kondisi yang semakin kurang kondusif, kosentrasipun jika dilanjutkan pastnya juga pecah. Lagian gitar yang semula diperuntuhkan untuk irama nyanyi juga disita petugas penjaga tempat karena alas an sudah melewati pukul Sembilan malam




[caption id="" align="alignleft" width="237" caption="foto bareng di tugu lokasi rasu barr"][/caption]

Acara pun berganti dengan foto-foto menikmati indahnya pemandangan malam Ra'su Barr yang waktu itu ribuan orang sedang bermalam minggu (kamis malam jum'at). Entah berapa jam kawan-kawan lain menghabiskan jepret-jepret dengan kamera. Saya dan kawan seperti kadarista, Encien, Falah dan Imam begitu juga anak-anak baru seperti Fikri, Imran dan Ripai pulang di saat rombongan lainnya sudah sepi, walau dari penduduk pribumi sendiri kian malam semakin membludak


Sampai di pintu gerbang ternyata kawan-kawan bergerombol di sana menunggu kehadiran eltramco . akhirnya kita bergabung


Bersambung

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.