Skip to main content

Penyakit Autis

Autis adalah penyakit yang biasanya mulai merasuki manusia pada usia 2 hingga 3 tahun. Ciri-ciri penyakit ini diantaranya sedikit berbicara karena kesulitan kata, melakukan hal-hal aneh diluar kewajaran, kurang bergaul dengan teman-temannya, lemah menguasai tata bahasa dan hanya suka dengan dunianya sendiri dan masih banyak ciri-ciri lainnya

Kompas beberapa bulan lalu pernah menurunkan penyakit ini secara berturut-turut yang mengantarkannya menjadi top stories pada portal tersebut. Dari beberapa penelusuran ternyata memang banyak masyarakat yang belum tahu tentang penyakit Autis terutama bagi masyarakat awam atau kelas menengah ke bawah.  Ciri-ciri diatas barangkali bukanlah sebuah penyakit melainkan berasal dari sifat kepribadian yang tertular dari keturunannya

Meningkatnya ilmu pengetahuan dan tehnologi serta banyaknya penelitian diberbagai bidang, membantu pejabat-pejabat terkait menemukan adanya penyakit ini. Saya sebagai manusia awam sulit rasanya menerima bahwa kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi produk budaya kelas bawah seperti banyak diam, tertawa tidak pada tempatnya, pergaulan terbatas, melakukan hal-hal aneh dianggap sebagai penyakit. Namun disadari pula bahwa sifat-sifat tersebut memiliki indikasi kuat untuk mengabaikan prinsip dan dasar sosialisme yang sedang berkembang



Penyakit ini secara individualitas pada prinsipnya tidak mempengaruhi perkembangan seseorang, mereka masih punya kesempatan berprestasi,  tumbuh seperti pertumbuhan manusia pada umumnya dan memiliki nurani untuk kawin hanya perbedaannya sekali lagi terletak dari segi sosial kemasyarakatan mereka tak punya nyali bagaimana mencipkatan kehidupan dengan berbagai macamnya termasuk bagaimana mengolah tata bahasa ketika bercapakan dengan sesama

Saya punya pengalaman menarik hingga sekarang, semenjak kawan-kawan lama meninggalkan rumah seperti Ibnu, Dayat dan Bambang terasa rumah yang dulu dipenuhi dengan canda tawa dan pergaulan bebas tanpa batas saat ini seperti berada di dunia penampakan. Tidak ada hiburan berarti dari para kawan-kawan baru, terlihat kaku dalam bersosialis dan penuh dengan ketertutupan

Pertama kali saya menyadari –barangkali- mereka masih malu dan sungkan untuk bercakap-cakap dan bercanda tawa dengan penghuni lama karena pertemuan dengan mereka terbilang masih baru dan tentu saja belum mengetahui satu sama lainnya. Akan tetapi jika pergaulan itu hingga sekarang masih terasa berada dalam kegelapan, ketertutupan saya kira itu bukanlah karena alasan atau kelemahan mereka semisal malu, sungkan atau apapun bentunya melainkan sudah masuk kategori terkena penyakit Autis

Yang paling aneh lagi ada kawan baru saya yang selalu I'tikaf di depan computer tidak lain hanya mengutak-atik Photoshop sepanjang hari. Mungkin itu kegemarannya tak apalah yan penting masih menjalankan rukun Islam saja, tidak meninggalkan sholat dll. Selain mengobok-obok program yang sudah lihai itu saya mendapatinya dalam kehidupan sehari-hari kurang berasosiasi dengan baik dan kadang berjingkrak-jingkrak sendiri atau senyum atau tertawa sendiri. Kawan lama yang awal bulan lalu beranjak ke Indonesia saat masih berada di rumah sini pernah heran dan bertanya-tanya dengan kawan dekatnya. "Dia punya penyakit  ya ?" Tanya Bambang sama Burhan

Saya sendiri kurang inters dengan keadaan itu karena menurut saya tingkah-tingkah aneh atau kecenderungan minat dll merupakan anugrah Tuhan yang harus disyukurinya, tapi kalau sepanjang hari, minggu bulan hingga tahun memilki kecenderungan yang ganjil atau ketertutupan, kurang cerdas menyikapi situas dan kondisi lingkungan serta kurang mampu bercakap-cakapa antar sesama, ini perlu diperhatikan secara serius artinya mungkin dia termasuk orang yang terkena penyakit Autis

Selain dia saya juga mendapati kawan saya satunya lagi punya perilaku aneh tiada hari tanpa main game bola, sesekali buka yahoo massanger selain itu kurang mampu bercakap-cakap dengan sempurna baik dengan sesama teman maupun dengan tamu. Pergaulan dengan kawan-kawan rumahpun bisa dihitung dengan jari, kebiasannya hanya mengumpet dalam kamar yang gelap karena kayaknya dia suka yang gelap-gelap

Kalau memang benar sikap, perilaku maupun tindakan mereka tergolong penyakit Autis, maka ini sangat berbahaya karena hingga saat ini penyakit itu belum ada obatnya. Penyembuhan yang saat ini digunakan adalah sistem terapi dan tentu saja memiliki hasyat untuk sembuh. Akan tetapi jika sifat mereka tergolong tradisi atau memang dari sononya artinya dari keturunan dan lingkungan yang membuat demikian, maka sebagai sesama manusia kita harus menghargai segala apapun bentuknya

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.