Tuesday, April 14, 2009

Dari Milis Hingga ke Hadiqoh Yaban

Ini pertanyaan klise dengan seribu satu jawaban. Kapan rezim Gus Dur mengagendakan rihlah ke hadiqoh?  Kapan IKBAL mau ngadain pertandingan persahabatan bola? Dan masih banyak pertanyaan lain dari kaum fakir dan duafa seperti saya ini menggema ke pemerintahan Abdurrahman atau  Khobits begitu saya sedikit menyapanya. Sebelum pertanyaan itu terjawab, malah saya –termasuk barangkali kawan-kawan lain- didodori oleh lurah Khobits semacam PR (pertanyaan rumah) yang menggelikan. "Kapan mau kawin, IKBAL insya Allah siap jadi panitianya?". Karena keseringan bertanya, barangkali mereka malu, terus akhirnya pertanyaan itu berganti haluan menjadi semacam fi'il amr lil wujub. "Segera  kawin ustak, sebelum tua..!".  Meski tidak menjawab secara langsung kepadanya, namun batin saya bicara. "Masak orang muda seperti saya suruh kawin, tuh suruh sesepuh-sesepuh IKBAL yang masih jomblo itu". Saya cekikikan sendirian seperti orang gila sembari membayangkan reputasi  Khobits atas kepiawaiannya berdiplomasi termasuk  memiliki link kuat dengan lembaga-lembaga penyalur pemutus keperawanan itu

Monday, April 13, 2009

Generasi Osama Telah Muncul

Benar kata Falah –wartawan Damerdasy- peliput sekaligus juru kamera, generasi Osama telah tiba. Bibit-bibit unggul "palawija" sudah datang..!. Tidak ada tujuan hidup kecuali menyantet Goerge Bush, aktor dibalik hancurnya negeri seribu satu malam itu. Terlalu sadis memang seorang balita yang belum berumur dan tak tahu bagaimana memegang senapan sudah dibebenai tugas berat sejak dalam kandungan.

Setidaknya begitu pandangan Falah wartawan peliput Timur Tengah saat memotret bocah mungil nan cerdas. Ia adalah anak seorang ta'mir  masjid dekat kedutaan Israel di Giza. Saat kami bertandang ke rumahnya yang elok dipinggiran sungai Nil Giza, spontanitas tuan rumah menyambut kami dengan ramah. Tak seperti lazimnya penduduk perkotaan yang ogah menerima penduduk non pribumi karena dianggap aib, kami dilayani layaknya kunjungan kepresidenan "George Bush"  ke Indonesia tahun silam. Tak ada karpet merah memang, akan tetapi sambutan hangat dari tuan rumah sangat luar biasa

Datang setelah Isya' kami disambut oleh seorang perempuan separuh baya. Dialah ibu rumah tangga anak-anak. Bersama dengan dua anaknya malan itu, satu perempuan –cantik- yang perkiraan saya berumuran sekitar sweet seventeen dan satu lagi bocah laki berumur lima tahunan. Kehadiran kami membuat suasana rumah yang saat itu sedang asyiek nonton film berubah pada sibuk meladeni kami. Sementara sang perempuan cantik yang semula saya lihat lagi belajar sejurus kemudian menutup bukunya karena mendapat tugas dari sang ibu untuk membuat minuman