Skip to main content

Ramadhan dan Kreatifitas Sedekah

Sekarang telah memasuki akhir ramadhan, itu berarti sebentar lagi kita akan merayakan kemenangan. Bagi sebagian orang, akhir ramadhan atau asyru awakhir (sepuluh terakhir) merupakan hari kramat. Pundi-pundi amal dan pengampunan yang diformat dalam bentuk lailatul qadar jatuh pada hari ganjil di sepuluh terakhir ramadhan. Ini tentunya dibutuhkan usaha keras untuk mencapainya, bukan hanya berkutat pada usaha ibadah sholat terawih atau tahajud saja tetapi ada aspek-aspek lain jauh lebih berharga untuk kemaslahatan diri dan umat yaitu bersedekah



Masih segar dalam ingatan kita kasus sedekah di Pasuruan yang menewaskan 21 orang, kita turut bela sungkawa sekaligus prihatin bahwa ternyata masih banyak rakyat butuh uluran tangan dari kaum dermawan. Kebutuhan sandang dan pangan memang menjadi sorotan sejak kita mengalami krisis multi dimensional yang belakangan diikuti oleh naiknya sejumlah bahan pokok makanan dan minyak secara global. Ini tidak saja melukai rakyat miskin yang sudah terbebani sejak krisis ekonomi tahun 1998 kaum kelas menengan keatas pun yang sebelumnya menjadi tumpuan  fakir miskin ikut menjadi korban atas perubahan dunia internasional dan itu berlaku diseluruh dunia. Negara-negara mapan dan berkembang seperti AS, China, Japan, Dubai sdb kejian semacam ini bukan merupakan persoalan akut dan mengkuatirkan karena kebutuhan rakyatnya seimbang dengan penghasilan. Sebaliknya negara-negara kurang mapan seperti Indonesia perubahan seperti ini menjadi bomerang terutama kaum rakyat kecil dan ini akan diikuti oleh kreativitas dalam kriminalitas, pencuarian

Melihat persolan yang semakin pekik, ada baiknya kita menengok negara Iran. Tidak disangka bahwa salahsatu negara miskin di dunia dan konon tidak punya utang luar negari bisa menciptakan berbagai macam tekhnologi di mana baru-baru ini akan meluncurkan pesawat luar angkasa, belum lagi dunia nuklir yang memang sudah menjadi ladangnya. Kemajuan negara miskin itu juga tidak bisa dipisahkan dari birokrasi. Dukungan kuat mereka ternyata memberikan keseimbangan hidup rakyat kecil. Salahsatu pilar penting di Iran saat ini Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden yang patut ditiru oleh negara-negara kurang mapan atau mungkin saja dia adalah presiden teraneh abad sekarang (setelah Gus Dur tentunya :D), di saat orang lain mengejar kekuasan, jabatan dan kekayaan, Mahmoud Ahmadinejad malah sebaliknya seluruh gajinya disumbangkan untuk kesejahteraan rakyat, istana presidenpun tak ubahnya seperti perumahan raykat biasa

Andaikan saja Indonesia punya presiden atau orang-orang birokrasi seperti Mahmoud Ahmadinejad saya yakin kemiskinan yang semakin kritis ini bisa disembuhkan dengan cepat. majemuknya warga Indonesia bukanlah persoalan lahirnya raykat tak mampu. Akan tetapi sebenarnya kita butuh sosok panutan realistis dengan mengedepankan kepentingan rakyat dan tentunya disertai perubahan moral anggota dewan yang telah melukai rakyat baik menjarah uang umat maupun sikap kepribadian yang berlawan dengan nilai-nilai agama selingkuh, skandal seperti bajingan Yahya Zaini dll harus segara dibabat habis. Nah ramadhan kali ini sebenarnya merupakan langkah awal untuk mengubah sikap para pemimpin kita agar lebih cermat dan dermawan dengan raykat miskin, sehingga dengan demikian nantinya bisa ditiru oleh masyarakat lain berlomba-lomba menciptakan kreafitasnya dalam bersedekah kepada orang lain

Kembali ke ramadhan, secara pribadi dan barangkali kawan-kawan lainnya disini bahwa sentuhan ramadhan sangat terasa luar biasa. Ini bukan persoalan relegiutas menjalankan amal ibadah seperti sholat terawih atau iktikaf, namun sentukan dalam bentuk hubungan dengan manusia lain. Kearifan dan kedermawanan dari warga masyarakat disini patut diacungi jempol. Dari persolan perut untuk berbuka hingga memberika sedekah berupa uang selalu saja ada dimana-mana. Saya bisa menggambarkan bahwa sedekah disini seperti perlombaan untuk mendapatkan pahala, sangat kreatif dan imajenatif seperti tanpa harus mendapatkan imbalan atau pujian orang lain. Dan perlu dicacat pula bahwa diantara donator adalah warga selayaknya warga biasa, buka orang kaya dll. Subhanallah itulah jika kalau sudah dibukaan pintu hatinya. Selayaknya pejabat atau warga kita bisa meniru tradisi semacam ini. Dengan niatan untuk mendapatkan ridhoNya bukan mencari sanjungan atau menciptakan permasalahan seperti pada kasus Pasuruan itu

Jadi sepuluh akhir di bulan ramadhan ini bukan saja menunggu kehadiran lailatu qadar tetapi juga merupak solusi tepat untuk mencari sedekah atau musa'adah yang tersebar dimana-mana.

Wassalam

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.