Thursday, November 13, 2008

Dari Jawwazat Hingga Bersua Dengan Ghofar Propo

Alhamdulillah perjuangan ngantri di depan Jawwazat hari ini telah berakhir, sebuah usaha otot dan keringat yang butuh berminggu-minggu untuk mendapatkan kebebasan hidup satu tahun. Tak disangka pula buku mungil yang telah kadawarsa selama hampir empat bulan itu tidak dipermasalahkan. Awalnya saya kuatir nanti dapat denda seperti kejadian beberapa mahasiswa Indonesia tahun silam. Kekuatiran saya memuncak tadi ketika melihat mahasiswa asal Malaysia menyodorkan uang ratusan Pound setelah taslim.  Dalam benak saya yang ngantri dibelakang seperti kereta api mungkin saja orang itu terlambat berbulan-bulan atau memang mereka punya kewajibatan seperti itu? Tapi tidak juga soalnya kawan lain dari Malasysia cuman membayar tiga pound rubu' saya hanya melihat kejadian aneh yang membayar uang dalam jumlah besar dari warga tetangga Indonesia itu tidak kurang dari tiga atau empat orang

Saya sendiri sudah dua kali gagal ditolak karena over dosis. Tidak bulan November, Desember dan Januari tetap saja antrinya luar biasa. Tidak pula di hari Sabtu atau Senin sekarang sama saja tidak ada bedanya bahkan dalam suasana ujianpun ramainya masih di luar kewajaran. Saat  ini menurut saya sangat sulit mengantisipasi keantrian, dulu  orang berbondong-bondong datang hari Sabtu, maka bagi orang lihai bisa diantisipasi hari Seninnya. Image itu saat ini sudah tidak ada, mahasiswa sudah semakin cerdas buktinya pada hari Senin ngantrinya sama dengan Sabtu bahkan hari yang seharusnya milik orang Rusia itu sekarang sudah seperti hari milik orang Asia terutama Indonesia