Tuesday, May 13, 2008

Obrolan di Kafe

Hari Ahad kemarin saya dapat sms dari Ibnu isinya ajakan ngobrol di kafe depan Al-Azhar. Spontal saya mengamini ajakan dia. Hanya saja tepatnya jam berapa obrolan dimulai tidak disertakan dalam sms, cuman pesannya jika ke kuliah nanti kita ngobrol bersama dengan kawan-kawan yang selama ini sudah familiar dan tak asing di mata kita. Okelah akan saya tepati insya Allah meski saya sedikit terlambat

Saya sudah dua kali berada di Kafe itu, pertama ajakan  Nadhief awal bulan kemarin dan kedua bersama Ibnu dkk. Saya baru tahu jika di depan pintu gerbang Al-Azhar ada kafe bagus tak seperti kafe-kafe yang selama ini saya datangi. Memang diluar nampak seperti bangunan kuno, atau layaknya bangunan2 pada umumnya. Namun jika masuk dan duduk dilantai dua suasana berubah terasa berada di alam surga atau paling tidak saya menikmati bangun2 kafe klasik dengan ukiran jendela yang mempesona

Monday, May 12, 2008

FPI, Yahudi dan Bola? (I)

Apa yang dilakukan FPI terhadap kaum muslimin lainnya menyisakan tanda tanya BESAR. Yang saya kuatirkan bukan tindakan brutal FPI.Saya kira masyarakat awam sudah mafhum terhadap perilaku FPI yang identik dengan kekerasan, kasar atau boleh saya sebut kejammmm..!. Dari kasus ke kasus FPI menjadi garda depan dalam soal kekerasaan. Barangkali Front yang ngakunya Islam (tapi tidak mencerminkan ke-islamannya) dibentuk untuk menjadi organisasi bringas seperti trengginas. Intinya patutkan FPI dibubarkan? Melihat aksinya yang dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir identik dengan anarkisme atau premanisme, sepatutnya FPI dilenyapkan dari Indonesia

Namun itu tidak mudah. Sebab sebagian orang yang masih menganut ajaran datar-datar saya artinya mengkuti faham Islam tengah-tengah menolak jika kebrutalan yang selama ini dilakukan oleh FPI itu murni dari organisasinya. Mereka menilai kebrutalan premanisme –bisa jadi- bersumber dari luar organisasi mengingat FPI bukan Habib Rizieq saja masih banyak organisasi FPI di daerah yang kalem dan tidak bringas. But cukupkah ini dijadikan acuan untuk mempertahan FPI? Secara pribadi saya dengan tegas menyatakan belum cukup. Persoalannya terletak image masyarakat selama ini yang sudah mengecap jelek terhadap FPI dan bolonya. Dalam hati kecil saya bertanya apakah tidak ada cara lain untuk menyakinkan masyarakat -pemerintahan- agar Ahmadiyah dibubarkan? Jika memang getol ingin membubarkan Ahmadiyah patutkan dengan cara kekerasan?