Sunday, April 13, 2008

Dialog Gontor

Emmm ceramah menggebu-gebu dari pimpinan Gontor di Aula Sholah Kamil Universitas Al-Azhar (09/04/08) sungguh menggugah hati. Bikin aku termotivasi deh. Ceramah dan tausyiah itu jelas mengingatkanku pada sosok KH Idris Jauhari. Bedanya kalau Kiyai Idris lebih keren :D dengan bahasa yang lugas dan mengena hati menjadi bergetar, kalau Pak Sukri bicaranya semangat luar biasa namun olah katanya kalahlah dengan Kiyai Saya (KH Idris Jauhari) he ehe he

Perbedaan lainnya Pak Syukri lebih menekankan pada aspek global termasuk menekankan pada wawasan luas,  jaringan kerja dan memanfaatkan jaringan kerja. Kalau Kiyai Idris lebih pada aspek education. Seharusnya kalau temanya dalam Loka Karya itu Meningkatkan Prestasi Mahasiswa Masisir ya yang cocok perwakilan pondok pesantren  KH Idris Jauhari. Mengapa beliau gak diundang ke Kairo? Barangkali Ketenaran Gontor masih di atas segala-galanya. Lagian Al-Amien juga merupakan bayang-bayang dari Gontor (judul ini pernah digelontarkan oleh KH Maktum Jauhari di surat kabar nasional) Ketenaran KH Syukri Zarkasye MA juga menjadi pertimbangan lain panitia



Maklumlah Gontor kan dah lama sementara al-amien anggap masih anaknya (gontor). Bayangkan rata-rata undangan dan pengisi loka karya kemarin adalah alumni Gontor well kerennn,,,,ada Maftuh Basuni (mentri agama) KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Dubesnya juga Gontor Pak Fakhir,  Dr. Roem Rowi MA, Rombongan gontor sendiri ada 19 orang (wahhh kebanyakan sebenarnya hehe) pimpinan dan badan wakaf gontor. Bahkan dalam pidatonya Ibu Marwah Daut menyeletuk walau dia bukan alumni gontor tapi anak saya ada digontor jadi wali santri gontor.

Gontor memang besar, alumni-alumninya juga banyak yang menjadi orang besar. Karena kebesarannya Gontor menurut idialisme-nya saya terlalu mendewakan alumni yang sukses, atau (memanfaatkan kalau boleh saya sebut), anggap system feudal yang saat ini mencolok pada kepimpinan gontor. Dan itu memang sudah terang-terangan didengungkan oleh pengasuhnya yaitu memanfaatkan jaringan kerja. Nah kalau demikian gimana dengan alumninya yang masih tertatih-tatih menuju puncak (sebut tokoh goooo nasional dll)? Seharusnya mereka cenderung memperhatikan alumni yang belum jadi, kalau memang tugas pengasuh gontor salahsatunya berfungsi mengantarkan alumni sukses jangan sampai bertepuk sebelak tangan saja

Kasus Pak Hasyim, mengapa masih menjabat ketua PWNU belum tersentuh oleh gontor bahwa beliau adalah alumni gontor, Namun saat beliau menjadi PBNU selalu aja dipromosikan oleh gontor,,,,banggahkan? Emmmmm,,,,,padahal beliau tidak studi di tempat itu aja khan he eheh. Ust saya Pak Lalu Supridi MA (yg entar lagi ujian monaqisyah doktornya) nyeletuk wah gontor ini kok feudal yah :D

Tapi terlepas itu jelas memberikan keuntungan besar bagi kekuatan dinasti gontor diteropong dari sisi finansial dan mutunya

Sejujurnya kalau acara Lokarya kemarin yang pas cocok untuk ngisi –menurut saya lho- KH Idris apalagi temanya khan meningkatkan prestasi mahasiswa. Kalau perwakilan gontor –yang katanya sebagai perwakilan pesantren dari indonesia- jenderung pada usaha promosi internasional saja. Apalagi rombongannya 19 orang terlalu memubadzirkan biaya khan he ehe
Share:

0 comments:

Post a Comment