Thursday, December 13, 2007

Hisab dan Ru'yah

Sebenarnya simpel Hisab itu dalam hukum Islam memiliki kedudukan sangat lemah, sementara sistem Ru'yah lebih kuat. Mengapa masih menggunakan Hisab? Apa tidak boleh? Tidak ada yang melarang malah perbedaan itu adalah rahmat (hadist doif)dan itu bagian dari dinamika kehidupan

Di Indonesia dalam menentukan hari raya umat Islam dua sistem ini saling berebutan untuk mendapatkan pengakuan atau juara satu, seperti layaknya lomba akibatnya pemenang akan gembira dan yang kalah gelisah . Dalam hal ini umat Islam setiap tahun selalu diributkan dengan penentuan satu syawal, orang boleh menyebut sebagai rahmat (hadist doif) tetapi dibalik itu sebagian umat Islam yang memiliki standar dan kedudukan orang awam akan bertanya-tanya "mengapa umat islam tidak kompak? menentukan hari kebesaran umat islam aja kok gak sama, gimana akan bersatu dan berkembang islam?" Belum lagi image kaum diluar Islam akan memandang bahwa umat Islam adalah titik-titik



Tahun ini Islam di Indonesia kembali ditim musibah, ada dualisme dalam menentukan hari kemenangan. Kaum Muhamadiyah dengan ukuran kebanggaannya -sistem hisab- merayakan idul fitri hari senin (23/10/2005) sementara kaum NU dengan sistem ru'yahnya diikuti pemerintahan menetapkan idul fitri jatuh hari selasa (24/10/2006) toh menurut informasi bahwa PWNU Jatim menetapkan hari raya jatuh hari senin (iki piye tho,,,,PBNU wes pas hari selasa ehh plajurite (PWNU) kok malah hari senin, sengdi seng salah? loro-lorone salah jereke PBNU katene jareng cabang2 seluruh Indo ehhh neng Jatim wes ketemu kok malah PBNU netepne riyoyo dino Selasa, mbal-bul iki, tapi neng omah bapak sms NU omah dino seloso, jerene sebagian Nu enek sek ngelakoni riyono senin tapi saitik kuwi nek neng surabaya wahe)

Arab Saudi dimana Islam berasal dari sana dalam menetapkan satu syawal sistem yang digunakan adalah ru'yah hasilnya Islam di Arabia kompak dan tidak ada adu mulut dalam menentukan satu syawal demikian juga di Mesir dan negara-negara Timur Tengah. Dan yang lebih membanggakan bahwa pemerintahan disitu memiliki hak (kiblat masyarakat, tidak sama dengan di Indo, sudah punya menteri agama eh gak bisa bergerak sama sekali ketika umat ditimpa kebingungan) Yang jelas pemerintahan Indonesia harus bertanggung jawab, buat apa diciptakannya menteri agama (islam) kalau gak bisa membahas soal umat

Saturday, July 28, 2007

Ibnu Katsir

A. Mengenal Ibnu Katsir

Ibnu Katsir adalah sosok ulama besar. Dengan karya-karyanya yang brilian menjadikan beliau rujukan para ulama hingga sekarang. Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H/1301 di sebuah desa bagian kota Bashra di negeri Syam.1 Pada usia 4 tahun, ayahnya meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya Abd Wahab. Pada tahun 706 H, diusia 5 tahun beliau pindah dan menetap di kota Damaskus. Disini beliau memperdalam kitab fiqh dan hadits dengan berguru kepada Ibn Taimiyyah2. Dengan  kecintaan terhadap ilmu agama  serta berkembang pesat ilmunya  menjadikan Ibn Katsir memiliki derajat tinggi diantara lainnya dan oleh Imam Dahbi menggolongkannya sebagai kelompok pengkonsep para huffadz.3



Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H/1372 M di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meski kini beliau telah lama tiada, tapi peninggalannya akan tetap berada di tengah umat, menjadi rujukan terpercaya dalam memahami Al Qur’an serta Islam secara umum. Umat masih akan terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga.4

Tuesday, July 17, 2007

Ibadah Sholat

Sebelum penulis membincangkan masalah sholat, terlebih dahulu penulis ingin membagi antara ibadah vertikal (ibadah mahdlah) dan ibadah horizontal. ibadah vertikal diantaranya sholat, puasa haji dll. Dan ibadah horizontal mencangkup setiap aspek kehidupan manusia seperti; persoalan-persoalan hukum, moral, ritual bahkan masalah kesehatan

Sholat yang merupakan ibadah mahdlah adalah salahsatu ritual ibadah tingkat tinggi. Ini tidak terlepas dari dekatnya antara sang pencipta dengan pelaku sholat. Dulu ketika Islam masih berada dalam masa pra sejarah, sholat (wajib) tidak seperti saat ini, tetapi jauh lebih mengerikan artinya orang dituntut untuk sholat dalam sehari lebih dari empat puluh. Ketatnya ritual ibadah sholat saat itu mengerucutkan manusia kejenjang level tingkat tinggi, banyak orang menjadi nabi, wali, ulama besar yang hingga saat ini bisa kita kenal lewat sejarah. Namun kedekatan kepada sang pencipta memberikan dampak terhadap muammalat ma'a an-nas. Hubungan antar sesama manusia kuatir akan mewarisi tradisi jelek untuk dunia kelak. Akhirnya kita dapati ritual ibadah sholat (wajib) sekarang dengan jumlah lima waktu