Skip to main content

Maraknya Aksi Cerai

Beberapa tahun terakhir banyak diantara masyarakat kita yang doyan dengan pekerjaan gugat menggugat alias cerai suami istri. Dulu aksi cerai dan dicerai sangat jarang ditemui bahkan manjadi aib kelaurga. Paling-paling hanya segelintir orang saja itupun mereka yang memang diliputi berbagai masalah dalam keluarganya. Misalnya, salasatu keluarga ada yang memeliki pekerjaan mencuri (nyolong)WIL, atau ada permasalahan hebat diantara keluarga

Namun saat ini peristiwa cerai dan dicerai bukan lagi aib namun sudah mentradisi atau bangga dengan masalah seperti ini. Alasannya mumpung masih ada kesempatan hidup untuk berbaga kepada orang lain, bosan dengan rumah tangganya yang kurang bisa memberikan kepuasan jasmani dan rohani dan yang menyedihkan karena mengikuti arus barat yang suka dengan gonta ganti pasangan

Sebagai warga Indonesia sangat malu perisitiwa ini sering kita jumpai akhir dasawarsa sekarang. Selaku bangsa yang berpancasilais dengan begron berketuhanan sudah selayaknya pemerintahan kembali menghidupkan begron salahsatu butir pancasila dan mengingatkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler yang selama ini diagungkan oleh Barat

Mungkin aksi maraknya tayangan infortaimen perlu diselidiki sebagaimana yang saat ini sudah diharamkan oleh pengurus PBNU. Karena boleh jadi derasnya arus cerai dipengaruhi oleh banjirnya berita soal aib orang lain dari acara TV. Kita tahu informasi merupakan salahsatu pilar paling subur untuk membentuk opini masyarakat. Wajar jika aksi itu diikuti oleh fakta

Coba kita menengok mereview ulang peristiwa para artis kita yang melakukan cerai yang dengan bangga sambil tertawa didepan kamera televisi mengucapkan slogan agar minta didoakan agar cerainya berjalan dengan mulus. Apalagi baru-baru ini belum beresnya gugat menggugat Hutomo dan Tata sudah gencara berita Yusril menggugat lantas kawin lagi. Bisa dibayangin, ternyata kasus ini sekarang bukan lagi milik para artis melainkan sudah merambah ke pejabat kita

Akan dibawa kemana moral bangsa kita? Kita seakan sudah buntu untuk membendung arus cerai. Ulama sekarang bukan lagi dihormati dan dimintai fatwa, pemerintah apalagi sudah ikut-ikutan menceraikan istrinya. Entah siapa lagi korban berikutnya dari para pejabat kita yang doyan perempuan lagi meski kita sudah mendengar berbagai isu pejabat daerah yang melakukan hal senonoh dengan patner kerjanya

Islam sebagai agama paling akbar di Indonesia menyabdakan bahwa kawin adalah sunnah Nabi, bahkan kita diperkenankan untuk kawin lebih dari dua jika mampu dalam segala urusan. Namun dibalik itu Islam tidak menyukai umatnya melakukan cerai kecuali mamang sudah tidak memiliki jalan keluar lagi, nabi Muhammad pun kawin beberapa kali salahsatunya karena faktor istrinya tidak bisa memberikan anak yang akhirnya sahabat memerintahkan untuk mengawini perempuan lagi toh akhirnya diberi keturunan perempuan

Sudah selayaknya Indonesia kembali menyuarakan soal aib cerai dicerai ini. Kita bangsa bermoral dan beragama tak layak kasus seperti ini menjadi bahan makanan utama media. Informasi yang dihimpun media seharusnya memahaminya dengan lapang dada bahwa kita bangsa yang beradab meski diakui acara ini memiliki rating tinggi dihadapan pemirsa

Terakhir goresan Rendra yang menyatakan "Aku Malu Jadi Orang Indonesia" patut kita renungkan kembali

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.