Skip to main content

Tentara dan Dukun

Betapa kasihan mereka yang saat ini sedang dirundung musibah. Saudara kita di Lebalon, Palestina, Irak yang hingga kini negaranya masih belum stabil tidak bisa menikmati indahnya ramadhan dengan sempurna. Rasa was-was warga Lebanon atas serangan Israel dikuwatirkan kembali datang tanpa kompromi dan pandang bulu. Irak yang disinyalir semakin aman namun gencatan senjata dari kaum garis kanan masih bergejolak

Belum lagi keadaan saudara kita di Lebanon yang baru-baru ini kehilangan mata pencaharian, orang tua atau cacat seumur hidup imbas dari gempuran Israel beberapa waktu lalu tentu tidak bisa nikmat dan khusu' di bulan penuh berkah ini. Kita patut berduka atas musibah yang menimpa umat Islam terutama di Timur Tengah akhir-akhir ini. Kutukan dari belahan dunia belum mampu menggetarkan hati kaum zionis untuk menghentikan serangan. Dewan keamanan dunia (PBB) hanya dijadikan tumbal dan simbol Amerika untuk mempermudah ambisinya dalam mencari titel sebagai negara adikuasa

Kita tidak bisa melawan, mengutuk, bedemo kepada mereka, suara kita sangat jauh didengar olehnya, namun kita memiliki obat mujarab yakni berdoa dengan harapan semoga kaum zionis cepat atau lambat disadarkan atau paling tidak dihancurkan dari anggota bumi ini. Sudah banyak umat Islam menjadi tumbal mereka, mayat-mayat bergelimpangan, darah mengalir deras seperti air terjun, disaat itu kita melihat dengan mata kepala walau toh lewat televisi lantas apa yang ada dalam benak kita pada waktu itu?

Kita bangsa Indonesia yang mayoritas dihuni umat Islam sudah selayaknya ikut andil mengantarkan mereka merdeka dari jeruji kaum zionis. Pasukan ABRI saya kira masih belum bisa menyelesaikan persolaan, kita masih minim peralatan tempur selain konsumsi yang malah menjadi perdebatan dan agenda serius ditingkat tinggi seperti saat ini terjadi, asumsipun beredar bahwa tentara kita bukannya membahas bagaimana caranya agar Israel menghentikan gempuran di Lebanon, tapi bagaimana dana itu mengalir bak setinggi gunung. Sungguh aneh..! Paling ujung-ujungnya Korupsi?

Alangkah baiknya pasukan olah jiwa (orang hebat), dukun, Tapak Suci, Pagar Nusa yang sumua itu berhungan dengan kanoh ragan (kekuatan jiwa)serta disuplai oleh doa para kiyai yang diperintahkan untuk mengatasi kaum zinonis. Karena dukun mampu menyantet, menjampi-jampi dari jarak jauh, kalau mau, Bush, Sharoon sebenarnya sudah tewas sejak dulu jika para dukun menyantetnya. Saya yakin tidak ada dosa bagi dukun menyantet orang yang dosa diatas dosa seperti mereka

Kita memiliki banyak dukun, dimana saya menyakini para dukun itu berpotensi besar mampu menjaga keamanan lebih ketimbang tentara. Bedanyapun sangat jauh, jika dukun tidak minta neko-neko, irit biaya, cukup dari jauh (pakai kekuatan goib), kalau tentara sebelum tugas sudah minta konpensasi berlebihan. Tragis,,!

Mari kita menengok kembali sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya suksesnya Indonesia dalam memukul mundur kaum penjajah berkat ikut campurnya dukun atau para ulama kita (saya memakai "atau" karena biasanya ulama banyak yang juga jadi dukun) Kita terlena pada saat itu, bahwa apa yang dilakukan tentara hanya sebuah reaksi dari institusi pemerintahan saja bukan aksi nyata. Cerita penyiksaan dan dipenjaranya para ulama seperti KH Hasyim Asya'ri, H Agus Salim, KH Syamsul Arifien merupakan bukti nyata bahwa dukun atau ulama sangat berperan aktif dalam membawa Indonesia merdeka

Semoga dukun menjadi pembicaraan serius oleh pemerintah saat ini untuk dijadikan benteng keamanan alternatif dalam membantu saudara kita yang diguncang perang terus menerus tanpa henti ini.

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.