Wednesday, October 04, 2006

Maraknya Aksi Cerai

Beberapa tahun terakhir banyak diantara masyarakat kita yang doyan dengan pekerjaan gugat menggugat alias cerai suami istri. Dulu aksi cerai dan dicerai sangat jarang ditemui bahkan manjadi aib kelaurga. Paling-paling hanya segelintir orang saja itupun mereka yang memang diliputi berbagai masalah dalam keluarganya. Misalnya, salasatu keluarga ada yang memeliki pekerjaan mencuri (nyolong)WIL, atau ada permasalahan hebat diantara keluarga

Namun saat ini peristiwa cerai dan dicerai bukan lagi aib namun sudah mentradisi atau bangga dengan masalah seperti ini. Alasannya mumpung masih ada kesempatan hidup untuk berbaga kepada orang lain, bosan dengan rumah tangganya yang kurang bisa memberikan kepuasan jasmani dan rohani dan yang menyedihkan karena mengikuti arus barat yang suka dengan gonta ganti pasangan

Sebagai warga Indonesia sangat malu perisitiwa ini sering kita jumpai akhir dasawarsa sekarang. Selaku bangsa yang berpancasilais dengan begron berketuhanan sudah selayaknya pemerintahan kembali menghidupkan begron salahsatu butir pancasila dan mengingatkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler yang selama ini diagungkan oleh Barat

Monday, September 25, 2006

Menjama' Niat Puasa Ramadhan

Ramadhan telah tiba, warga muslim diseluruh dunia menyambut dengan bermacam warna. Ada gelisah, senang ada pula menanggapi dengan tangan dingin. Begitu pula dengan minggu pertama bulan ramadhan biasanya masjid, musholla selalu dipadati jamaah. Dari para pengecut, hingga para aktivis jalanan terlihat batang hidungnya meski kadangakala hanya sekedar ikut-ikutan atau ngobrol dipelataran serambi

Akibatnya ramadhan dapat separuh bulan shaf barisan masjid semakin berkembang maju suasananya pun redup jauh dari semangat. Dan itu tidak hanya dilakukan oleh para penyandang gelar preman, aktifis jamaah kadangkala lengah oleh peradaban luar masjid yang kian meggiurkan . "Al-imanu yadzidu wayanqus" iman tidak bisa ditebak kadang tebal dan suatu saat menipis

Niat merupakan solusi utama setiap moment. Membentengi dengan niat merupakan jalan terbaik meski hambatan dan rintangan datang secara tiba-tiba. Selama ini banyak orang berpuasa, melakukan ritual ibadah semata-mata bukan karenaNya, gengsi, ingin mendapatkan pujaan merupakan salahsatu pemicu ikut-ikutan berpuasa atau sholat terawih

Dialog Yusuf Qardowi

Bebebapa hari lalu (17/09/06) saya menyaksikan dialog Dr Yusuf Qordowi di televisi Alzeera. Acara yang disiarkan secara mubasyier (live) itu mengangkat persoalan yang berkaitan dengan pelecehan Paulus Benediktus XVI atas pidatonya di Universitas Regensburg Jerman yang menyinggung perasaan umat islam dunia. "Umat Islam marah itu wajar dan wajib marah" Kata Qordowi. Jika melihat agamanya dilecehkan terus diam dia seperti khimar (keledai) Selorohnya dengan nada tinggi


Beliau juga balik bertanya siapa sebenarnya yang identik dengan siyyif (senjata dll) yang kemudian beliau mencontohkan kejadian di Palestina, Irak, Lebanon dll? Bukankah Barat yang sebenarnya identik dengan senjata yang tidak memiliki perasaan kepada umat Islam? Pertanyaan Dr Yusuf Qordowi tersebut yang akhirnya diikuti dalil-dalil alqur'an tentang pengertian Jihat, perang dll. Bukan hanya alquran saja, dalam kitab mereka (injil, taurut) sebenarnya pembahasan mengenai jihat, perang juga ada

Penjelasan QOrdowi di televisi Aljazeera tersebut cukup menarik dan menegangkan karena juga mendatangkan pakar lewat sambungan telephone dari berbagai negara Timur Tengah meliputi Mesir, Jordan termasuk waziiru astaqofah lubnan (lebanon) Dari percakapan singkat tersebut semuanya mengamini dan mengutuk keras atas kejadian itu

Ulama berpengaruh Timur Tengah yang sempat diusir dari negara asalnya Mesir ini mengajak seluruh umat Islam untuk mengadakan unjuk rasa tanpa kekerasan pada hari Jum'at (akhir) akan datang sebelum bulan suci tiba dan itu unkapnya sudah mendapatkan laporan dari negara Arab terutama Mesir yang akan mengadakan unjuk rasa pada hari Jum'at akhir sebelum bulan suci tiba

Friday, September 22, 2006

Jum'at Terakhir

Jum'at sekarang merupakan Jum'at terakhir untuk bulan Sya'ban sebelum memasuki Ramadhan. Tak terasa satu tahun kita berada dalam dekapan hari yang penuh dengan lika-liku dan cobaan

Masih terngiang diingatan saya, pada bulan Sya'ban biasanya ritual kita di Indonesia sangat kental dengan nuansa relegius mulai dari hal puasa Sya'ban, Nisfu Sya'ban hingga pada pergelaran berkatan yang diikuti dengan Yasinan, Tahlilan dll

Tradisi tersebut sebenarnya menggambarkan bahwa budaya dan corak Islam di Indonesia secara khusus sangat kuat. Belum lagi faktor sosial antar sesama. Ini menunjukan jika kita masyarakat yang berbudaya dan bermoral. Hal itu jelas tak terlepas dari empunya pembawa Islam ke Indonesia terutama di pulau Jawa oleh para Walisongo, dimana mereka menyebarkan Islam lewat jalur budaya, menyelinap lewat tradisi jelek yang akhirnya diselipi dengan ajaran keislaman

Sunday, August 13, 2006

Jalan Damai

Ketika seseorang dirundung pertengkaran tak ada bibir melebar  merebahkan senyum kepada seseorang. Hingga teman sendiri sudah  tak lagi menjadi sahabat sejati. Ironisnya hubungan dengan  Tuhan yang merupakan keharusan baginya untuk selalu didekati  terkena imbas hawa nafsu.

Agama sudah memaparkan bahwa perang paling dasyat bagi umat  manusia adalah perang melawan hawa nafsu. Bahkan dianggap lebih dasyat ketimbang perang melawan Israel atau Amerika. Karenanya segala sesuatu dapat tercapai, dan karenanya pula kegelisahan ternyenyat dalam diri ketika keinginan tersendat dan gagal total. Sebenarnya banyak orang menyalahartikan keberadaan nafsu, anggapan dangkal  selam ini nafsu memeliki hubungan kultural dengan kebutuhan  rohani serta jasmani. Padalah pecipta sudah memberikan definisi  dan fungsi masing-masing serta manfaat terhadap anugrah yang diberikan kepada  kita. Mata sebagaimana umumnya adalah alat untuk menglihatan, kaki  untuk berjalan dan masih banyak lainnya, secara khusus memang  tidak dibantah, namun dilain sisi masih banyak manfaat dan  fungsi yang tersembunyi dan harus digali. Inilah kemalasan umat  dunia dalam mencari fungsi dan jati diri

Sunday, February 12, 2006

Tentara dan Dukun

Betapa kasihan mereka yang saat ini sedang dirundung musibah. Saudara kita di Lebalon, Palestina, Irak yang hingga kini negaranya masih belum stabil tidak bisa menikmati indahnya ramadhan dengan sempurna. Rasa was-was warga Lebanon atas serangan Israel dikuwatirkan kembali datang tanpa kompromi dan pandang bulu. Irak yang disinyalir semakin aman namun gencatan senjata dari kaum garis kanan masih bergejolak

Belum lagi keadaan saudara kita di Lebanon yang baru-baru ini kehilangan mata pencaharian, orang tua atau cacat seumur hidup imbas dari gempuran Israel beberapa waktu lalu tentu tidak bisa nikmat dan khusu' di bulan penuh berkah ini. Kita patut berduka atas musibah yang menimpa umat Islam terutama di Timur Tengah akhir-akhir ini. Kutukan dari belahan dunia belum mampu menggetarkan hati kaum zionis untuk menghentikan serangan. Dewan keamanan dunia (PBB) hanya dijadikan tumbal dan simbol Amerika untuk mempermudah ambisinya dalam mencari titel sebagai negara adikuasa

Friday, January 13, 2006

TKW

Setelah hari raya Idul Adha aku bersama kawan-kawan berkunjung ke rumah saudaranya Falah yang saat ini sedang bekerja di Perusahaan milik keluarga Oesamah Bin Laden.

Sebagai seorang yang mengaku TKI dia menceritakan nasib TKW/TKI di luar negeri yang tersiksa, seperti kejadian di Arab Saudi, sebelum ke Mesir beliau berada di Arab, dan meskipun saat ini berada di Mesir masih mondar-mandir Mesir -Arab. Sebagai seorang yang pernah tinggal di Arab beliau menceritakan kejadian penyiksaan TKW Indonesia terhadap majikannya. Penyiksannnya pun cukup kasar dan sadis, yaitu disiksa di kamar mandi, kedua tangannya diikat tali, semua badan remuk karena digebokin oleh majikan, tragisnya dia di dalam kamar mandi selama satu bulan. Apa jadinya jika satu bulan di kamar mandi tanpa diberi apa-apa kecuali minum del-del.

Untungnya mereka masih diberi kekuatan untuk bertahan, jika tidak mereka sudah tiada, karena menurut penuturannya kakinya sudah busuk di dalam kamar mandi itu, karena sakeng lamanya keberadannya di kamar mandi sementara borok di kaki semakin melebar, walhasil kakinya yang berborok itu diamputasi

Wednesday, January 11, 2006

International Book Fair Egypt

Hari Selasa sebenarnya aku punya jadwal ke Jawwazat - Kantor Perpanjangan Visa- bersama Nadhief, karena malamnya aku masih memiliki tugas bersama dengan Mas Rahman ngotak-ngatik website Qalam hingga pagi, sementara aku sendiri belum istirahat, walhasil pagi itu aku tewas bersama dekapan selimut tebal hingga siang

Tanpa menunggu lama-lama si Nadhief berangkat sendiri ke kantor Jawwazat, tanpa disangka ketika dalam perjalanan banyak mobil-mobil tidak bisa jalan dan terjadi antrean panjang, slidik punya slidik ternyata hari Selasa kemarin ada pembukaan Ma'roj atau International Book Fair Egypt

Meskipun pulang dengan tangan hampa karena tidak jadi ke Jawwazat, tapi dia sudah memberikan informasih ke aku dan kawan-kawan kalau perhelatan akbar yang ditunggu seantero Mesir dan para mahasiswa termasuk Indonesia ini sudah dibuka.

Hari Raya Idul Adha Ngelencer di Muhandisin

Berhari raya di negera lain, rasanya memiliki keunikan tersendiri, meskipun tak semeriah di Indonesia, namun masih ada suasana hari raya. Salahsatu faktor mungkin adalah tradisi (tradisinya orang-orang Indonesia ternyata masih kental), kalau di Indonesia tradisi sudah melekat erat bagaikan perangko terutama hari-hari besar Islam, seperti hari raya Idul Adha kali ini yang jatuh pada tanggal 10 januari 2006. Jika di Indonesia hari raya Idul Adha dimeriahkan dengan pagelaran takbir keliling, di pagi harinya tak kalah menariknya adalah penyembelihan heran korban yang begitu meriah.

Disini tidak, malam hari raya, tak ubahnya hari-hari biasa. Masyarakat seperti biasa menjalankan aktivitas. Takterdengar lafadz takbir "Allahu Akbar", dan di pagi hari suasana seperti biasa juga sholat Idul Adha setelahnya pulang ke rumah masing-masing kecuali para panitia penyembelihat hewan korban

Monday, January 09, 2006

Mengenang Hari Kemanusiaan

Tak terasa ternyata aku sudah berada diujung hari raya Idul Adha, yang akan dirayakan besok, dalam benak diriku wah cepet sekali hari, masih terasa suasana Idul Fitri tiba-tiba Idul Adha menyambut.

Meski tidak berhari raya di kampung halaman, bahkan sudah bertahun-tahun aku tidak merayakan Idul Adha di rumah, semenjak aku berada di pesantren hanya satu kali aku merayakannya yang saat itu aku mengabdi di ma'had. Masih terngiang dalam ingatanku, jika Idul Adha tiba pasti besok akan mayotr sate, makan daging terus, dan siap-siap untuk sakit gigi.

Hari raya Idul Adha di kampungku berbeda dengan suasana di daerah lain, jika daerah lain cuman merayakannya dengan menyembelih sapi atau kambing, namun di kampung halamanku tidak hanya itu saja, melainkan mengelencer (jawa) atau silaturrahim ke rumah-rumah tetangga persis suasana hari raya Idul Fitri