Skip to main content

Hari Pertama Idul Fitri di Mesir

Begitu menyedihkan, tulisanku menjawab pesan singkat dari teman akrabku Musliem Masturoh setelah sholat Idul Fitri yang untuk tahun ini agak sedikit lebih aneh dibandingkan tahun kemarin yaitu berpusat di Hay Asyer masjid Assalam untuk orang Indonesia. Sebagian bilang sholat Ied sekarang dipusatkan tempat komplek mahasiswa Indonesia terbanyak di Mesir, sebagai perpisahan duta besar RI untuk Mesir Prof.Dr Bakhtiar Aly, MA yang sudah habis masa jabatannya. Di lain sisi rumor yang beredar adalah upaya wakil duta RI Muzammil MA untuk menarik simpatik warga Indonesia di Mesir, mencari dukunganlah,,biar kuatlah dll, dan ada juga orang fanatik terhadap wakil duta itu telah memploklamirkan bahwa beliau telah menjabat duta RI Mesir

Hari lebaran kali ini kayaknya serentak diseluruh penjuru dunia, Indonesia, Yaman, Pakistan, Arab Saudi dll, berlebaran pada hari ini (kamis/03/11), beda dengan tahun kemarin, Negar-negara liga arab lebih awal dari Indonesia, meskipun aku melihat sebagian warga kita merayakan pada hari Rabu, sebagaimana aku lihat di liputan6.com bahwa untuk daerah Situbondo dan Jember merayakan pada hari kemarin. Biarlah mereka merayakan, gak ada masalah, perbedaan itu wajar aja, rahmat khan,,,!



Menjelang Idul Fitri, malam aku bergadang, memegang komputer di kamar sambil memantau perkembangan informasi Indonesia lewat cyber media internet,  tak ketinggalan rokok bermerek Indonesia aku hisab, entah berapa banyak yang udah aku habiskan, kok tahu-tahu udah tinggal bungkusnya. Suasana di Mesir menjelang malam Idul Fitri, aku rasakan tidak ada keistimewaan tersendiri seperti halnya di Indonesia, sama halnya hidup-hidup biasa, tidak ada takbiran allahuakbar layaknya masyarakat kita menjelang malam lebaran, kehidupannya sepi, yang ramai hanya lalu lalang mobil di jalanan. Makanya sejak sore hari menjelang berbuka lafat allahu-akbar aku putar dalam Pc komputer, yang lagu itu aku dapatkan lewat radio online di Indonesia, biar suasana di IKBAL terasa seperti di Indonesia, aku putar terus-menerus tak henti-henti. Sembari menghisab rokok, aku terus memantau perkembangan suasana takbiran di Indonesia dari Detik.com dll, terkadang mengecek email dan milis. Turut hadir kakak lama yang dulu pernah tinggal di IKBAL Pak Zeki alumni Gontor mengabdi di AL-AMIEN dan pernah menjadi guruku. Orang kecil, mungil, orang menjulukinya sebagai raja game, karena kalau sudah memegang komputer dan main game sudah tak mengenal waktu dari pagi sampai pagi lagi. Datangnya dia ternyata membawa berkah bagi kawan-kawan yang diam di IKBAL, anak-anak dibelikan Sarden Ikan dan Sarime, ukuranku Sarimie dan Ikan Sarden disini sudah wah dan meriah, sebab harganya mahal sekali. Turut beli waktu itu si Imam, dan Sidik, aku ditawari untuk ikut beli, aku menolaknya alasan masih berasyik ria dengan internet, “ya sudah aku nyumbang aja” ucapku dengan nada gurau, padahal aku gak punya uang sama sekali.

Tiba-tiba ada teman satu kamar yang saat itu berada di rumah temannya menyapa lewat Yahoo Massenger, aku bilang “ya udah ente ke sini aja kawan-kawan lagi slametan, gak datang rugi”. tak menjawab ternyata beberapa menit kemudian dia datang dengan temannya, kebetulan masakannya udah datang dan masih dimasak, tapi dia pergi lagi ke rumah temannya, mungkin disitu juga lagi slametan, benar dugaanku, slametan dengan bentuk dan resep sama dengan di IKBAL. Sesudah makan di IKBAL, seperti biasanya kalau sudah makan memegang rokok, “Wah udah habis rokokku” ya,,,udahlah aku mau lihat informasi lagi di Intrenet” kata hatiku. Tuhan berkehendak lain, beberapa menit kemudian si IBNU bin Joko Tole datang ke IKBAL tanpa diundang, tongol,,”haloo John” ujarnya, friend mana celanaku yang kamu pinjem itu”katanya dengan prilaku sok preman, suara lembutku menyapa, “oh jelana jelek itu ya, tuh,! Di lemari”. Ternyata dibalik itu dia juga mengundangku pergi ke rumahnya, “John ke rumah yuk, aku punya rokok merek Indonesia” katanya. “Emang siapa aja disana” pertanyaaku. “udahlah ke sana aja banyak kok”. Rumah yang dihuni Ghoffar, Amier, Ibnu, Yaqien dan Kholid El Abu El-Fadl itu memang lagi masak, aku sendiri gak mau nanya apa yang dimasak, dengan juru masak handal si Amier akhirnya aku disuruh untuk ikut makan, meskipun gak enak masakannya Amier, sebagai tamu rasanya aku harus menghormatinya, ya udah aku makan aja deh. Malam itu sudah pukul dua tengah malam dan semua kawan-kawan IKBAL kayaknya gak ada yang bobok, termasuk rumahnya Ghoffar Cs, biasalah malam lebaran bergadang daripada tidur nanti malah menyebabkan stres dan susah mendingan bergadang kumpul ama teman-teman se angkatan.

Waktu itu juga Ibnu Bin Joko Tole, dapat telephone dari orang tuanya, dengan sedikit lega setelah sempat bertemu dengan keluarganya toh melalui telephone, dengan nada gembira diakatakan bahwa di Indonesia sekarang sudah selesai sholat Idul Fitri. Waduh ucapan Ibnu itu mengundang ingatanku tentang hari raya di rumah, seperti biasa habis sholat Ied, seluruh keluarga kumpul blek di rumah, dan orang-orang pertama kali dituju juga kerumah, ramai banget, sembari menghisab rokok pemberian ibnu malam itu aku menjadi-jadi ingat rumah, meskipun sore itu aku sebenarnya juga sudah di telephone orang tua, namun aku ingat lagi keadaan rumah yang begitu indah bersamanya. Hampir berjam-jam aku berada di rumah Ghoffar Cs, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat setengah jam, “wah ini sudah hampir Subuh” kalau gak buat tidur waktu sholat Ied nanti bisa ngantuk nih, akhirnya aku akhiri berkunjung di rumah Ghoffar Cs dan kembali kerumahku di IKBAL, kendati cuaca di sini gak bersahabat alias dingin banget, aku menekatkan diri pulang aja, jarak juga tak terlalu jauh dari rumahku kok. Dalam dekapan malam yang mencekam itu aku pulang dan di sana ternyata anak-anak juga belum ada yang tidur, ada yang show time kek lihat film baru, ada yang main internet dan ada yang sekedar main-main game, kabetulan di rumahku ada empat komputer dan satu laktop, jadi setiap hari suasana di IKBAL terasa seperti suasana di bioskop atau keadaan di pasar ramai terus dan hal inilah sebenarnya aku takutkan nantinya atau amma bakdunya, kalau sudah aktif kuliah karena aku kuatir nanti malah mengganggu jadwal belajarku.

Jam yang hampir Shubuh itulah aku menekatkan diri tidur dalam dekapan kasur kecil dan jaket tebal aku nyenyak, dan tak terasa aku terbangun diluar jam yang aku agendakan, aku telat bangun (banggkong) jam tujuh kurang dimana orang-orang Mesir berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan untuk sholat Ied aku malah baru bangun dari mimpi. “Eh bangun-bangun, sholat Ied mau dimulai tuh” Ujar si Masykur Abdillah. Dalam keadaan masih ngantuk, aku berusaha untuk menuju ke kamar mandi, dinginnya air diwaktu pagi memaksakanku untuk mengurungkan niat mandi, padahal mandi pada hari raya adalah sunnah besar, dan mungkin ini tradisiku di Mesir ketika menjelang waktu sholat Ied, dulu ketika aku di Indonesia mandi ketika akan sholat Ied adalah wajib yang harus dilaksanakan. Biarlah itu sebenarnya bukan alasan kemalasanku, hanya air saja yang tidak mau diajak kompromi, dalam hati kecilku. Lantas gimana dengan sholat Idul Fitriku yang sudah ketinggalan dengan mereka? Ya udah gak apa-apa khan jam delapan nanti di Masjid Assalam masih ada sholat Idul Fitri lagi (sholat khusus bagi warga Indonesia di Mesir). Setelah segala urusan dengan diri sendiri beres, aku dan rekan-rekan IKBAL memberangkat diri menuju ke Masjid Assalam, ternyata masyarakat Indonesia di situ sudah mulai sholat Idul Fitri, masjid yang begitu besar udah penuh dengan warga Indonesia.

Meskipun aku dan rekan-rekan seberangkatan ke masjid ketinggalan satu rokaat, tak mengurangi kekhusukanku menjalankan sholat Idul Fitri ini. Dalam masjid yang besar itu pula Moh Faiz Syukron Makmun, Lc, mahasiswa S2 Universitas Kairo didaulat menjadi Khotib hari raya, mahasiswa yang sudah malang melintang ke berbagai dunia ini yang berkat kelihaian retorikanya membawakan tajuk tentang ukhuwah dan rasa kepedulian sosial sebagai mahasiswa. Hadir pula waktu itu adalah duta besar RI dan pejabat-pejabat KBRI. Seperti biasa habis sholat Idul Fitri dan salam-salaman sesama teman di masjid dilanjutkan kumpul per konsulat (kekeluargaan), aku yang ikut kekeluargaan FOSGAMA (Madura) disitu telah berkumpul para rekan-rekan yang menghidangkan berbagai makanan khas Indonesia. Dan semua kekeluargaan diberbagai daerah di Indonesia juga menyediaakan makanan khas Indonesia diberikan secara gratis kepada para anggota kekeluargaan ya memang dananya itu dari KBRI untuk mahasiswa Indonesia yang disalurkan lewat kekeluargaan. Acara seperti ini memang sudah mentradisi bagi warga Indonesia di Mesir, tahun dulu dimana merupakan tahun pertamaku juga demikian makan-makan antar konsulat.

Bersamaan dengan acara makan dimakan itu, terlihat aneh dari duta besar RI Bakhtiar Aly MA membagi-bagikan uang kepada orang-orang yang ada disekitarnya, entah ada apa dibalik itu semua yang jelas aku dapat kabar itu sebagai kenang-kenangan terakhir bagi beliau bertugas di Mesir, beliau memang akan meninggalkan Mesir dalam waktu dekat ini, dalam benak hatiku udah berapa uang yang beliau keluarkan untuk itu, ya mungkin beliau kelebihan uang” perasaanku. Sebenarnya ketika itu aku berada di belakangnya Pak Duta RI, sambil jalan beliau sambil memberikan uang kepada orang-orang Indonesia terutama yang sudah berkeluarga. Sebenarnya aku malu mengintai pak Duta alias membuntuti terus, bukan itu niatku awal, aku bersama dengan Amier dkk ingin pulang sehabis makan-makan bersama Konsulat, karena terjebak arus mahasiswa Indonesia yang banyak akhirnya aku lewat jalur lain, ehh ternyata disitu banyak bapak-bapak KBRI termasuk salahsatunya adalah Bapak Duta RI Bakhiar Aly MA

Dan akhirnya aku pulang menuju kos-kosanku yang jaraknya dengan masjid itu tidak terlalu jauh, pada saat itu pula aku bertemu dan bersalaman dengan Ust Fauzi Tidjani Lc, putra KH Tidjani Jauhari MA, yang selama aku tinggal di Kairo jarang ketemu beliau, mungkin sibuk sebagai mahasiswa S2 di Zudan

Pada saat itu pula aku kedodoran SMS dari Indonesia, ada dari rekan sekampung, ada dari Ustadz-ustadzku di Al-amien dan dari Muslim Masturoh, terakhir di telephone Ayah dan Ibu untuk kedua kalinya, isinya sama yaitu ucapan selamat lebaran....! Setelah itulah aku kembali digoncang kegundahan dan kegelihasan karena tidak bisa berlebaran di rumah,,,! MET LEBARAN MINAL AIDZIN WAL-FAIDZIN,,MAAFKAN AKU JIKA ADA KATA-KATA YANG KURANG BERKENAN DIHATI TEMAN-TEMAN SEKALIAN

03/11/05

12.21 Wk

AgusRomli

Comments

Popular posts from this blog

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Pembantaian

[caption id="" align="aligncenter" width="363" caption="mohammad digantung/youm7.com"][/caption]
Kalau melihat gambar di atas, saya teringat waktu pembantaian dukun santet yang ramai dibicarakan dengan sebutan "aksi ninja" akhir tahun 1998 silam. Puluhan kepala diarak di jalan-jalan seperti konvoi pada sebuah partai politik. Yah memang waktu itu sedang bergejolaknya partai politik pasca turunnya orde baru yang tumbuh bak jamur
Lalu berkembanglah kasus pembantaian dukun santet tersebut yang pada akhirnya berubah nama menjadi ninja dengan keadaan politik saat itu yang semakin memanas. Begitupun dengan peristiwa dua hari kemarin di Lebanon, seorang warga Mesir tewas setelah dihakimi massa oleh warga Katermaya selatan ibu kota Bairut Lebanon setelah dituduh membunuh 4 orang dalam satu keluarga

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.