Sunday, April 15, 2018

Pernikahan


Saya merasa  senang ketika ada acara mantenan atau istilahnya jawa ngeterne manten. Bukan karena hidangan beragam menu atau karena ikut dapat baju seragam baru. Tapi lebih dari itu, semangat saya kembali berkobar. Seperti koboran api yang sedang aktif meluluhlantahkan gedung bangunan yang terbakar

Ibarat baterai hp itu  menjadi full dari tinggal 2 persen. Memang kita butuh namanya motifasi. Dari situ muncul semangat untuk kembali siap bertarung seperti sedia kala. Motifasi tak selamanya bersumber dari acara mantenan. Apapun yang dapat menggairahkan hidup semangat muda lagi. Itulah namanya motifasi.

Doa iftitah sebelum ngiring manten gus ayus


Nah mantenan bagi saya menyulut konsentrasi sangat besar mengalahkan lainyya. Karena mengingatkan saya akan pertama kali melangsungkan acara seperti ini

Di desa saya, orang yang sedang nyambut gae mantenan selalu ramai bahkan hampir ngalahin ramainya pertandingan sepak bola atau tanggapan dangdutan. Selama satu minggu tetangga desa yang dipasrahi rewang sudah menyibukkan diri walau sebenarnya kadang gak ada penggawaian, yang penting bagi orang desa pokoknya nampak dan pokonya dapat sesuatu.

Prosesi ijab kabul


Kalau saya pikir pikir kadang antara perewang dan tamu undangan tak jauh beda dilihar dari segi banyaknya. Kadang malah sebaliknya jumlah rewang melebihi jumlah undangan. Ini bikin kasian tuan rumah karena harus menanggung konsumsi para perewang.

Seiring perjalanan waktu yang kian berkembang dan modern. Masyarakat desa sebagian kecil sekarang ikut-ikutan tradisi perkotaan. Yah itung itung biar dianggep wong kuto tapi aslinya rejeki deso. Jadi tradisi seperti ini kalau ada penggawean gak perlu butuhin banyak orang, seperti sulapan tiba-tiba hari itu banyak orang berdatangan. Semua jenis makanan dan minuman dll biasanya telah dipesan bahkan kadang sudah satu paket dengan tarup? Dll.



Kalau sudah menemukan acara seperti ini biasanya terjadi bisik-bisik tetangga. Satu kampung pada ngrasani sana-sini sambil nyinyirkan lambe turah “tidak ada mendung kok tiba-tiba hujan yah”. Begitulah kalau tradisi rewang kemudian berubah menjadi sesuatu yang instan.

Nah kemarin di Berasan  ada tiga gawe mantenan yang waktunya hanya selang hari bahkan selang jam saja. Pertama Gus Ayus putra Yai Nur Muhammad Iskandar Jakarta. Kedua, putri nyai Afif. Ke tiga, Gus Mamad putra Yai Maksum Nur bersamaan pula dengan acara haul mbah yai Kandar.

Saya gak tau adakah para perewang yang remek badannya. Saya juga belum dapat slentingan ada peladen yang keju linu karena nyuguhi tamu undangan. Tapi saya denger katanya minggu ini banyak becean.

Kalau mengutip gus Faruq bulan ini bulan baik karena berbarengan dengan peringatan maulid nabi. Mungkin berbeda bagi petani dimana bulan ini bulan sibuk menanam padi. Maklum saja bulan ini bulan sibuk dan repot. Sibuk kondangan dan repot becean..




Thursday, March 08, 2018

Paska Operasi Anakku

Sudah satu tahun ini anakku yang ke tiga melakukan perawatan di Surabaya. Selama itu sudah dua kali operasi yang dijalaninya. Pertama tiga bulan setelah lahiran. Ke dua, bulan Januari kemarin. Surprise rasaya melihat perkembangannya yang semakin membaik dan semakin cantik. Begitu besar kuasa Allah pada manusia yang mampu merubah segalanya pada manusia yang serba kekurangan ini.



Masih segar dalam ingatan satu tahun lalu, hati ini terasa sok dan lemas ketika dokter kandungan memfonis anakku yang ketiga lahir dalam keadaan cacat atau istilah umumnya bibir sumbing. Tidak ada tanda-tanda anakku akan lahir seperti ini. Tapi tuhan berkehendak lain dan mungkin juga ini terbaik bagi keluargaku untuk selalu bersabar atas kondisi yang menimpa anak ketigaku.

Hari berlalu dan cobaan awal masa kelahiran pun datang menghantui istriku terutama bagaimana cara menyusui dengan baik dan benar. Dari dokter, bidan dan orang-orang yang anaknya bernasib sama telah mengajari. Tapi belum cukup memberikan solusi karena masih saja rewel, khususnya pada malam hari dan itu terus menerus hingga proses



operasi pertama dijalani. Aku menduga anakku kekurangan usapan susu yang mestinya bagi seumuran bayi baru lahir membutuhkan nutrisi dari ibu lebih banyak.

Nutrisi yang berupa air susu ibu kurang maksimal, tidak bisa masuk dalam kondisi anakku yang bibirnya sumbing disertai langit-langitnya. Demikian pula dengan cara lain seperti dot khusus bibir sumbing juga tidak bisa mengatasi rewel pada malam hari.

Kemudian ganti pipet supaya mempermudah dalam meminum air susu, pun agar susunya tidak masuk ke rongga langit-langit kuatir manti kesedak. Pipet juga belum mengatasi dan bahkan menurut dokter tidak dibenarkan menggunakan pipet karena membatasi usapan yang hanya melalui tetes. 

Alhmdulillah setelah operasi pertama berupa bibirnya yang dijalani pada awal april tahun lalu, kondisi anakku tidak serewel sebelum operasi. Pada malam hari Queen Fatima Azzahra demikian nama anakku, bisa tidur lebih baik dari sebelumnya.

setelah operasi pertama di rumah sakit primer surabaya
Tapi kadang juga masih sedikit rewel, maklum baru operasi dimana butuh perawatan terutama daerah bibir yang masih nampak jelas jahitan bekas operasinya. Dan alhmdulillah pula bibir yang tadinya berlubang kini telah tertutup rapat menyerupai bibir manusia pada umumnya walau tidak sesempurna orang lahir normal pada umumnya. 

Kemudian bulan Januari kemarin anakku kembali menjalani operasi ke dua di rumah sakit yang sama. Kali ini menyempurnakan langit-langit yang masih berlubang. Alhmdulillah berjalan lancar tanpa hambatan. Walaupun jika dibandingkan dengan operasi pertama, yang ke dua ini terbilang agak berat karena menyangkut operasi dalam terutama di daerah rongga tenggorokan.
kondisi setelah operasi kedua di rs primer surabaya
Tentu rasa syukur terima kasih kupanjatkan pada Tuhan sang maha pencipta. Dimana masih ada kesempatan buat anakku untuk menjadi manusia pada umumnya layaknya manusia lain.

Dalam masa paska operasi pertama aku dan istriku di Surabaya sekitar dua mingguan lebih. Banyak hal yang harus aku sampaikan terutam ucapan terima kasih kepada keluarga mas Waris dan Mbak O’ot yang telah memberikan penginapan dan jamuan harian kepada kami. Karena di tempat itulah aku, istri dan anakku menginap dan makan disitu.

Sekarang sudah sekian kali anakku kontrol di rumah sakit. Dari mingguan, satu bulanan hingga beberapa bulan mungkin ada 10 lebih kontrol wora-wiri ke Surabaya. Dan alhamdulilah bisa berjalan normal, wajah dah normal dan lain-lainnya.

Thursday, April 06, 2017

Sabar dan Ihlas 2

Kadangkala kita terbawa oleh pola pikir dan keyakinan orang-orang turots yang selalu mengkaitkan sebuah kejadian dengan sesuatu, kadangpula kita skiptis dan bertolak belakang dengan teori-teori itu, lalu  berpikir secara realistis dan kekinian dengan segudang wawasan tehnologinya.

Wednesday, April 05, 2017

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.

Monday, January 02, 2017

Jaulah

Suatu hari kemarin saya diminta persetujuan oleh tetangga yang kebetulan memiliki keyakinan tentang ibadah kepada Allah. Beliau adalah salahsatu pimpinan Jaulah di desa. Yang oleh kebanyakan orang faham jaulah kurang mendapatkan tempat di masyarakat.

Beliau minta izin supaya anak-anak yang kebetulan liburan masih tinggal di pondok untuk mengikuti kegiatan yang menurut bahasa mereka "diklat iman dan taqwa" selama tiga hari. Bagi saya pribadi gak jadi soal anak-anak ikut kegiatan tersebut selagi masih terbatas pengenalan tapi bukan pada subtansial ajaran mereka yang terkenal dengan khuruj untuk berdakwah.

Saturday, December 31, 2016

Refreising

Melepaskan diri dari aktifitas menguras otak memang harus disempatkan. Paling tidak satu bulan sekali. Atau kalau perlu berkali-kali asal jangan saben hari. Ini perlu mengingat otak gak bisa diforsir untuk bekerja atau berfikir terus tanpa jeda, Bisa berakibat "sesuatu".

Dan anak-anak kalau sudah diajak untuk hal-hal seperti ini responnya cepat tanggap daripada ketika mereka disuruh untuk cepat belajar ngaji atau istirahat. Hari kemarin ide tertuang namun daya tak ada hasrat untuj jalan-jalan. Hanya desakan anak-anaklah kemalasan itu dengan sedikit terpaksa harus dijalankan.

Wednesday, December 28, 2016

Penistaan Agama

Andai saja seorang buni yani tidak mengapload pidato Ahok barangkali isu penistaan agama tidak akan seheboh sekarang. Demikian juga andai saja Ahok tidak mencalonkan diri sebagai calon gubernur atau Ahok adalah orang pada umumya manusia dan bukan siapa-siapa, postingan buni yani hanya menjadi arsip/sampah media sosial.

Anda mungkin sudah sering mendengar bahkan melihat dengan mata sendiri baik di media sosial maupun di alam nyata seorang pemuda menginjak-nginjak alqur'an namun dibiarkan berlalu begitu saja. Atau hanya ditegur seperti seorang kena tilang di jalan raya. Sekali lagi karena mereka bukan siapa-siapa.

Thursday, March 24, 2016

Petani

Setiap kali terjadi obrolan relatif ringan dengan masyarakat bulan lalu, pasti yang ditanya; mengapa musim hujan tak kunjung tiba. padahal ini bulan hujan. Pertanyaan ini menjadi harapan dari masyarakat sini yang mayoritas petani sawah yang butuh segera padinya digenangi air. Maklum hingga kemarin daerah saya memang jarang hujan. Itu berbeda dengan daerah tetangga yang saya lihat kerap hujan walau juga tidak sering dan relatif biasa-biasa saja.

Seretnya air ke depan pasti akan mempengaruhi tingkat kesuburan padi dan  juga hasilnya. Apalagi saya melihat banyak padi di sawah yang sudah mulai ambruk karena kekeringan, termasuk banyak padi yang mulai kopong karena kurang serapan air. Persoalan ini ke depan banyak petani yang gagal panen. Lantas penghasilanpun akan mempengaruhinya.


Saya juga mendengar ada diantaranya sedikit stress,  dan mengeluh. Mungkin ada banyak harapan tapi tak sesuai dengan kenyataan. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Saya kira masyarakat perlu merenungkan mengapa hujan sangat jarang turun di desa kami. Tuhankah? Atau masyarakatkah yang kurang bersyukur?.

Dalam pertemuan dengan beberapa elemen masyakarat sini kemarin bahwa ternyata sudah dua tahun proses penarikan zakat yang biasanya dikelola oleh PHBI (pengurus/panitia hari besar islam) tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga mungkin saja petani yang kurang sadar dan sudah berkewajiban membayar zakat zuru' tidak menjalankan undang-undang agama.  

PHBI sejak dulu menyadarkan orang untuk membayar zakat. Penarikan gabah/padi setiap panen pengurus berkeliling dari rumah-kerumah untuk setor hasil tani yang sebelum penarikan tentu diadakan sosialisasi dari jamaah ke jamaah lain. Cuman dua tahun belakarang pengurus baru belum menjalakan tradisi itu.

Oleh karena itu, dalam pertemuan kemarin yang dihadiri masyakarat sini sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan segara bergerak menarik zakat kepada para petani. Pertemuan itu juga dibacakan sebuah kitab yang intinya akibat orang/masyarakat yang tidak membayar zakat salahsatunya akan disulitkan air hujan turun.

Mudah-mudahan  bergeraknya PHBI dalam menarik zakat  ke masyarakat bisa membawa berkah teruma dipermudah turunnya  air hujan. Amin.


Sunday, December 27, 2015

Selamat Menikah

Kalau tak salah hari ini kawan saya dari Gresik Jih Imam Wahyuddin begitu saya menyapanya melangsungkan pernikahan yang pertama kali dan mudah-mudahan juga terakhir hingga akhir hayat. Sedih rasanya tidak bisa ikut serta acara akbar itu. Karena minggu lalu saya sempat menyanggupi bisa hadir disana ketika dia mengabari saya soal ini dan berusaha ikut andil atas kebahagian mereka berdua. Tapi takdir mencatat lain bahwa hari ini saya belum bisa bersilaturrahmi.

Mengenal jih Imam maka tak bisa saya lepaskan dari intelektualitasnya. Sejak dulu ketika sama-sama masih di pesantren bakat menulis serta kemampuan membaca yang tekun telah menginspirasi saya untuk membaca dan berdiskusi.  Idiologi ini terus terbawa hingga akhirnya sama-sama melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Walaupun pada akhirnya di sana beda jalan. Tapi semangat itu sebenarnya masih menyatu yaitu soal keakraban, kebersamaan dan saling memberi masukan. Bahkan  ihram pun juga bersama-sama.


Ada satu hal pesan dia yang belum saya lupakan sampai sekarang “Jih kamu harus selesai, dan pulang kampung tahun ini”. Testimoni ini disampaikan ketika berada di Madinah sebelum berpisah meninggalkan tanah haramain.

Dari kebersamaan itu hanya satu yang terlewatkan dan tidak kompak, soal nikah. Jih Imam menurut saya sedikit terlambat dari kawan-kawan lain yang sudah mendahului bertahun-tahun termasuk saya hingga memiliki karya momongan masing-masing. Walaupun sebenarnya kata terlambat bukan inti dari label nikah daripada tidak sama sekali. Intinya sebenarnya kenikmatan. Bedanya Jih Imam baru dan akan menikmati “rasanya”, sementara kawan lain termasuk saya sudah menikmati “rasanya” berkali-kali. Mungkin saja Jih Imam nanti malam atau lusa dalam lubuk hantinya akan merasa menyesal “kenapa kok tidak sejak dulu..!”.

Selamat menikah jih..semoga barakah dan manfaat. Amien