Thursday, September 06, 2018

Ngruat Kemanten


Pada sebuah perjalanan ngantar kemanten, Saya dan Gus Plengen tersenyum agak kecut dikit ketika salah satu kawan bercerita akan didapuk imam ngruat calon kemanten putri. Dalam hal status sebagai generasi zaman now atau menurut istilah orang Porwo hidup di genenari milinial, dalam hati tulus yang terdalam saya  mengelus dada sambil bertanya-tanya sendiri “hari gini masih ada saja ngruat”. Tapi terserah merekalah, itu khan keyakinannya. Hormat tradisi nenek moyang. Lagi pula isinya paling tahlilan, baca yasin. Hanya istilah namanya saja kejawen, tapi ritual dan pelaksanaannya gak jauh-jauh dengan ngajinya orang mati antara baca yasin, tahlil dan berkatan.

pernikahan moh David

Jadi gak perlu dibesar-besarkan. Terlalu besar-besar juga gak baik. Selama tidak melenceng dengan akidah Islam atau syariat Islam gak jadi soal. Banyak soal ya juga bingung menjawabnya. Begitu ngendiko Gus Plengen dalam diskusi di perjalanan nganter kemanten siang itu.

Lalu dimana letak yang kurang ngepas sehinga mengagetkan bagi genenari zaman now? Sebenarnya kalau dipikir-pikir tidak ada yang gak pas selagi yang bersangkutan mampu segalanya. Tapi yang menjadi soal atau disoal kalau yang bersangkutan tak berdaya. Hanya menjalankan perintah nenek moyang, atau mengikuti arah angin maupun keyakinan saja, gak menyadarkan diri kalau bersangkutan bukan termasuk orang berada. Sehingga gak cukup sekedar satu atau dua pengorbanan biaya acara, tapi juga untuk biaya acara ngruat.

Ngruat istilah dalam kemanten menurut kamus besar orang jawa yaitu nyelameti calon manten sekaligus kirim doa leluhur supaya dipermudah dan diselamatkan dari hal-hal yang tidak diingkan selama menjalani kehidupan berumah tangga. Tradisi kejawen sebenarnya punya makna historis sosioligis yang kadangkala perlu dilestarikan selama gak menyimpang dengan agama. Cuman belakangan ini tradisi kejawen hanya tinggal sejarah dan cerita-cerita yang terlupakan. Padahal disitu tersimpan beberapa makna yang perlu digali untuk generasi milinial.

Akhirnya Gus Plengen sadar betapa pentingnya mempertahankan tradisi ataupun budaya masing-masing tempat selagi masih singkron dengan agama. “Lalu sekarang kenapa orang ngruat banyak terlihat asing?” Tanya Gus Plengen sambil keherananan. Menurut saya terasingnya istilah ngruat terkontaminasi oleh gaya hidup masa melenial yang serba instan. Ke dua, generasi milinial cenderung menikmati hidup modern di zaman yang viral dengan modern. Orang modern ogah dengan istilah-istilah kedesitan -deso-. Ini anomali, tapi nyatanya gak terbantahkan. Anda bisa lalukan survai sendiri di desa saya. Berapa banyak generasi sekarang ogah ikut orang tuanya bertanam padi atau garap sawah miliknya. Lalu pada akhirnya generasi persawahan alias petani kian sulit ditemukan. Mencari buruh untuk  nanam padi sekarang sulitnya gak karuan. Dan begitu sebaliknya mencari orang yang sedang main hp sambil wifian sangat mudah ditemukan.

Lalu Gus Plengen dawuh “hidup ini semakin lama kian hampa, generasi old banyak bertumbangan termakan usia, sementara generasi now semakin terus bertambah ”. “Lho maksudmu gimana Gus?” Timpal saya yang gak ngerti alur pemikiran Gus Plengen yang sulit dipahami oleh mahluk normal kalau sudah mulai berfilosofi. Sambil menikmati perjalanan nganter kemanten yang kian bergelombang jalannya, Gus Plengen diam lama seolah terlihat berpikir dalam dan ingin menjawab dengan filosofi yang sulit diartikulasikan itu, namun sayang belum terjawab, perjalanan panjangn nan jauh itu sudah keburu tiba ke lokasi akad nikahnya David


Saturday, September 01, 2018

Nikah Muda


“Kapan kamu kenal dengan istrimu?” Dengan cengingisan Mad Plengen menjawab dengan sikap lugu “Satu tahun ini mas”. lalu saya tertarik lagi untuk bertanya karena se tahu saya laki-laki ini sudah beberapa tahun belakangan merantau ke Kalimantan, kok  tiba-tiba sudah melangsungkan pernikahan. “Lewat apa kamu berkomunikasi dengan istrimu ini?” Saya sudah bisa menebak kalau jawabannya nanti pasti komunikasi lewat handphone, anak zaman now gak bakalan terlepas dari hp.


Ya Mad Plengen adalah sekian anak muda yang bisa dibilang berani melangkah lebih maju untuk berumah tangga diusia sangat muda untuk ukuran zaman now ini. Saya tak akan berandai-andai masalah apa dan mengapa melangsungkan pernikahan di usia muda dan begitu cepat sekali, atau seperti yang sering kita dengarkan bahwa kalau tidak kena korban ya jadi korban. Mengambil istilahnya generai old sudah hamil duluan. Dan missal kalau sudah terjadi seperti ini biasanya isunya boming. Dan saya kira si Mad Plengen jauh dari isu itu sehingga saya sedikit mengambil kesimpulan  awal kalau dia terlepas dari hal-hal seperti itu.

Alhasil mereka melangsungkan pernikahan di usia yang terbilang muda. Namun begitan dewasa dalam bertutur kata. Untung saja Mad Plengen menikah bukan karena desakan orang tua atau alam, tapi karena keinginan kuat untuk segera mencicipi apa yang dinamakan nikmah dunia itu. Memang kadatang desakan orang tua salah satu penyebab sebuah pernikahan itu tidak langgeng walaupun tak sedikit yang justru menjadi langkah awal untuk menatap masa depan lebih baik karena ada kecocokan di masa merajut hidup.

Kecocokan itu saya nilai karena terdesak oleh keinginan untuk saling memahami, mengasihi dan menyayangi. Bahkan konon orang zaman dulu lebih banyak dipengaruhi oleh factor orang tua ketimbang pilihan diri sendiri.   Tapi nyatanya banyak melahirkan generasi lebih baik dari zaman now. Dan semuanya kembali kepada masing-masing kalau kita bicara masalah kelanggengan ataupun bisa mencetak generasi berwibawa dan bermartabat alias unggul dan baik.

Nah Mad Plengen saya sirat dalam gasturnya memiliki ambisi untuk bisa merajut kehidupan yang lebih baik diatara hidupnya yang kurang baik. Semangat itu pula yang menampung Mad Plengen berkeinginan untuk segera menikah walau diusi terbilang sangat muda. Dari obrolang mendesak yang saya lakukan malam itu memang selama ini usaha hasil dari kerja keringatnya sendiri yang direwangi bekerja merantau ke daerah lain hanya mampu sebatas mencukupi dirinya sendiri, bahkan menurutnya bekerja hasilnya untuk senang-senang. Yang lebih menggelitik lagi katanya menjelang pernikahannya hasil dari kerja waktu itu hanya bisa tersalurkan untuk bisa ongkos balik sisanya beli hp yang harganya tak lebih dari satu jutaan. Tragis bukan.

Barangkali itu salahsatu dari misi Mad Plengen untuk segera menikah. Selain memang karena sifat manusiawi yang selalu dhinggapi oleh hawa nafsu yang kadang muncul tenggelam

Wednesday, August 29, 2018

Selamat Datang Haji


Seperti masih kemarin saya menyaksikan dan melepas jamaah haji KBIH sini. Dan bulan kamerin demikian juga sama. Dan hari ini mereka telah tiba kembali dari tanah suci dengan tentu saja segudang cerita yang patut untuk disimak. Apalagi mayoritas mereka adalah masyarakat notabene tidak pernah melakukan perjalanan jauh atau belum pernah berkunjung ke tanah suci. Banyak hal yang sekiranya saya dan kawan-kawan sowan untuk mendengarkan cerita masing-masing pengalaman selama di tanah suci.

Di tempat tinggal saya tahun ini terbilang banyak yang melaksanakan ibadah haji, dan Alhamdulillah semuanya ikut KBIH Almukaromah. Diantaranya termasuk pengajar di lembaga kami dan pengurus yayasan pesantren. Rasanya senang melihat mereka tiba dalam keadaan selamat walaupun bawa oleh-oleh batuk. Ya begitulah kalau hajinya haji tamatuk pasti akan batuk. Begitu kira-kira guyonan orang-orang selama ini menisbatkan jamaah haji yang batuk ketika tiba di kediaman masing-masing.

Memang dari pengalama yang saya amati mayoritas jamaah haji setibanya ke rumah mereka pada batuk dan pilek. Mungkin apa karena mereka mengkonsumsi makanan sembarangan atau karena mereka terkena virus dari orang lain. Pastinya dua kemungkinan itu penyebab jamaah haji berpenyakit influenza. Sulit rasanya memang menghindar dari penyakit batuk. Apalagi mereka bertemu dengan ribuan bahkan jutaan jamaah di seluruh dunia dengan penyakitnya masing-masing. Dan sulit juga untuk menghindari virus seperti influensa ini yang dengan cepat menyebar ke orang lain.

Pastinya orang yang datang tidak terlepas dari penyakit tersebut. Diantara yang saya lihat agak sedikit parah adalah bapak Suyanto yang katanya sempat dipopong untuk turun dari bus. Yang agak sedikit heran mengapa suaranya juga ikut-ikutan hilang. Makanya pas tadi pagi saya silaturrahmi ke rumahnya beliau kehilangan suaranya karena penyakit ini. Istrinya pun juga demikian sama hanya saja tidak separah pak Suyanto yang benar-benar hilang suara. Sehingga untuk bicara saja ngoyo.

Ya begitulah keadaan orang yang baru datang dari tanah suci. Pokonya membawa oleh-oleh batuk dan pilek selain tentu saja oleh-oleh berkah, doa orang ihram.

Monday, May 07, 2018

Pertemuan Alumni Di Madiun



Jika dibanding dengan alumni daerah lainnya, Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo dan sekitarnya termasuk daerah yang aktif mengadakan kegiatan pertemuan alumni. Dalam setiap tahunnya, saya sudah tiga kali menghadiri acara pertemuan alumni yang dikemas dalam acara haul pendiri pesantren Mbah Yai Chozin.

Awalnya pertemuan tahunan seperti ini hanya sebatas daerah sana saja tanpa sepengetahuan dan konfirmasi dari induk pesantren sebagai penaung dari para alumni tersebut. Pihak induk maupun pesantren sebatas mendengar kalau di daerah sana ada aktifitas pertemuan. Sehingga tidak melibatkan pengurus maupun pengasuh pesantren.

Dan pada sebuah pertemuan awal atau tepatnya tiga tahun lalu saya beserta rombongan dari induk dapat undangan untuk menghadiri acara tahunan alumni di daerah Ngawi. Dari situlah kemudian menghasilkan kesepakatan bersama bahwa pertemua alumni pesantren subulul huda persen perlu diatur lebih baik dan melibatkan semua jaringan alumni seluruhnya beserta pengurus dan pengasuh.




Selain itu poin yang paling menohok adalah dalam tiga tahun sekali pertemuan alumni seluruhnya bertempat di induk atau pesantren. Jadi dua tahun berturut-turut pihak pengurus menghadiri kegiatan alumni di daerah sementara tahun ke tiga alumni datang ke pondok untuk menghadiri acara mubes alumni sekaligus haul mbah Yai Chozin.

Sehingga dengan demikian ada nilai ikatan batin antara pesantren dan alumni, khususnya bagaimana memikirkan keterlanjutan dari pesantren sekaligus ikut andil dalam mengembangkan dan membesarkan pesantren. Sebab bagaimanapun juga alumni adalah ruh hidupnya pesantren.

Dua tahun lalu ketika saya memberikan sambutan dihadapan alumni membuat semacam tugas dan PR bagi mereka. Tugasnya sebenarnya tidak terlalu rumit. Hanya membutuhkan kemauan kuat dari pada alumni yaitu agar anak-anak alumni paling tidak ada satu atau dua dari anak mereka bisa merasakan pendidikan di pesantren Subulul Huda. Intinya mengisi pesantren yang sekarang ini bisa dikatakan telah banyak ditinggalkan generasi alumni.




Mengikuti trend pesantren lainnya malah lebih tegas lagi “wajib” hukumnya menyantrikan anak alumni ke pesantren. Dan saya lihat memang ada yang berhasil ada pula yang biasa-biasa saja. Di sini pun juga demikian selama tiga tahun saya mengikuti acara pertemuan alumni dan setiap memberikan sambutan selalu menekankan hal tersebut ternyata belum berhasil mengarahkan anak-anak alumni untuk nyantri di pondok sini.

Terakhir pertemuan kemarin di Madiun, permasalahannya kadang malah timbul dari orang tua mereka sendiri terutama dari pihak ibu yang konon tidak tega memisahkan anak untuk menuntut ilmu jauh ke Banyuwangi. Meski sebenarnya ini persoalan lumrah yang ada sejak zaman dulu, namun zaman now seperti sekarang ini mengarahkan seseorang untuk lebih protektik  mengawasi anak ketimbang mengikhlaskan anak untuk menuntut ilmu walau jauh nan disana.

Kekuatiran lainnya adalah ketika anak tidak kerasan. Orang tua pasti harus bolak-balik ke pesantren. Jarak yang jauh inilah yang bahasa jawanya awang-awangen oratua untuk mengikhlaskan anak belajar ke pesantren sini. Kasus seperti ini memang sempat terjadi empat tahun lalu ketika ada salahsatu alumni Madiun menyantrikan anaknya kesini. Dalam sebulan saja orang tua harus bolak-balik ke pesantren antara mempertahankan atau mencabut pulang. Yang pada akhirnya hanya bertahan setengah tahun setelah melewati cobaan dan mencoba-coba ternyata tetap dan menyerah pulang.

Thursday, May 03, 2018

Anak Ke Empat Saya

Alhmdulillah gak terasa anak ke empat saya ternyata sudah berumur satu bulanan. Itu pun diberitahu oleh istri saya kalau saat ini sudah berumur satu bulan. Rasanya seperti baru kemarin saja dia lahir sambil menangis di pangkuan ibunya.  Melihat dunia yang penuh dengan fatamorgana. Dengan keangkuan orang tua eh dunia dan seisinya. Kalau meminjam istilah alkitab -qur’an- manusia itu sebenarnya lahir dalam keadaan merugi. Termasuk saya dan Anda lahir tidak hanya merugi akan tetapi juga merugikan he.

Lantas tidak semuanya akan rugi. Manusia juga memiliki potensi untuk menjadi lebih baik. Meminjam istilah alquran surat alasr paling tidak ada tiga kreteria. Pertama orang beriman. Anda, saya tentu menginginkan ini tapi menjadi manusia beriman seutuhnya tidak semudah membaik telapak tangan. Butuh proses rumit yang harus dijalaninya. Malah semakin tinggi keimanan seseorang semakin besar puka cobaannya. Mungkin karena saya masih belum mampu untuk menerima ujian berat makanya saya belum bisa beriman sempurna. Walaupun mencoba kearah sana. Nabi, wali, kekasih Allah sudah kenyam digarap Allah dengan berbagai  macam cobaaan. Jadi saya dan Anda bukanlah orang satu-satunya yang akan menerima cobaan dunia.



Kedua,, beramal sholeh atau sholeh yang suka beramal. Kalau Anda punya nama Sholeh sudah seharusnya beramal. Gak perlu diingkan lagi atau puta-pura gak ingat. Ke tiga, saling menasihati satu sama lain baik berupa kesabaran maupun kebatilan.

Kembali lagi  ke anak saya, bahwa saya perlu bersyukur banyak, barangkali sebanyak dunia  seisinya. Karena baru saja tahun kemarin anak ke tiga lahir,  tahun ini sudah  diberi titipan dan tanggung jawab lagi sama pengeran untuk mendidik menjadi pejuang agama. Setelah tiga kali perempuan semua sekarang laki-laki. Dari ke empat anak saya, alhmadulillah anak pertama saya sekarang sudah berumur 6 tahun, ke dua berumur 4 tahun, ke tiga berumur satu tahun dan sekarang ini menginjakkan usia menuju dua bulan. Kata orang sepuh banyak anak banyak rizqi, tapi banyak juga yang harus disiapkan untuk nyangoni/ngangklopi.

Apalagi anak pertama saya yang bernama Ara Zahira Ramli yang kini berusia enam tahun sudah kenal dengan nominal uang. Berangkat sekolah saja kalau tidak lima ribu gak mau berangkat. Diikuti pula  anak ke dua saya Aisya Naili Arifa juga ikut-ikutan kakaknya. Serba harus sama dengan mbaknya. Mungkin orang gak tahu dikira anak saya itu kembaran. Karena putri pertama dan ke dua sekarang nyaris sama besar. Wajahnya pun juga mirip. Sama-sama cantik. Kalau pergi ke suatu tenpat orang pasti bertanya ini anak kembar ya. Dan hobinya pun juga nyaris sama atau memang adiknya ikut-ikutan kakaknya  yaitu hobi ngregeti tempat. Biasalah anak perempuan kecenderungannya dodol-dodolan atau permainan yang sifatnya feminim.

Sedangkan anak ketiga saya bernama Queen Fatima Azzahra selalu menjadi kalahan dari kakak-kakanya. Tidur, bermain sering diganggu. Sehingga anak ke tiga saya kalau tidur agak malam. Pokoknya kalau sang kakak pada tidur sudah aman untuk tidur nyenyak. Hingga kini karena sudah biasa akhirnya terbiasa tidur malam. Cuman yang ketiga ini kadangkala masih sedikit malu untuk diajak orang lain.

Sementara yang ke empat bernama muhammad Yusuf Iskandar baru saja menikmati kehidupan dunia. Dan saya lihat untuk sementara ini tidak terlalu rewel terutama di malam hari kecuali memang lapar minta susu. Akhirnya empat sudah anak saya, dimana semuanya tergolong relatif masih kecil-kecil. Butuh kesabaran untuk ngopeni. Mudah-mudahan ini menjadi amal ibadah sekaligus menjadi anak-anak sholeh sholihah. Amin

Sunday, April 15, 2018

Pernikahan


Saya merasa  senang ketika ada acara mantenan atau istilahnya jawa ngeterne manten. Bukan karena hidangan beragam menu atau karena ikut dapat baju seragam baru. Tapi lebih dari itu, semangat saya kembali berkobar. Seperti koboran api yang sedang aktif meluluhlantahkan gedung bangunan yang terbakar

Ibarat baterai hp itu  menjadi full dari tinggal 2 persen. Memang kita butuh namanya motifasi. Dari situ muncul semangat untuk kembali siap bertarung seperti sedia kala. Motifasi tak selamanya bersumber dari acara mantenan. Apapun yang dapat menggairahkan hidup semangat muda lagi. Itulah namanya motifasi.

Doa iftitah sebelum ngiring manten gus ayus


Nah mantenan bagi saya menyulut konsentrasi sangat besar mengalahkan lainyya. Karena mengingatkan saya akan pertama kali melangsungkan acara seperti ini

Di desa saya, orang yang sedang nyambut gae mantenan selalu ramai bahkan hampir ngalahin ramainya pertandingan sepak bola atau tanggapan dangdutan. Selama satu minggu tetangga desa yang dipasrahi rewang sudah menyibukkan diri walau sebenarnya kadang gak ada penggawaian, yang penting bagi orang desa pokoknya nampak dan pokonya dapat sesuatu.

Prosesi ijab kabul


Kalau saya pikir pikir kadang antara perewang dan tamu undangan tak jauh beda dilihar dari segi banyaknya. Kadang malah sebaliknya jumlah rewang melebihi jumlah undangan. Ini bikin kasian tuan rumah karena harus menanggung konsumsi para perewang.

Seiring perjalanan waktu yang kian berkembang dan modern. Masyarakat desa sebagian kecil sekarang ikut-ikutan tradisi perkotaan. Yah itung itung biar dianggep wong kuto tapi aslinya rejeki deso. Jadi tradisi seperti ini kalau ada penggawean gak perlu butuhin banyak orang, seperti sulapan tiba-tiba hari itu banyak orang berdatangan. Semua jenis makanan dan minuman dll biasanya telah dipesan bahkan kadang sudah satu paket dengan tarup? Dll.



Kalau sudah menemukan acara seperti ini biasanya terjadi bisik-bisik tetangga. Satu kampung pada ngrasani sana-sini sambil nyinyirkan lambe turah “tidak ada mendung kok tiba-tiba hujan yah”. Begitulah kalau tradisi rewang kemudian berubah menjadi sesuatu yang instan.

Nah kemarin di Berasan  ada tiga gawe mantenan yang waktunya hanya selang hari bahkan selang jam saja. Pertama Gus Ayus putra Yai Nur Muhammad Iskandar Jakarta. Kedua, putri nyai Afif. Ke tiga, Gus Mamad putra Yai Maksum Nur bersamaan pula dengan acara haul mbah yai Kandar.

Saya gak tau adakah para perewang yang remek badannya. Saya juga belum dapat slentingan ada peladen yang keju linu karena nyuguhi tamu undangan. Tapi saya denger katanya minggu ini banyak becean.

Kalau mengutip gus Faruq bulan ini bulan baik karena berbarengan dengan peringatan maulid nabi. Mungkin berbeda bagi petani dimana bulan ini bulan sibuk menanam padi. Maklum saja bulan ini bulan sibuk dan repot. Sibuk kondangan dan repot becean..




Thursday, March 08, 2018

Paska Operasi Anakku

Sudah satu tahun ini anakku yang ke tiga melakukan perawatan di Surabaya. Selama itu sudah dua kali operasi yang dijalaninya. Pertama tiga bulan setelah lahiran. Ke dua, bulan Januari kemarin. Surprise rasaya melihat perkembangannya yang semakin membaik dan semakin cantik. Begitu besar kuasa Allah pada manusia yang mampu merubah segalanya pada manusia yang serba kekurangan ini.



Masih segar dalam ingatan satu tahun lalu, hati ini terasa sok dan lemas ketika dokter kandungan memfonis anakku yang ketiga lahir dalam keadaan cacat atau istilah umumnya bibir sumbing. Tidak ada tanda-tanda anakku akan lahir seperti ini. Tapi tuhan berkehendak lain dan mungkin juga ini terbaik bagi keluargaku untuk selalu bersabar atas kondisi yang menimpa anak ketigaku.

Hari berlalu dan cobaan awal masa kelahiran pun datang menghantui istriku terutama bagaimana cara menyusui dengan baik dan benar. Dari dokter, bidan dan orang-orang yang anaknya bernasib sama telah mengajari. Tapi belum cukup memberikan solusi karena masih saja rewel, khususnya pada malam hari dan itu terus menerus hingga proses



operasi pertama dijalani. Aku menduga anakku kekurangan usapan susu yang mestinya bagi seumuran bayi baru lahir membutuhkan nutrisi dari ibu lebih banyak.

Nutrisi yang berupa air susu ibu kurang maksimal, tidak bisa masuk dalam kondisi anakku yang bibirnya sumbing disertai langit-langitnya. Demikian pula dengan cara lain seperti dot khusus bibir sumbing juga tidak bisa mengatasi rewel pada malam hari.

Kemudian ganti pipet supaya mempermudah dalam meminum air susu, pun agar susunya tidak masuk ke rongga langit-langit kuatir manti kesedak. Pipet juga belum mengatasi dan bahkan menurut dokter tidak dibenarkan menggunakan pipet karena membatasi usapan yang hanya melalui tetes. 

Alhmdulillah setelah operasi pertama berupa bibirnya yang dijalani pada awal april tahun lalu, kondisi anakku tidak serewel sebelum operasi. Pada malam hari Queen Fatima Azzahra demikian nama anakku, bisa tidur lebih baik dari sebelumnya.

setelah operasi pertama di rumah sakit primer surabaya
Tapi kadang juga masih sedikit rewel, maklum baru operasi dimana butuh perawatan terutama daerah bibir yang masih nampak jelas jahitan bekas operasinya. Dan alhmdulillah pula bibir yang tadinya berlubang kini telah tertutup rapat menyerupai bibir manusia pada umumnya walau tidak sesempurna orang lahir normal pada umumnya. 

Kemudian bulan Januari kemarin anakku kembali menjalani operasi ke dua di rumah sakit yang sama. Kali ini menyempurnakan langit-langit yang masih berlubang. Alhmdulillah berjalan lancar tanpa hambatan. Walaupun jika dibandingkan dengan operasi pertama, yang ke dua ini terbilang agak berat karena menyangkut operasi dalam terutama di daerah rongga tenggorokan.
kondisi setelah operasi kedua di rs primer surabaya
Tentu rasa syukur terima kasih kupanjatkan pada Tuhan sang maha pencipta. Dimana masih ada kesempatan buat anakku untuk menjadi manusia pada umumnya layaknya manusia lain.

Dalam masa paska operasi pertama aku dan istriku di Surabaya sekitar dua mingguan lebih. Banyak hal yang harus aku sampaikan terutam ucapan terima kasih kepada keluarga mas Waris dan Mbak O’ot yang telah memberikan penginapan dan jamuan harian kepada kami. Karena di tempat itulah aku, istri dan anakku menginap dan makan disitu.

Sekarang sudah sekian kali anakku kontrol di rumah sakit. Dari mingguan, satu bulanan hingga beberapa bulan mungkin ada 10 lebih kontrol wora-wiri ke Surabaya. Dan alhamdulilah bisa berjalan normal, wajah dah normal dan lain-lainnya.

Thursday, April 06, 2017

Sabar dan Ihlas 2

Kadangkala kita terbawa oleh pola pikir dan keyakinan orang-orang turots yang selalu mengkaitkan sebuah kejadian dengan sesuatu, kadangpula kita skiptis dan bertolak belakang dengan teori-teori itu, lalu  berpikir secara realistis dan kekinian dengan segudang wawasan tehnologinya.

Wednesday, April 05, 2017

Sabar dan Ihlas

Siapa yang tidak ingin memiliki sesuatu sempurna. Siapa yang menolak jika dapat sesuatu yang menggembirakan? Setiap orang pasti ingin sempurna bahkan sesempurnanya nabi kita yang sudah maksum atau seputihnya malaikat yang tak memiliki dosa. Tapi apa daya manusia hanyalah ciptaan tuhan, manusia adalah mahluq yang ketergantungan satu sama lain.