Thursday, March 24, 2016

Petani

Setiap kali terjadi obrolan relatif ringan dengan masyarakat bulan lalu, pasti yang ditanya; mengapa musim hujan tak kunjung tiba. padahal ini bulan hujan. Pertanyaan ini menjadi harapan dari masyarakat sini yang mayoritas petani sawah yang butuh segera padinya digenangi air. Maklum hingga kemarin daerah saya memang jarang hujan. Itu berbeda dengan daerah tetangga yang saya lihat kerap hujan walau juga tidak sering dan relatif biasa-biasa saja.

Seretnya air ke depan pasti akan mempengaruhi tingkat kesuburan padi dan  juga hasilnya. Apalagi saya melihat banyak padi di sawah yang sudah mulai ambruk karena kekeringan, termasuk banyak padi yang mulai kopong karena kurang serapan air. Persoalan ini ke depan banyak petani yang gagal panen. Lantas penghasilanpun akan mempengaruhinya.


Saya juga mendengar ada diantaranya sedikit stress,  dan mengeluh. Mungkin ada banyak harapan tapi tak sesuai dengan kenyataan. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Saya kira masyarakat perlu merenungkan mengapa hujan sangat jarang turun di desa kami. Tuhankah? Atau masyarakatkah yang kurang bersyukur?.

Dalam pertemuan dengan beberapa elemen masyakarat sini kemarin bahwa ternyata sudah dua tahun proses penarikan zakat yang biasanya dikelola oleh PHBI (pengurus/panitia hari besar islam) tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga mungkin saja petani yang kurang sadar dan sudah berkewajiban membayar zakat zuru' tidak menjalankan undang-undang agama.  

PHBI sejak dulu menyadarkan orang untuk membayar zakat. Penarikan gabah/padi setiap panen pengurus berkeliling dari rumah-kerumah untuk setor hasil tani yang sebelum penarikan tentu diadakan sosialisasi dari jamaah ke jamaah lain. Cuman dua tahun belakarang pengurus baru belum menjalakan tradisi itu.

Oleh karena itu, dalam pertemuan kemarin yang dihadiri masyakarat sini sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan segara bergerak menarik zakat kepada para petani. Pertemuan itu juga dibacakan sebuah kitab yang intinya akibat orang/masyarakat yang tidak membayar zakat salahsatunya akan disulitkan air hujan turun.

Mudah-mudahan  bergeraknya PHBI dalam menarik zakat  ke masyarakat bisa membawa berkah teruma dipermudah turunnya  air hujan. Amin.


Sunday, December 27, 2015

Selamat Menikah

Kalau tak salah hari ini kawan saya dari Gresik Jih Imam Wahyuddin begitu saya menyapanya melangsungkan pernikahan yang pertama kali dan mudah-mudahan juga terakhir hingga akhir hayat. Sedih rasanya tidak bisa ikut serta acara akbar itu. Karena minggu lalu saya sempat menyanggupi bisa hadir disana ketika dia mengabari saya soal ini dan berusaha ikut andil atas kebahagian mereka berdua. Tapi takdir mencatat lain bahwa hari ini saya belum bisa bersilaturrahmi.

Mengenal jih Imam maka tak bisa saya lepaskan dari intelektualitasnya. Sejak dulu ketika sama-sama masih di pesantren bakat menulis serta kemampuan membaca yang tekun telah menginspirasi saya untuk membaca dan berdiskusi.  Idiologi ini terus terbawa hingga akhirnya sama-sama melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Walaupun pada akhirnya di sana beda jalan. Tapi semangat itu sebenarnya masih menyatu yaitu soal keakraban, kebersamaan dan saling memberi masukan. Bahkan  ihram pun juga bersama-sama.


Ada satu hal pesan dia yang belum saya lupakan sampai sekarang “Jih kamu harus selesai, dan pulang kampung tahun ini”. Testimoni ini disampaikan ketika berada di Madinah sebelum berpisah meninggalkan tanah haramain.

Dari kebersamaan itu hanya satu yang terlewatkan dan tidak kompak, soal nikah. Jih Imam menurut saya sedikit terlambat dari kawan-kawan lain yang sudah mendahului bertahun-tahun termasuk saya hingga memiliki karya momongan masing-masing. Walaupun sebenarnya kata terlambat bukan inti dari label nikah daripada tidak sama sekali. Intinya sebenarnya kenikmatan. Bedanya Jih Imam baru dan akan menikmati “rasanya”, sementara kawan lain termasuk saya sudah menikmati “rasanya” berkali-kali. Mungkin saja Jih Imam nanti malam atau lusa dalam lubuk hantinya akan merasa menyesal “kenapa kok tidak sejak dulu..!”.

Selamat menikah jih..semoga barakah dan manfaat. Amien





Monday, April 06, 2015

Dangdut dan Danang

Saya tidak begitu suka lagu dangdut. Bukan berarti nihil. Hanya penikmat musik apapun jenisnya. Yang terpenting sesuai dengan kondisi dan enak didengar. Itu saja. Selebihnya tergantung pasar, apa saat itu yang sedang lagi on, dan enak di telinga plus sesuai hati.

Berbicara masalah musik dangdut sekarang ini menurut saya  tidak bisa dilepaskan dengan hal-hal ngremix, goyang "ngebor" atau dangdut koplo. Jarang atau bahkan saya belum mendengar pelantun atau kreasi baru yang tercipta musik dangdut dengan irama melayu. Rata-rata pemusik dangdut sekarang mengkelaborasikan dari musik tempo dulu yang kemudian diarasemen ulang dengan aliran-aliran remix, ngebor atau dangdut koplo.

Toh kalaupun ada, dangdut sekarang lebih cenderung berirama koplo yang mengadung unsur dewasa yang tidak patut dikonsumsi oleh anak-anak. Ada banyak lagu dangdut sekarang menjual molekan tubuh, ketimbang kualitas lagu. Lirik lagu yang miris dan sensualitas. Dan masih banyak yang patut diawasi dari anak-anak.

Mungkin itu sudah zamannya. Kalau tidak begitu tidak akan terkenal dan laku. Pangsa pasar industri musik yang kian bersaing ketat mungkin saja ini merupakan era dimana musik dangdut harus dimodernkan kalau tidak mau dangdut hanya tinggal kenangan. Dan itu terbukti. Sejak nama Inul Daratista menjadi buah bibir berkat goyang ngebornya, industri musik dangdut yang sempat mengalami "mati suri" merangkak ke papan atas bersaing dengan musik anak muda (pop). Dangdut kembali hidup, job manggung di stasiun televisi swasta yang dulu banyak mengharamkannya kian moncer. 


Cuman transformasi dari sebutan "musik ndeso" ke modern sudah keluar dari khittah dangdut. Sehingga kesan saya dangdut tidak lagi menjadi musik yang mengandung inspirasi seperti lagu-lagu ciptaan Roma Irama dll. Intinya dangdut sekarang menurut saya tidak kreatif, isinya hanya -kebanyakan- arasemen ulang dari musik tempo dulu.

Saya kuatir lagu-lagu dangdut yang lirik syairnya mengarah ke dewasa menjadi konsumsi anak-anak yang belum cukup umur. Anak saya saja yang masih berusia dua tahun lebih empat bulan sudah bisa mendeteksi dan hafal lagu goyang dumang walaupun gak jelas bahasanya. Entah siapa yang mengajarinya.

Atau mungkin saja ini juga faktor Dangdut Academi Indosiar yang sekarang menjadi buah bibir desa saya karena ada satu warganya yang hingga sekarang belum tersenggol/tereleminasi. Iya Danang saat ini bisa dikatakan menjadi tulang punggung perwakilan Akademi Dangdut Indosiar yang berasal dari Banyuwangi.

Saya sendiri tidak pernah melihat acaranya secara utuh. Hanya mendengar dari warga yang selalu ngrumpi soal Danang. Dari tukang tambal ban hingga pejaga toko mereka sering saya pergoki berdiskusi masalah Danang. Dan berapologi hingga serius soal Danang. Dari seringnya mereka ngobrol itu lalu saya semakin penasaran dengan sosok Danang beserta acaranya yang tayang di Indosiar itu.

Ternyata Danang yang tampil di Akademi Dangut itu pernah tampil menghibur di lembaga kami mengisi acara temu alumi madrasah. Posisi waktu itu katanya dia sudah pernah mengikuti kontes dangdut di Tpi dan masuk sepuluh besar?. Dan saya mendengar sekarang sudah ketiga kalinya dia mengikuti ajang serupa. Dan mudah-mudahan saja kali ini dia bisa lolos dan menjadi juara. Tentu ini juga akan mengharumkan nama Banyuwangi. Keyakinan saya insya allah juara.

Pertimbangannya, pertama tentu melihat dukungan publik Banyuwangi yang begitu besar. Sebab Danang sekarang bukan Danang kemarin yang mengikuti ajang serupa seolah waktu itu dia hanya seorang diri alias minim dukungan dari daerahnya. Sekarang? Dari instasi pemerintahan, lembaga swasta, masyarakat, saya amati totalitas dalam mendukung Danang. Dan uniknya juga banyak baliho besar berdiri gagah di beberapa ruas jalan yang berisi dukungan penuh ke Danang. Kedua beberapa dewan juri juga menunjukkan sinyalnya dalam mendukung Danang. Jangan dilupakan pula beberapa artis dangdut ibukota yang berasal dari Banyuwangi ikut hadir di studio dan memberikan dukungan.  Semoga.